Prinsip:
   
  Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga,
  Tetapi bijak yang mengabaikan cemooh
   
   
   
  Temuchin, adalah seorang besar dari tanah mongol yang kemudian akhirnya 
mendirikan dinasti khan yang pada akhirnya  menguasai daratan china dan menjadi 
begitu terkenalnya diseluruh dunia.
  Temuchin mempunyai salah satu kelebihan yang hebat yaitu kemampuannya dalam 
menahan diri terhadap emosi.
   
  Pada saat dia sudah hebatpun dan menguasai banyak sekali wilayah serta 
mempunyai kendali atas jutaan tentara-tentara militant, dia hanya memutuskan 
untuk berperang bila perlu, bukan bila emosinya disenggol.
   
  Dalam salah cerita versi komik, si pengarang menuliskan sebuah kalimat 
dramatis yang diucapkan oleh temuchin kepada ahli warisnya mengenai hal menahan 
diri, yaitu;
   
  Seorang raja yang keras kepala dan tidak mampu menahan diri untuk berperang 
tanpa alasan yang benar benar kuat, dia hanya akan menjerumuskan rakyat dan 
bala tentara yang mempercayainya kedalam satu proses kehancuran yang tidak 
dapat dihentikan oleh siapapun kecuali oleh egonya.
   
  Menurut saya. Kemampuan mengendalikan diri tidak sama dengan kelemahan diri, 
justru mereka yang cakap dalam mengendalikan diri memperlihatkan kehebatan 
dirinya, karena bukankah salah satu pepatah kita pernah bilang bahwa musuh 
terberat kita adalah hawa nafsu kita, yang tentunya termasuk juga nafsu untuk 
marah.
   
  Saya pernah bertemu beberapa orang yang berasal dari suku A atau suku B, 
dimana mereka seringkali membanggakan bahwa nilai nilai yang mereka anut dari 
suku dimana mereka berasal, sangat menjunjung tinggi kehormatan, dan bersedia 
mati demi kehormatan.
   
  Salah satu contoh, om kandung saya sempat mengalami satu posisi hebat dalam 
bisnisnya (menurut ukuran keluarga kami). 
  Ia berasal dari satu daerah di sulawesi, dimana ia dibesarkan dengan nilai 
nilai yang tinggi berkaitan dengan kehormatan dan harga diri, maka seringkali 
pada saat saya remaja, saya amati dia sering terlibat masalah yang sebetulnya 
tidak begitu esensial dan menyita banyak sekali sumberdaya materi, energi, 
waktu dan pikiran-nya hanya karena dia merasa orang itu sudah menyinggung harga 
dirinya dan dia merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu yang setimpal untuk 
memulihkan harga dirinya yang dirasa sudah terkoyak.
   
  Pernah satu kali, saya dengar dari orangtua saya, dia menghabiskan banyak 
sekali uang, waktu dan tenaga untuk “tindakan bisnis yang saling membalas” 
secara terbuka di industri yang ditekuni-nya melawan salah satu pesaingnya 
hanya karena dia mendengar si pesaing tersebut menjelek-jelek-an dia secara 
pribadi dibelakang punggungnya.
   
  Pada akhirnya, bisa ditebak, tidak ada yang menang, kedua-duanya merugi, 
kehilangan banyak uang, kehabisan energi yang berharga dan tersitanya secara 
sia-sia potensi yang sebetulnya cukup banyak untuk menumbuhkan bisnis-nya hanya 
karena terjebak peristiwa konyol nan bodoh tersebut atas nama harga diri serta 
kehormatan.
   
  Joseph joubert pernah berkata;
   
  Jangan pernah memotong apa yang dapat dibuka ikatannya.
   
  Saya berpendapat, menjunjung tinggi kehormatan adalah hal yang mulia, tetap 
memilih berkonfrontasi untuk menyelesaikan suatu permasalahan mengenai 
kehormatan dimana sebetulnya masih tersedia banyak pilihan alternatif lain yang 
jauh lebih bijak dan elegan, adalah benar benar satu kebodohan yang tiada 
taranya.
   
  Saya mungkin masih muda dan kurang mengerti konsep kuno mengenai makhluk yang 
bernama harga diri dan kehormatan, hanya saja saya tetap yakin pada nilai yang 
saya anut dan dituliskan oleh salomo dalam salah satu amsalnya, yaitu;
   
  Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan.
   
  Saya percaya, kemampuan menahan diri yang sejati terhadap ejekan, celaan dan 
fitnah sekalipun, bukanlah berasal dari suatu teknik yang dilatih secara khusus 
melainkan berangkat dari hati yang penuh pengampunan.
   
  Dan seperti yang kita semua tahu, mengampuni hanya mungkin bila hati kita 
penuh dengan kasih yang tulus dan murni akan sesama, bukan sekedar segolongan, 
atau berlainan gender atau kasih yang mempunyai syarat.
   
  Mereka yang memiliki hati mengampuni, pasti akan mempunyai kontrol diri jauh 
lebih baik dibandingkan mereka yang sekedar mempelajari teknik-teknik dalam 
menahan amarah maupun memindahkan amarah, karena menahan amarah atau sekedar 
memindahkan amarah ke hal yang paling positif sekalipun tetaplah merupakan satu 
amarah yang hanya berubah bentuknya tapi tidak berubah sifat dasarnya. 
   
  Dan amarah yang telah berubah bentuk tapi tidak terselesaikan tersebut, bisa 
membawa kita kedalam fase yang lebih tinggi yaitu dendam dimana itu cukup untuk 
menyeret kita kedalam pusaran kesulitan dan penderitaan yang lebih dalam lagi.
   
  Dan saya percaya, tiap kita sudah mengerti dengan baik sekali bagaimana 
dendam bisa menjadi perusak yang sangat dahsyat dalam hidup kita dan dendam 
yang cukup besar dan ber-akar dalam bahkan mampu menghalangi banyak hal hal 
baik yang seharusnya kita terima dalam hidup ini.
   
  Larry Bielat menuliskan efek negatif lain dari hati yang tidak dapat 
mengampuni;
   
  Orang yang tidak dapat mengampuni, menghancurkan jembatan yang suatu hari 
nanti mungkin ia perlu lewati.
   
  Sebagai penutup, saya merekomendasikan kita merenungkan sebuah tulisan yang 
tidak diketahui pengarangnya tapi sangat relevant dengan hal ini;
   
  Semua orang harus mempunyai tanah makam khusus
  untuk mengubur kesalahan sahabat dan orang yang dikasihinya
  Mengampuni adalah membebaskan seorang tahanan,
  dan tahanan itu adalah anda sendiri. 
   
   
   
  Belas kasih Tuhan terhadap kita sebanyak belas kasih kita terhadap orang 
orang disekeliling kita.
   
   
  -wishnuiriyanto-
  http://wishnuiriyanto.blogspot.com
   
  friendster;
  Nama; Wishnu iriyanto
  Lokasi; Australia

       

Kirim email ke