IBAHIM ISA - BERBAGI CERITA
Kemis, 03 Mei 2007
--------------------------------------------

MASALAHNYA: - - -   BELUM  TERLAKSANANYA
'THE RIGHT MAN/WOMAN IN THE RIGHT PLACE'

*   *   *

Dalam tulisanku  yang lalu (29 April 07), 'Kolom Ibrahim Isa,
berjudul: 'INDONESIA -- BELANDA TERJALIN DNG DARAH (2) -- <Peranan P.I
 Nederland, dalam Perjuangan Perlawanan Belanda Melawan Pendudukan
Jerman Hitler>, dijanjikan bahwa tulisan tsb BERSAMBUNG. Paling tidak
akan ada bagian-3-nya. Bagian ketiga itu pasti akan datang.

Dua  tulisan tsb  memancing tanggapan negatif maupun positif. Lumrah.
Aku senang tuilisanku dibaca dan dihargai maupun dikritik. Ada yang
bertanya marah ( mengenai bagian ke-2 dari tulisan tsb), apakah
tulisan tsb  propaganda MOSAD (Jawatan Rahasia Israel)?  Dipertanyakan
mengapa kok memuji orang-rang Yahudi, padahal Israel dewasa ini
menduduki dan menindas rakyat Palestina. Soalnya,  menyangkut tulisan
RM Djayeng Pratomo (mantan mahasiwa Indonesia di Belanda ketika itu)
yang kusiarkan ulang  Di situ  Jayeng Pratomo juga menyebut tentang
orang-orang Yahudi Belanda yang dipersekusi oleh Jerman Hitler.
Diantaranya  ada orang-orang Yahudi tsb yang  diselamatkan oleh
mahasiswa Indonesia yang menceburkan diri dalam perjuangan anti-fasis
perlawanan  bawah-tanah di Belanda melawan Jerman Hitler.

Ada juga tanggapan dari  sahabatku orang Belanda, mantan Brigjen
Artileri Tentara Kerajaan Belanda, B. Bouman (yang menulis buku
sekitar logistik kekuatan bersenjata Republik Indonesia pada periode
Perang Kemerdekaan Indonesia melawan Belanda).  B. Bouman menilai
tulisanku itu positif. Menganggapnya sebagai sumbangsih dalam
pengkisahan sejarah orang-orang Indonesia di Belanda ketika itu.

Dalam pada itu, aku baru saja menerima  dari sahabatku  wartawan
kawakan Joop Morrien (aku berjumpa dengan Joop pada peringatan Hari
Kartini di Dieman, 28 April y.l.), sejumlah bahan lagi mengenai
keadaan dan perjuangan para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam
Perhimpunan Indonesia di Belanda.  Termasuk tentang tokoh yang tak
asing lagi, bernama SUNITO. Joop Morrien juga menghadiahkan sebagai
kenang-kenangan padaku buku yang ditulisnya (1995), berjudul
'INDONESIË LIET ME NOOIT MEER LOS'. Terjemahan bebas: 'INDONESIA TAK
MUNGKIN LAGI AKAN MELEPASKAN DAKU'. Mencerminkan rasa cinta dan
rindunya terhadap negeri dan bangsa Indonesia.

Dengan demikian pasti masih akan ada yang bisa ditulis lagi sekitar
'INDONESIA- BELANDA' yang TERJALIN DARAH. Tapi kali ini aku hendak
BERBAGI CERITA dulu.

*   *   *
THE RGIHT MAN/WOMAN IN THE RIGHT PLACE BELUM TERJADI
Beberapa hari belakangan ini kehidupan keluarga kami di Haag en Veld
76,  Amsterdam, menjadi lebih sibuk dan meriah. Kami kedatangan
tamu-tamu keluarga sendiri dari Jakarta. Mula-mula datang putra
kemenakan istriku Murti. Hanya semalam saja. Ia amat sibuk. Dari
Jakarta  ke Paris dulu ke  kantor induk perusahaan  dimana ia
berkerja.  Ia menghadiri rapat  bisnis di Paris.   Kemenakan kami itu
hadir di situ sebagai  salah seorang menager  cabang perusahaan
Perancsi tsb di Jakarta.

Kemenakan kami itu a.l. membawa oleh-oleh tiga buah buku karangan
Sindhunata,  seri MANUSIA &  KESEHARIAN.; MANUSIA & KEADILAN  dan
MANUSIA & PERJALANAN. Aku belum tahu banyak tentang Sindhunata.
Kemenakan kami itu menjelaskan bahwa , Sindhunata adalah seorang
pendeta yang senang menulis.  Kata Jakob Utama dari Kompas, Sindhunata
dikenal berhasil mengangkat kejadian dan persoalan hidup ke panggung
reportase dalam sosoknya yang nyata, hidup, berdesak, berkeringat,
berair mata, bersenyum dan berpengharapan. Nama lengkapnya adalah (Dr)
Gabriel Possenti Sindhunata, SJ. (55th). Disamping menulis buku
Sindhunata adalah editor beberapa buku ilmiah dan feature. Ia sekarang
pimpinan di Majalah Basis, Jogyakarta.

Aku tertarik untuk membaca buku-bukunya,  yang ditulis  sesudah
(diajak penguasa Orba yang ketika itu terpaksa sedikit membuka pulau
tahanan politik P. Buru, karena tekanan-tekanan internasional) ---
berkunjung ke Pulau tahanan politik Orba di Pulau Buru. Ia
menyempatkan diri,  juga punya nyali untuk menulis buku itu 'DARI
PULAU BURU ke VENEZIA'.  Penulisnya  tidak terjerumus dalam jaringan
perangkap  propaganda Orba. Tulisannya a.l  meliputi  'Permukiman dan
Inrehab - Apa bedanya?'  dll.  Dengan caranya sendiri ia mengisahkan
'kesulitan hidup' (kalau sedikit herani  lagi akan merumuskannya terus
terang, bahwa  kehidupan  di pulau tahanan Buru itu adalah suatu
PENDERITAAN  yang tak tahu kapan akan berakhir) --  para penghuni
Inrehab Orba untuk para tahanan Pulau Buru. Seperti diketahui yang
ditahan di situ adalah warganegara tak bersalah ,  bertahun-tahun
lamanya tanpa proses pengadilan apapun.
Mereka dianggap sebagai musuh-musuh politik Orba. Kemenakan kami
menilai tulisan-tulisan Sindhudinata hidup dan enak dibacanya. Santai!

Dalam percakapan dengan kemenakan kami itu, aku mengajukan pertanyaan
sbb: Coba tolong dijawab:
Bagaimana perasaan dan fikiran kaum muda kita, yang intelektuil dan
berbudaya. Terpelajar seperti kamu, kataku. Untuk mempermudah ia
memberikan jawaban, aku rumuskan pertanyaanku sbb:

1. Apakah generasi muda terpelajar kita, melihat situasi di Indonesia
dewasa ini, bersikap  prihatin tapi kurang lebih  'pasrah'. Karena
tidak tahu bagaimana 'jalan keluarnya' ?

2. Apakah bersikap masa-bodoh, lebih baik mengurus diri sendiri,
membina suatu karir kehidupan yang nyaman. Atau,

3. Prihatin mengenai haridepan  negeri dan bangsa dan mencari jalan
berbuat sesuatu untuk mengubah situasi parah Indonesia dewasa ini?

Kemenakan kami itu berfikir sebentar . Tidak lama ia kemudian
menjawab:  Mungkin jawabannya adalah seperti pertanyaan Oom yang
pertama itu. Bahwa, kaum muda terpelajar kita dewasa ini, bukan masa
bodoh terhadap situasi buruk yang mencengkam bangsa kita, tetapi
prihatin mengenai nasib bangsa dan negeri. Namun,  tak tahu jalan
bagaimana mengubahnya.

Digambarkannya tentang kekecewaan terhadap kaum muda yang sudah
'mapan':   Banyak yang muda-muda, yang katanya  harus menggantikan
yang tua-tua,  merasa diri lebih baik dan lebih mampu, terbanding yang
korup dan hanya mementingkan diri sendiri  Namun  ---- nyatanya  ---
SAMA SAJA ---  dengan yang tua-tua. Setelah berkuasa atau duduk di
posisi kekuasaan, mereka terjangkit budaya KKN pemimpin-pemimpin Orba
dan juga yang pasca Suharto. Sebagian besar, kata kemenakan kami itu,
 banyak  kaum muda yang  menjadi PESIMIS.  Wah, pilu hatiku
mendengarnya. Namun kutekankan pada kemenakanku itu, betapapun kamu
sendiri janganlah tenggelam dalam pesimisme. Negeri dan bangsa ini,
pasti akan menemukan jalan keluar. Akan bangkit untuk membela keadilan
dan untuk mencapai kemakmuran yang merata. Dengan  pandangan yang
belum yakin, ia menganggukkan kepalanya.

*   *   *

'Tamu kami' berikutnya adalah  pasangan suami-isri. Yang kemenakan
kami  adalah  yang perempuan.. Suaminya seorang mantan 'dirut' salah
satu prusahaan BUMN.  Sekarang sudah pensiun. Tetapi giat dalam suatu
 lembaga pengusaha ekspor hasil bumi Indonesia. Maka sering ke luar
negeri.

Kali ini suami-istri itu bermalam selama beberapa hari di rumah kami.
Ketika kami berkunjung ke Jakarta dan bermalam di rumahnya, ia banyak
cerita tentang bagaimana para pejabat Orba melakukan 'pemerasan'
terhadap perusahaan-perusahaan  negara BUMN. Mereka menyalah gunakan
kedudukan kekuasaan yang ada pada mereka,  menjadikan
perusahaan-perusahaan  BUMN sebagai sapi perahan untuk memperkaya diri.

Kemenakanku itu memberikan padaku dua majalah Tempo. Tempo yang satu,
edisi 2-8 April 07,  pada halaman mukanya ada  gambar  Widjanarko, Bos
BULOG, yang dicopot. Tercetak pada halaman muka itu dengan huruf
besar: BAGI-BAGI DUIT BULOG.  Rumahnya digrebek aparat, dan ia masuk
pendajara, jadi penghuni sel. Dalam berita utama Tempo,  dikatakan
bahwa dana Bulog, diduga mengalir ke brankas partai. Dana mengalir,
kasarnya itu menggelapkan uang negara, dan ke kas partai, maksudnya ke
partai yang berkuasa.   Di halaman  dalam nomor Tempo tsb juga ada
foto Yusril Ihza Mahendra, Menteri Sekretaris Negara,  dengan judul
'Transaksi Misterius Rekening Yusril'. Lalu ada berita KORUPSI DI
BANJIR KANAL. Selanjutnya ada ulasan   yang menyangkut anggota
MPR/DPR, berjudul KEMBALI MERIBUTKAN LEPTOP.

Kolom 'Opini'  berjudul BAGI-BAGI DUIT BULOG. Menyangkut impor sapi,
impor beras dari Vietnam, dll. Pokoknya ceritanya adalah mengenai
merajalelanya KKN  yang menggunakan lembaga logistik negeri BULOG
sebagai sapi perahan dan sumber korupsi untuk kas partai (yang
berkuasa)  dan rekening perorangannya. Masih ada berita-berita KKN
lainnya lagi. Sehingga membaca  majalah Tempo kali ini, fikiran jadi
tak nyaman, kok sampai begini keadaan negeri kita. Dadapun serasa
sumpek dan sesak.

*  *  *

Keruan saja pembicaraanku dengan kenenakan kami itu, berkisar sekitar
situasi negeri kita. Bagaimana sih
keadaannya, tanyaku.  Wah, susah Oom, katanya. Sekarang ini selain
korupsi masih terus merjalela, bahkan tampaknya seperti semakih lama
semakin parah. Para petinggi negara, mulai dari menteri, sampai ke
lurah menggunakan jabatan mereka untuk memperkaya diri melalui
manipulasi dan korupsi.  Jalannya adalah
masuk di eksekutip melalui jalur parpol. Jadi, Oom kata kemenakan kami
itu, sekarang ini betapapun hebatnya seseorang dalam kemampuan dan
kejujuran, bila tidak masuk salah satu parpol, tidak akan bisa maju.
Parpol telah menjadi alat untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.
Parpolpun tumbuh bak jamur di musim hujan. Semakin orang  tak punya
kepercayaan lagi terhadap parpol.

Aku cerita  kepada kemenakanku itu,  parpol itu adalah salah satu
ciri dan prinsip demokrasi.  Adalah suatu kenyataan bahwa   sebagian
besar  parpol  pada periode keperesidenan Sukarno, punya kepedulian
yang sungguh-sungguh terhadap nasib bangsa dan tanah air. Para anggota
DPR ketika itu, kataku,  umumnya  punya perhatian dan kepedulian yang
jauh lebih besar terbanding  para anggota legeslatif sekarang ini.
Fungsi DPR sebagai pembuat undang-undang dan mengawasi jalannya
kebijaksanaan pemerintah dan pemberlakuannya benar-benar dikhayati
oleh sebagian terbesar anggota DPR.

Hal itu  antara  lain dapat diketahui dari  disahkannya UU Pemilu yang
Demokratis dan 'Luber'. Juga telah dibuat dan disahkan   UUPA,
Undang-undang Perubabahan Agraria dan UUPBH, Undang-undang  Pokok Bagi
Hasil. Semua uu tsb  dilahirkan oleh DPR pada periode kepresidenan
Sukarno Namun  Orba dan pendukungnya   mencemoohkan  DPR tsb , sebagai
produk  Orde Lama (Orla). Orba bilang, DPR Orla harus diganti. Orba
menggantikannya dengan MPR/DPR  yang sepenuhnya menjadi alat politik
di tangan Presiden Jendral Suharto.

*   *   *

Pada akhir tukar fikiran  yang positif dan mengesankan dengan
kemenakan   kami itu, aku ceriterakan kepadanya tentang
pertanyaan-petanyaan yang ku ajukan kepada kemenakan yang datang
terdahulu itu. Kemenakan ku yang ini, agak tertegun.

Namun, ia setuju dengan fikiran, bahwa betapapun, kita tidak boleh
putus harapan, dan hilang opitimisme, mengenai nasib bangsa dan negeri
ini. Sambil lalu ditanyakannya, bagaimana pendapatku mengenai langkah
Buyung Nasution belakangan ini yang meninggalkan posisinya di YLBH,
dan non aktif sebagai advokat demi memusatkan perhatiannya pada
tugasnya di  Wantimpres. Kemenakanku itu  sendiri menilai langkah
Buyung itu positif dan tepat. Pendapatku: Sayang bila ia total
meninggalkan YLBHI.

Kedua orang kemenakn kami itu, nyatanya juga tahu benar, bahwa masih
cuikup banyak orang-orang Indonesia, yang mampu dan junjur untuk
mengelola dan mengurus negeri ini. Soalnya mereka belum ada pada
tempat yang diperlukan. Mereka adalah 'the right men and women',
tetapi mereka masih belum ada  'in the right place'.

Masih memerlukan waktu dan proses yang cukup panjang,  ----  di atas
segala-galanya masih memerlukan usaha dan perjuangan yang berani dan
bijak untuk sampai pada  tujuan mulia tsb. Untuk terrealisasinya 'the
right man or woman in the right place'  yang mengelola dan memimpin
bangsa dan negeri ini.

*   *   *










Kirim email ke