astagafirullah, pak yap h gie ini walaupun suhartois 22 karat tapi 
kadang-kadang bisa objektip juga yah! soalnya saya sih bener-bener gak mau 
masuk kedaerah etnisitas, tapi
  kayaknya sih betul juga yang dapat kesempatan itu banyak sekali, kan ini 
sesuai sama strategi dan falsafatnya harto bahwa mereka itulah yg paling jagoan 
dalam bisnis. pasti ada yg jadi taipan ada juga yg cuman jadi pedagang besar 
kelontong saja. tapi  hasil patpat gulipat juga cepat terkumpul dan segudang 
yang bisa didulang oleh kolaborasi mereka.
  .
  maaf ya saya emang blum baca gombalnya Retno itu tapi soal ini saya usulkan 
kita memakai jalan pintas yaitu metode berpikir a priori aja deh. itu cuman 
publik relations untuk harto. maaf ya pak yap, bayangin aja kalau pak yap mau 
memihak bangsa dan rakyat indonesia yg sudah dirampok sampai clana dalemnya 
nyang deqil itu kan kita bisa punya pendekar tegas pembela kebenaran, bukan 
sampai sekarang ini sayang betul jadinya hanya pembela suharto saja. tobatlah 
pak yap, bangsa dan ibu pertiwi sangat perlukan dikau!!!
  sk

Yap Hong-Gie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bung Chan Yth,

Malam ini teman saya baru membawakan buku "SOEHARTO The Life And
Legacy Of Indonesia's Second President", jadi saya juga belum sempat
membacanya. 
Oleh karena itu saya tidak ingin mendiskusikan isinya, tetapi ingin
menanggapi beberapa komentar, yang terasa perlu diluruskan dan
ditempatkan pada proprosi yang sebenarnya.

Statement Anda dibawah, seolah-olah menggambarkan bahwa, hanya
beberapa orang konglomerat etnis Cina saja yang menikmati pemerintahan
Soeharto, diluar itu para pengusaha etnis Cina pada umumnya tidak
berkembang. 
(kutipan): "Soeharto memberi ke-"mudahan" pada segelintir pengusaha
Tionghoa sehingga cepat menjadi konglomerat-konglomerat ....", 

Jaman Orde Baru merupakan era keemasan dibidang ekonomi bagi etnis
Cina umumnya. 
Kenikmatan ini bukan terbatas pada "segelintir pengusaha" tetapi bagi
kebanyakan pengusaha etnis. 
Jadi, "segelintir konglomerat" adalah mereka yang benar-benar dapat
memanfaatkan kesempatan, karena kedekatannya dengan lingkaran penguasa.
Dalam kenyataannya, kalangan pengusaha etnis justru tumbuh dan
berkembang di masa Orde Baru, menjadi pelaku ekonomi kuat, yang
mengisi segmen ekonomi menengah-atas. 
Generasi pengusaha etnis Cina inilah yang memegang kendali ekonomi
pada saat ini; apakah itu dibidang Property, Industri, Perbakan, IT &
Telekomunikasi, Media elektronik, Distribusi dan Perdagangan umumnya. 

Selanjutnya, adalah komentar Dr. Irawan, seorang aktivis Cina di
AS,yang gemar mempublikasikan tulisan/berita yang memojokan dan
menista NKRI.

(Kutipan):
"Sebenarnya siapa saja bakal memanfaatkan kesempatan
kalau memang ada jalannya, ini hukum alam namanya. 
Siapa yang tidak mau diberi untung kalau itu bisa ditempuh
tanpa resiko."

Komen diatas, selain menunjukan cara berpikir yang munafik, juga
terasa aroma chauvinistik-nya yang kental. 
Beliau cuma mencari pembenaran atas tindakan para koruptor dan
penjarah etnis Cina, dengan argumentasi konyol; karena "diberi
kesempatan" (nyolong) oleh penguasa.
Analogi beliau (secara tersirat) mengatakan; yang salah adalah
penguasa korup, sedangkan pengusaha (Cina) yang korup tidak salah!

Coba kita fokus pada masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Para konglomerat hitam ini mendirikan Bank, dengan maksud untuk
membiayai proyek-proyek industrinya sendiri, sudah tentu dengan
mark-up secara besar-besaran, untuk menarik keuntungan didepan. 

Proyek-proyek "Aladin" yang jaminan kolateralnya tidak memadai, sudah
barang tentu menjadi tidak feasibel lagi, kemudian macet; tidak bisa
membayar kewajiban kepada Bank "peminjam".
Krisis moneter th'97-'98, hanya mempercepat kolapsnya Bank-Bank
bermasalah ini, karena memang sudah direncanakan dari awal.

Karena desakan dari Dana Moneter Internasional (IMF), BI membarikan
pinjaman kepada bank-bank ini yang mengalami masalah likuiditas pada
saat krisis moneter.
Pada Desember 1998, BI menyalurkan BLBI sebesar Rp 147,7 triliun
kepada 48 bank. Dimana bedasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
menyimpulkan terjadi indikasi penyimpangan sebesar Rp 138 triliun.

Dan setelah itu, belasan konglomerat hitam melarikan dana BLBI ke LN,
total aset yang dilarikan diduga mencapai ratusan juta dollar AS, yang
merupakan uang deposan masyarakyat.
Seperti a.l. Agus Anwar (terdakwa korupsi dana BLBI Rp 1,98 triliun),
Sudjiono Timan (kasus BPUI) dan Sjamsul Nursalim (korupsi BLBI -
BDNI), Sukanto Tanoto (yang telah menjadi warga negara kehormatan
Brasil, setelah ia menanamkan usahanya di Brasil senilai Rp 1,8 triliun)

Kalau modus operandi seperti ini dibenarkan, maka kita semua bisa
menilai sikap dan karakter Dr. Irawan; yang bermental maling jemuran.

Kalau ketahuan dijawabnya; "Siapa suruh jemur pakaian diluar ...."

Wassalam, yhg.
-----------------

"ChanCT" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Iya betul, bung Irawan. Sekalipun saya belum membaca isi buku yang
ditulis Retnowati Abdulgani itu, tapi .......... c u t .........



         

       
---------------------------------
 Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Tryit now.

Kirim email ke