Refleksi:   "Anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30 persen dari 
materi bacaan".  Apakah perlu dikuatirkan jika kondisinya demikian? Bukankah 
yang dibutuhkan ialah warganegara yang mudah dikendalikan bagaikan kambing di 
padang tandus yang selalu menurut gembala? Jadi, yang pokok ialah menjauhkan 
diri dari racun fantasi kafirisme: "rakyat pintar-negeri maju"! 

++++

Prestasi Olimpiade Sains Hanya Kamuflase
Minggu, 29 April 2007 | 17:45 WIB 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta 
Sukro Muhab mengatakan prestasi olimpiade sains yang selama ini diperoleh 
Indonesia hanya kamuflase belaka. Sebab, menurutnya, medali emas yang diperoleh 
tersebut sama sekali tidak mencerminkan kondisi pendidikan dan kualitas manusia 
Indonesia.

"Olimpiade sains hanya untuk gengsi negara, sama sekali tidak mencerminkan 
kondisi pendidikan kita," katanya dalam Seminar dan Sosialiasi Pendidikan 
Kesetaraan di Aula Masjid Baitussalam, Jakarta, Minggu (29/04).

Ia mencontohkan, survei yang dilakukan Third Mathematics and Sciense Studi 
(TMSS) belum lama lalu menunjukkan kemampuan siswa Sekolah Menengah Pertama di 
Indonesia dalam menangkap pelajaran matematika hanya menempati peringkat ke 34 
dari 38 negara. Sedangkan dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam, daya tangkap 
siswa Indonesia menempati posisi ke 32 dari 38 negara. "Anak Indonesia ternyata 
hanya mampu menguasai 30 persen dari materi bacaan," katanya. Dalam memahami 
bacaan, ia menambahkan, siswa Indonesia berada di bawah siswa Philipina, 
Thailand, Singapure, dan Hongkong.

Selain itu, ia menambahkan, prestasi anak Indonesia dalam olimpiade sains juga 
sangat bertolak belakang dengan hasil survei yang dilakukan United Nation 
Development Program (UNDP) pada 2005 lalu. Survei tersebut menunjukkan indeks 
pembangunan manusia di Indonesia berjalan sangat lambat. Di Asia Tenggara, 
indeks pembangunan manusia Indonesia menempati posisi ke-7 di bawah Vietnam, 
Philipina, Thailand, Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Rendahnya kualitas manusia Indonesia dalam sektor pendidikan, menurutnya, 
karena kecilnya anggaran pendidikan yang di alokasikan pemerintah. Saat ini, ia 
melanjutkan, pemerintah hanya mengalokasikan sekitar 9 persen dari Anggaran 
Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan. Jumlah tersebut 
dinilai terlalu kecil. "Tidak mengherankan jika jumlah buta aksara mencapai 15 
juta orang," katanya.

Ia menambahkan, dana yang dihabiskan pemerintah untuk mempersiapkan siswa 
menghadapi olimpiade sains sangat besar. Padahal, dengan dana tersebut, 
pemerintah bisa membantu ratusan siswa lain yang terancam putus sekolah karena 
ketiadaan dana. "Padahal dengan dana itu ratusan siswa bisa dibantu," katanya.

Turut hadir dalam acara ini antara lain Direktur Direktorat Pendidikan 
Kesetaraan Ella Yulaelawati, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS Aan 
Rohanah, Pakar Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Sukro Muhab, Praktisi 
pendidikan kesetaraan Yayah Qamariyah, dan perwakilan sekitar 300 majelis 
taklim di Jakarta.

Dwi Riyanto Agustiar 

Kirim email ke