SUARA MERDEKA
Sabtu, 28 April 2007

Mencermati Kehadiran Israel di Bali
  a.. Oleh Tedi Kholiludin 
JIKA tidak ada aral melintang, puluhan anggota parlemen dunia akan mengadakan 
pertemuan internasional (Inter-Parliamentary Union/IPU) di Hotel Bali 
International Convention Center (BICC) Nusa Dua, Kabupaten Badung, 29 April-2 
Mei 2007.

Pilihan Bali sebagai tuan rumah pelaksanaan IPU, menurut Sekjen DPR, Faisal 
Jamal, didasarkan kepada dua pertimbangan, yakni secara politis dan ekonomi. 
Secara politis, penyelenggaraan IPU akan mampu meningkatkan citra pemerintah 
Indonesia di dunia internasional, bahwa Indonesia pantas dan siap menjadi tuan 
rumah event internasional. Adapun menyangkut ekonomi, kegiatan bertaraf 
internasional senantiasa akan memberi keuntungan dan membantu perekonomian 
masyarakat Bali. 

Jumlah delegasi yang akan hadir di Bali mencapai 1.500 peserta, berasal dari 
148 negara. Acara itu, direncanakan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono pada 29 April besok.

Banyak hal yang diagendakan dalam petemuan tersebut. Di antaranya di 
tengah-tengah pertemuan pada 1 Mei nanti, 30 anggota parlemen dari ratusan 
peserta akan ke Lombok untuk menyaksikan dari dekat kondisi penanganan 
kekerasan terhadap anak-anak.

Dengan bahan itulah, para anggota parlemen dunia tersebut akan menjadikannya 
sebagai isu yang patut masuk dalam perdebatan pembahasan. Implikasi positif 
yang ditimbulkan sangatlah besar. Hal tersebut akan sangat memengaruhi 
perhatian dunia internasional, bahwa permasalahan kekerasan terhadap anak di 
dunia perlu mendapatkan perhatian serius. Namun, belum juga pertemuan digelar, 
pro-kontra sudah mulai bermunculan. Hal itu bermula ketika wakil parlemen 
negara Israel juga diundang dalam pertemuan tersebut. Hal itu sontak 
menimbulkan pro dan kontra.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin menyatakan, Muhammadiyah secara tegas 
menolak rencana kedatangan wakil parlemen Israel. Penolakan itu dilakukan 
karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomasi dengan negara Yahudi 
tersebut. Walaupun Indonesia hanya sebagai tuan rumah dan bukan pengundang, 
namun seharusnya pemerintah Indonesia dan DPR menolak rencana kedatangan utusan 
parlemen negeri zionis itu.

Melecehkan Pergaulan

Anggota Kaukus Parlemen untuk Palestina, Al Muzammil Yusuf menyerukan hal 
serupa. Ia menilai, selama ini sikap parlemen Israel telah melecehkan tata 
pergaulan internasional dan melecehkan keberadaan IPU sebagai wadah terhormat 
parlemen dunia. Sikap pelecehan tersebut harus dibalas dengan pelecehan yang 
setimpal (Suara Karya, 19 April 2007).

Pernyataan berbeda diungkapkan oleh salah satu ketua Pengurus Besar Nahdlatul 
Ulama (PBNU), Said Agil Siradj. NU, kata Said, tetap menyambut baik kedatangan 
parlemen Israel. Menurut Said, NU akan mendukung siapa pun yang mempunyai 
iktikad baik membantu proses perdamaian di Timur Tengah, termasuk rencana 
kedatangan parlemen Israel di Bali.

Panitia penyelenggara hajatan tersebut adalah parlemen dunia. Itu tentu akan 
membuat kesulitan DPR RI untuk menolak Israel. Kalaupun akan tetap melancarkan 
penolakan, maka harus ada reasoning yang tepat sebagai argumentasinya. Hal itu 
yang akan membuat wakil parlemen dari negara-negara lain menerima keberatan 
Indonesia saat menolak Israel. 

Jika Israel tetap bersikukuh untuk hadir dalam pertemuan itu, parlemen dunia 
seharusnya bisa menekan negara itu soal pembebasan ketua dan anggota Parlemen 
Palestina yang saat ini masih ditahan. Israel harus membebaskan pimpinan 
Parlemen Palestina yang diculik, yaitu Abdul Aziz Dweik, beserta 28 anggotanya. 
Israel juga harus melepaskan 11 mantan menteri dan pejabat Palestina yang 
ditahan lebih dari setahun oleh negara tersebut.

Syarat itulah, yang harus dipenuhi oleh Israel. Jika tidak, Indonesia bisa 
meyakinkan kepada parlemen dunia bahwa Israel tidak memiliki komitmen untuk 
menciptakan perdamaian dunia. Indonesia, sebagai tuan rumah, tentu memiliki 
kapasitas untuk menyuarakan hal itu. Bagi bangsa Indonesia, konflik 
Israel-Palestina tentu cukup menyita perhatian. Harapannya, konflik tersebut 
bisa segera diselesaikan dengan menghadirkan win-win solution bagi keduanya.

Sikap Israel yang keras kepala, tentu akan semakin membuat panjang kebencian 
negara-negara dunia. Pembebasan tahanan anggota Parlemen Palestina akan menjadi 
salah satu jalan keluar untuk menunjukkan komitmen Israel.

Dengan begitu, kehadiran Israel benar-benar dilatarbelakangi oleh keinginannya 
untuk menciptakan perdamaian mondial. Semoga saja.(68)

--- Tedi Kholiludin, aktif di Lembaga Studi Sosial dan Agama (El

Kirim email ke