Pemerintah jadi muter-muter gini, mencari pembunuh Munir...


Kasus Pembunuhan Munir 
Munir dibunuh Mafia (Ambon)?
- Redaksi Berpolitik.com 
 
Ongen Latuihamallo  
 
(Berpolitik.com):: Polisi menemukan bukti baru (novum) terkait dengan 
pembunuhan aktivis HAM Munir. Dalam novum tersebut, kuat dugaan Munir diracun 
saat transit di Bandara Changi, Singapura. Beberapa saksi menyatakan, saat 
transit selama 30 menit, Munir berbicara serius dengan dua pria yang belakangan 
diketahui sebagai Pollycarpus Budihari Priyanto dan Ongen Latuihamallo. 
Siapakah pria bernama Ongen? Adakah kaitan Ongen dengan jaringan narkotika 
Jakarta - Amsterdam? Dan apa hubungan Ongen dengan jaringan mafia (Ambon)?

Yang pasti, nama Ongen Latuihamallo tidak serta merta muncul. Dia sudah jadi 
pergunjingan sejak awal penyidikan polisi. Satu persatu saksi yang ikut dalam 
penerbangan Garuda GA 974 bahkan kerap menyebut sosok misterius berambut 
gondrong, yang punya kegemaran meletakkan kacamata di atas kepala.

Saat penyidikan awal, Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Markas Besar 
(Mabes) Kepolisian RI bekerjasama dengan Singapore Investigation Department of 
Crime memeriksa rekaman CCTV (circuit control television) di Bandara Changi, 
Singapura. Kerja keduanya pun berbuah hasil. Jejak Ongen mulai teridentifikasi. 
Ciri yang paling mudah dikenali yakni rambutnya yang panjang sebahu, kulit 
putih bersih dengan perawakan tinggi besar, dus, kumis melintang kokoh. 

Dialah Ongen Latuihamallo, lelaki berumur 45 tahun, yang diduga kuat sebagai 
orang terakhir yang bertutur dengan Munir saat pesawat Garuda GA 974 menjelang 
take off dari Changi menuju Amsterdam, pada malam nahas 7 September 2004. 
Menurut seorang saksi, ''Ongen terlibat pembicaraan serius dengan Munir, sesaat 
sebelum pesawat lepas landas menuju Amsterdam, Belanda.'' 

Preman Politik

Usut punya usut, Ongen punya banyak nama samaran, tergantung dia berkenalan 
dengan siapa, atau pada komunitas mana. Sumber Berpolitik yang kerap 
bersinggungan dengannya, ketika memberi bantuan uang Rp 50 juta di Masjid Al 
Falla Waehaong Ambon, umpamanya, Ongen mengaku sebagai Anton. Ongen pun kerap 
berubah nama lain seperti Raymond atau Johan, layaknya agen intelijen ataupun 
tokoh mafia yang tengah melakukan aktivitas undercover.

Lihat kejadian lucu ketika dia menyapa Suciwati, istri almarhum Munir saat 
transit di Bandara Changi menuju Amerika guna menghadiri event internasional 
pada Juni 2005. Ceritanya, saat itu Suciwati disapa lelaki bertubuh tinggi 
besar dan berkulit putih, yang memperkenalkan diri sebagai Johan, orang 
Indonesia yang tinggal di Belanda. Sebelum pesawat take off, Ongen menyerahkan 
secarik kertas bertuliskan nama, alamat email, dan nomor teleponnya kepada 
Suciwati.

''Kalau perlu bantuan, hubungi saya saja. Mungkin saya bisa bantu,'' tutur 
Ongen seperti ditirukan Suciwati. Ketika Ongen berlalu, istri Munir itu melihat 
kertas yang tadi diserahkan. Rasa heran bercampur bingung sontak hinggap di 
benak Suci. 

Pasalnya, nama pada kertas tersebut bertuliskan 'Anton Saija'. Tidak hanya itu, 
saksi lain berinisial SA yang juga ikut dalam penerbangan bersama Munir, bahkan 
mengaku telah diperkenalkan kepada Ongen oleh lelaki yang duduk disamping SA, 
yakni Josep Ririmase. Kata Josep, pria berambut panjang itu ''preman politik'' 
yang tahu banyak seluk-beluk dunia politik.

Pertanyaannya sekarang, apakah pertemuan antara Ongen dan Suciwati menjelang 
keberangkatannya ke Amerika di Bandara Changi hanya kebetulan belaka? Nampaknya 
tidak. Sumber Berpolitik di Mabes Polri yakin, sosok Ongen bukan pria biasa 
pada umumnya. 

Artinya, saat itu Ongen diyakini tengah melakukan elisiting atau teknik 
menguntit target. Apakah Ongen seorang agen intelijen? ''Belum tentu. Sebab, 
teknik elisiting bisa juga dijalankan oleh jaringan mafia,'' urai sumber tadi.

Tapi fakta bahwa pada bulan Juni 2005 aparat berwenang tengah gencar mengurusi 
kematian Munir, juga perlu dicermati. Jika kita tarik kebelakang ingatan kita, 
pada 16 Juni 2005, bekas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Makhmud 
Hendropriyono diminta datang memenuhi panggilan Tim Pencari Fakta (TPF). Dan 
Hendro ketika itu dengan tegas menolak panggilan TPF, untuk ketiga kalinya.

Anehnya, tim penyidik Polri mengaku sudah memeriksa Hendro pada keesokan 
harinya, meski diakui pemeriksaan dilakukan diam-diam. Dan pada 23 Juni, aparat 
menggelar rekonstruksi kasus kematian Munir. Terlepas dari apakah Ongen sebagai 
agen intelijen atau bagian dari jaringan mafia, dari situlah keganjilan muncul. 

Sebab, tatkala misteri kematian Munir sedang giat diproses, Ongen dan ''tim'' 
terlihat ingin melakukan intervensi lebih jauh terhadap mereka yang terkait 
penyelidikan. Sejatinya terhadap Suciwati, anggota TPF, tim investigasi 
Kontras, dan sejumlah tokoh yang dianggap bisa ''merepotkan''. Sehingga 
peristiwa yang nampak seperti kebetulan, diyakini sebagai bagian dari operasi 
klandestin tersebut.

Jaringan mafia ekstasi Jakarta - Amsterdam

Ketika coba melacak jejaknya, sumber Berpolitik.com di Amsterdam yakin, Ongen 
Latuihamallo masuk dalam jaringan penyuplai ekstasi untuk titik Amsterdam - 
Singapura - Jakarta - Surabaya - Kuta (Bali) - Ambon - Makassar. ''Dalam geng 
Ambon, beta kira posisi Ongen sebagai kurir. Karena banyak orang sangka dia itu 
penyanyi rohani. Jadi tidak mungkin polisi percaya kalau dia anggota geng. 
Sejak konflik Ambon, banyak orang Ambon yang cari kepeng (uang.red) bantuan 
untuk korban konflik. Lama-lama dorang (mereka.red) tertarik untuk bergabung 
deng geng mafia narkodolar Ambon di sini (Belanda.red),'' katanya menjelaskan. 

Sumber tadi pun dengan lugas membeberkan. Geng mafia Ambon di Belanda adalah 
simpul terkuat dalam jejaring mafia narkoba di Eropa. Makanya banyak pemuda 
Maluku bergabung menjadi anggota geng narkoba sejak konflik Ambon pada tahun 
1999.

Masih kata sumber tadi, di Belanda, banyak desersi militer dan polisi asal 
Ambon bergabung sejak konflik Ambon pecah. ''Di Jakarta katong (kita.red) deng 
Cina Papua, kuasai 50 persen pasar narkoba. Polisi su banyak tahu ini jaringan. 
Makanya kurir Amsterdam - Jakarta harus kita tukar deng pemuda Maluku yang 
namanya babunyi (terkenal.red). Supaya bisa kecoh polisi Amsterdam, Singapura 
deng Jakarta,'' urainya. 

Anggota geng kurir Ambon memperoleh bagian bukan dari hasil penjualan ekstasi. 
Melainkan dari persenan setelah dia berhasil membawa masuk tablet haram ke 
negara tujuan. Jaringan desersi militer dan polisi asal Ambon yang akan jadi 
beking di Jakarta. ''Su banyak anak-anak coker (geng preman Ambon.red) dulu 
juga gabung deng mafia di sini, toh. Tapi, sejak mereka ditangkap di Maluku dan 
mereka mengaku dibina oleh intelijen Indonesia, banyak anggota geng Ambon di 
Belanda seng (tidak.red) suka deng mereka. Sekarang dorang pulang jadi bandar 
di Ambon. Kita bikin markas di Hotel Grand Soya Ambon,'' ujar sumber yang sejak 
konflik Ambon tinggal di Belanda. 

Nah, masih menurut sumber tadi, sebagai seorang caraka (kurir.red), Ongen 
Latuihamallo memang sering bolak-balik Jakarta - Singapura - Amsterdam. Bila 
sedang di Jakarta, Ongen kerap kongkow dengan koleganya di Sheraton Hotel 
Bandara. 

''Itu hotel transit mafia ambon sering kumpul, koordinasi tunggu pesawat, dan 
barang yang tiba dari Amsterdam. Bukan di Plasa-plasa seperti diberitakan media 
Jakarta. Sedangkan di Ambon dia (Ongen.red) sering nongkrong di Hotel Grand 
Soya dan Hotel Mutiara. Coba ose cek tempat itu,'' katanya.

Di luar itu, saat Berpolitik coba menelusuri jejak Ongen di kalangan musisi 
asal Maluku di Jakarta, mereka mengaku kenal dengan Ongen, yang terbiasa 
menyuplai ekstasi bagi para musisi dan beberapa bandar narkoba tempat hiburan 
di Jakarta. Tapi dari sumber Berpolitik di komunitas Ambon di Jakarta, paman 
dari Glenn Fredly Latuihamallo ini dikenal sebagai penagih utang atau debt 
collector dari bandar-bandar narkoba.

Ongen, penyanyi lagu rohani

Benarkah Ongen terlibat dengan pembunuhan aktivis Munir dan jaringan mafia? 
Salah satu teman dekat Ongen di Jakarta, Butje, dengan tegas membantah tuduhan 
menyakitkan itu. Karena kesehariannya, Ongen dikenal sebagai penyanyi pop 
bernafas rohani. 

''Ongen pada prinsipinya orang baik, ia lebih tujuh tahun belakangan ini sudah 
berkecimpung pada bidang kerohanian. Setahu saya beliau banyak bergaul dan 
berteman,'' katanya. 

Itulah yang membuat Butje tidak yakin jika Ogen sebagai otak pembunuhan Munir. 
Menurutnya, kalau semata-mata karena Ongen pernah bertemu dengan Munir di 
bandara Changi sebelum mangkat, dirasa Butje sebagai alasan tidak masuk akal. 
''Siapapun di Indonesia kenal Munir, dan ingin berkenalan dengannya,'' 
kesalnya. Ia bahkan mengenal Ongen sebagai pria yang eerlijk (jujur.red).

Makanya dia menyayangkan tuduhan keterlibatan Ongen dalam jaringan ekstasi 
Jakarta - Amsterdam. Katanya, perjalanan Ongen dari Jakarta ke Amsterdam tak 
lebih sebagai bagian dari pelayanan rohani. ''Di sini ia menyanyi buat dunia, 
tapi juga menyanyi di gereja-gereja untuk puji Tuhan. Tapi kenapa dia begitu 
juga, ya beta seng tahu. Dia tidak tahu minum rokok, dia tidak tahu apa-apa 
kok!,'' pria lain yang wanti-wanti agar namanya tak disebut.

Menurutnya, Ongen pernah bercerita bahwa ia memang bertemu dengan Munir saat 
menuju Amsterdam, pada September 2004. Setelah ia mendengar Munir meninggal 
dunia, Ongen tampak khawatir. Saat itu kawan-kawannya berusaha menenangkan 
Ongen. ''Ndak usah khawatir. Memang ia (Munir. Red) sakit,'' katanya coba 
meniru percakapan yang terjadi pada tahun 2004. "Dia takutlah!" kata pria tadi 
seperti dikutip Radio Nederlands.

Lantas dimanakah keberadaan Ongen saat ini? Yang pasti, saat ini Ongen sudah di 
tangan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri, walaupun statusnya masih 
sebagai saksi. ''Dalam waktu dekat, dia akan diperiksa terkait dengan kematian 
Munir. Tapi saya belum tahu jadwal tepatnya,'' ujar Kadispenum Polri Kombes 
Bambang Kuncoko kepada wartawan di Mabes Polri, Kamis (19/04).

Yang pasti, sumber Berpolitik mensinyalir, pada Sabtu (21/04) lalu Ongen baru 
kembali dari TKP di Bandara Changi, Singapura, untuk didengar kesaksiannya soal 
apa saja yang diperbuat selama di Singapura, dan dugaan keterlibatan Ongen 
dengan kematian Munir.

Pernyataan itu kemudian dibenarkan sumber lainnya. Setelah diserahkan pihak 
gereja, Ongen dibawa petugas ke Polsek Cengkareng. Tapi sebelum ditangkap, pada 
15 dan 16 April, Ongen Latuihamallo sempat ikut konser di sebuah acara pasar 
malam di kota Leek, Belanda. Artinya, Kalau benar Ongen sudah di tangan pihak 
kepolisian, penyerahan atau penangkapan itu dilakukan setelah tiba di Jakarta. 
(*)  
Komentar Terkini:  

korelasinya dimana?

Masih ada beberapa hal yang belum jelas. Apa kepentingan Ongen dengan membunuh 
Munir? Dalam hal ini, Ongen bisa diposisikan hanya sebagai operator. Yang harus 
dilacak kan siapa yang menyuruh Ongen. Greget Munir selama ini sudah dikenal 
publik sangat menggelisahkan TNI berkaitan dengan sejumlah aksi penculikan dan 
kekerasan sistematis oleh militer. Jadi korelasi Ongen dan Munir dimana dalam 
konteks aktivitas Munir semasa hidupnya? Jangan-jangan ini cuma upaya 
mengalihkan persoalan saja. Ataukah TNI juga turut ambil untung dalam bisnis 
narkoba dan pernah menjadi sasaran tembak kritik Munir, dan karena itu Munir 
harus dilenyapkan?


Diposting oleh: steve ([EMAIL PROTECTED]) | Rabu, Apr 25, 2007 17:38 
 
 
Publik pingin tau jaringan MAFIA AMBON

Tulisan di atas membuat orang penasaran. Selama ini yang publik ketahui tentang 
preman ambon hanyalah sebagai kelompok preman biasa atau semacam gengster yang 
tidak memiliki organisasi dan jaringan yang rapi. Mereka adalah kelompok diluar 
sistem negara yang terkadang ikut dilibatkan dalam celah-celah politik yang 
melibatkan kekerasan sebagai instrumen pendobrak. Dalam skala kecil, di jakarta 
misalnya, orang mengenal preman ambon sebagai tukang jaga tanah, tukang tagih 
(debtcollector), bodyguard untuk beberapa cukong dan security dibeberapa tempat 
hiburan. Namun istilah MAFIA Ambon adalah sebuah istilah yang cukup baru buat 
publik, dengan kata lain preman ambon telah naik kelas dan punya istilah baru 
yang lumayan keren dan menakutkan bagi masyarakat kebanyakan. Untuk itu 
sebaiknya tulisan ini perlu memberikan deskripsi yang cukup terkait Jaringan 
MAFIA Ambon. Karena setiap pembaca akan bertanya-tanya seperti apa jaringan 
mafia ambon itu. Apakah seperti layaknya jaringan MAFIA atau KARTEL yang begitu 
rapi, intelek dan terorgansir. 

Thanks


Diposting oleh: jailani ([EMAIL PROTECTED]) | Selasa, Apr 24, 2007 20:48 
 
 
 

Klik link dibawah ini

http://www.berpolitik.com/news.pl?t=1&n_id=4070&c_id=3&g_id=27

Kirim email ke