REFLEKSI: Maaf. Bukankah pada waktu zaman rasul itu jumlah penduduk tidak 
sebanyak seperti sekarang ini, dan juga kehidupan masyarakat mereka adalah 
nomadik dan/atau pertanian kecil-kecilan? Apa benar pada zaman rasul terdapat 
penganguran?

REPUBLIKA
Senin, 07 Mei 2007


Cara Rasul Menangkal Pengangguran 
Rifqi Fauzi
Mahasiswa Jurusan Hadits Universitas Al Azhar Kairo Mesir


Angka pengangguran pada 2007 diperkirakan mencapai 12,7 juta jiwa, dan jumlah 
penduduk miskin mencapai 45,7 juta jiwa. Menurut Pusat Penelitian Ekonomi LIPI 
Jakarta, angka tersebut berasal dari 1,6 juta pengangguran baru, di mana jumlah 
pengangguran pada tahun 2006 mencapai sebesar 11 juta jiwa. Sementara pada 
tahun 2004, pengangguran baru mencapai 10,25 juta jiwa. Hal ini menunjukan 
bahwa angka pengangguran setiap tahun terus meningkat tajam.

Masih menurut LIPI, jika kita mengasumsikan pertumbuhan ekonomi mencapai 
skenario optimum yaitu 6,5 persen dengan tingkat serapan tenaga kerja hanya 
218.518 orang untuk setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen, maka 
lapangan kerja pada 2007 yang tersedia hanya 1,4 juta. Sedangkan angkatan kerja 
pada tahun 2007 diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar tiga juta orang, 
berasal dari 1,5 juta orang tambahan tenaga kerja baru dan 1,5 juta dari 
kelompok bukan angkatan kerja yang masuk kembali menjadi angkatan kerja.

Kondisi tersebut menunjukan bahwa Indonesia akan menghadapi kondisi sulit. 
Untuk menutupi kenaikan angkatan kerja tahun sekarang saja sudah tidak bisa, 
apalagi menutup angka pengangguran tahun sebelumnya. Dengan kata lain, setiap 
tahun Indonesia hanya akan terus menambah angka pengangguran dan kemiskinan 
baru.

Faktor penyebab
Pengangguran dari zaman ke zaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa 
dihindari karena hal itu merupakan sebuah sunatullah. Namun bukan berarti 
manusia tidak bisa mengantisipasinya. Pengangguran bukanlah kodrat Ilahi yang 
tidak bisa diganggu gugat. Mungkin, pengangguran itu sendiri disebabkan oleh 
kesalahan manusia sendiri. Allah SWT telah memberikan kekayaan alam dan akal 
yang harus dipergunakan sebaik mungkin oleh manusia.

Secara umum, adanya pengangguran disebabkan beberapa faktor. Di antaranya, 
disebabkan pribadi manusia itu sendiri yang malas bekerja dan berusaha, adanya 
kelainan pada diri manusia yang membuat tidak bisa berusaha, dan tidak adanya 
lapangan pekerjaan.

Rendahnya pendidikan sehingga tidak adanya kreasi untuk membuka lapangan 
pekerjaan sendiri, rendahnya fasilitas teknologi, kondisi pemerintahan yang 
tidak sehat dikarenakan adanya pejabat-pejabat pemerintah yang melakukan KKN, 
terjadinya pemecatan dikarenakan bangkrutnya perusahaan dan yang tidak kalah 
pentingnya yaitu dikarenakan bencana alam. Semua ini bisa diantisipasi jika ada 
kesadaran dan kerjasama antara individu dan pemerintah sebagai pembuat 
kebijakan ekonomi.

Teladan Rasul
Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang pengemis dari 
kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau 
bertanya kepada pengemis tersebut, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?" 
Pengemis itu menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai 
sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasul langsung berkata, "Ambil dan serahkan ke 
saya!" Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah 
menawarkannya kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli 
ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham." Rasulullah 
menawarkanya kembali,"adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?" Lalu 
ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah menyuruh pengemis itu untuk membelanjakannya makanan untuk 
keluarganya dan selebihnya, Rasulullah menyuruhnya untuk membeli kapak. 
Rasullulah bersbada, "Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua 
minggu ini aku tidak ingin melihatmu." Sambil melepas kepergiannya Rasulullah 
pun memberinya uang untuk ongkos. 

Setelah dua minggu pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah sambil 
membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu Rasulullah 
menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya 
bersada, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan 
membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang 
meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak 
mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat 
sesorang tidak bisa berusaha." (HR Abu Daud).

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Pertama, 
pengangguran dan kemiskinan merupakan tanggung jawab pemerintah dan mereka 
mempunyai hak untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah. Hadis tersebut 
menunjukkan teladan Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas 
kemiskinan dan pengangguran yang terjadi pada rakyatnya. Beliau langsung 
tanggap terhadap keluhan rakyatnya.

Kedua, ada kerja sama antara pemerintah dan orang kaya untuk memberantas 
pengangguran dan kemiskinan. Kekayaan tidak hanya menjadi milik pribadi namun 
di dalamnya ada hak orang lain yang perlu dikeluarkan, sehingga kesenjangan 
antara orang miskin dan orang kaya bisa diberantas. Cara ini bisa ditempuh 
dengan memberdayakan zakat dan wakaf umat. Malah lebih baik lagi jika hal ini 
ditangani langsung oleh seorang menteri. Ketiga, pemerintah tidak cukup hanya 
sadar akan tanggung jawabnya, namun harus dibarengi dengan kerja nyata dengan 
mencari solusi untuk mengeluarkan rakyatnya dari jeratan pengangguran dan 
kemiskinan.

Keempat, cara terbaik untuk keluar dari jerat pengangguran dan kemiskinan 
adalah dengan memberikan pendidikan dan pekerjaan, tidak cukup dengan cara 
menyantuni rakyatnya dengan uang atau makanan. Selain supaya bisa hidup 
mandiri, hal ini pula akan meningkatkan perekonomian bangsa, sebagaimana 
Rasulullah SAW mendidik pengemis selama dua minggu untuk belajar mengumpulkan 
kayu dan berdagang.

Kelima, Rasulullah sangat mencela orang yang suka minta-minta dan malas 
bekerja, terkecuali bagi orang yang benar-benar miskin yang tidak mempunyai 
peluang untuk bekerja, orang yang banyak hutang yang tidak bisa membayarnya dan 
seorang miskin yang sakit. Mereka menjadi tangung jawab pemerintah dan 
masyarakat yang kaya untuk menyantuninya. Dengan adanya kerja sama dan 
kesadaran antara individu, masyarakat, dan pemerintah, insya Allah negeri ini 
akan segera terbebas dari jerat kemiskinan dan pengangguran.

Kirim email ke