http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=283371

Rabu, 02 Mei 2007,


Siapa Peduli Buruh?


Demo buruh terjadi di mana-mana. Pesan yang mereka sampaikan sangat jelas. 
Mereka mengingatkan agar pada Hari Buruh, 1 Mei kemarin, pemerintah (negara) 
mau memperhatikan nasib mereka.

Pesan tersebut tentu bukanlah rangkaian kalimat hiperbola. Mayoritas buruh di 
negeri ini memang hidup dalam kesulitan ekonomi. Mereka begitu kerepotan 
mengalokasikan upah yang rata-rata hanya sekadar memenuhi standar UMR (upah 
minimum regional), antara Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu per bulan. 

Sistem di republik ini memang belum berpihak kepada kaum buruh. Dengan alasan 
demi menyuburkan iklim investasi di negeri ini, segala aturan yang memudahkan 
masuknya investor luar negeri dibikinkan. Termasuk, jika harus membuat regulasi 
yang melemahkan kaum buruh.

Dari sisi kepentingan mendatangkan investasi, kebijakan itu mungkin benar. 
Investor luar negeri -kendati tidak semaksimal yang ditargetkan- mungkin akan 
datang. Namun, bagaimana dengan nasib kaum buruh yang notabene bangsa sendiri?

Mereka akan semakin marginal. Jumlah mereka akan terus bertambah. Hal itu tentu 
sangat paradoks dengan program pengurangan angka kemiskinan yang selalu 
digembar-gemborkan pemerintah. 

Mungkin benar, dengan masuknya investor dari luar negeri itu, lapangan 
pekerjaan cukup banyak. Namun, apa artinya kalau banyaknya lapangan pekerjaan 
tersebut ternyata hanya kian memperbanyak jumlah kaum buruh. Apakah memang 
bangsa ini dicita-citakan untuk menjadi bangsa buruh atau bangsa kuli?

Kami menyadari bahwa itu bukanlah persoalan mudah. Namun, kebijakan yang 
terlalu membela kepentingan kapitalis seperti selama ini perlu dievaluasi 
secara jernih. Karena perlu diingat, dalam praktiknya, kedatangan mereka banyak 
yang malah mendorong terciptanya kaum buruh baru.

Maraknya supermall, megamall, atau hypermall belakangan ini, misalnya. Betapa 
mal-mal serbawah itu akhirnya menggusur pedagang kelontong dan sembako yang 
semula bertahan di pasar-pasar tradisional. Akibatnya, banyak di antara para 
pedagang itu yang kini menjadi buruh, termasuk buruh di mal-mal yang menggusur 
mereka.

Setelah status mereka berubah (dari pedagang ke buruh), tentu kondisinya kian 
tak berdaya. Mereka hanya menunggu upah bulanan yang jumlahnya sangat minim. 
Sementara, kaum kapitalis kian gemuk karena bisa tumbuh dan berkembang tanpa 
persaingan yang sepadan. 

Ekses semacam itu tentu tak boleh dibiarkan. Pembangunan seharusnya tidak 
semakin menciptakan jurang perbedaan. Sebab, dalam jangka panjang, perbedaan 
yang mencolok tentu sangat berpotensi menimbulkan gesekan dan ketidakharmonisan 
sosial.

Karena itu, demi kelangsungan bangsa ini, seharusnya pemerintah punya iktikad 
baik untuk memberikan perlindungan kepada kaum buruh. Sebab, siapa lagi yang 
melindungi mereka kalau bukan pemerintah. Sangat tidak masuk akal bila harapan 
perlindungan itu kita gantungkan kepada kaum kapitalis. 

Dimensi proteksi kepada buruh itu tentu sangat luas. Bukan hanya penghasilan 
yang memadai. Namun, bagaimana agar dari rahim kaum buruh itu tidak harus 
selalu lahir kaum buruh baru. Kaum buruh harus dibantu agar mereka bisa 
memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak mereka. Yakni, pendidikan yang 
terjangkau dari sisi biaya dan terjamin dari sisi kualitas. 

Kirim email ke