Gembira saya mendapat bahan yang mustinya disebarkan terus untuk membuka mata 
banyak orang yang parah ke brainwashing 32 tahun. Betul kita hanyabelajar, tapi 
kalau Pak Nesare punya banyak duit bisa mudah sewa beberapa PhD untuk membuat 
tim sukses, menulis sanjungan, lalu tebar uang dalam jurus money politics, dan 
sangat mungkin Bpk bisa jadi Gubernur, paling tidak.
  Maaf judul diatas saya rubah karena pertanyaan saya cukup jaug melompatnya, 
dari Indonesia permulaan tahun 1960, ke jaman sekarang. 
  Mohon bagaimana pendapat Bpk tentang jurus-jurus Morales, Chavez dan 
sebagainya di Amerika Selatan yang sedang berupaya kuasai lagi sumber daya alam 
dari perusahaan multinasional supaya hasilnya dapat dinikmati oleh rakyat dalam 
bangsa itu? Apa orang Indian atau turunan Spanyol itu justru sekarang sedang 
menjalankan ide Pak Karno dulu
  sekait dengan SDA? Apa Bpk tidak heran seperti saya bahwa multinasional yang 
di kita
  dianggap seperti dewa sangat kuat dan sakti itu kok disana bisa tunduk sama 
kekuatan baru yang dipilih dalam pemilu sampai mau teken revisi kontrak kerja? 
Saya sih tidak heran
  Pak wapres langsung saja bilang Indonesia tidak akan meniru Bolivia. Soal 
kepentingan!
  Sekian dulu, TCh

nesare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Semangat kita berdiskusi di Milis ini adalah semangat belajar. Karena 
bukan semangat orang sekolahan kita paham banyak kelemahannya
dalam melihat setiap permasalahan/topik diskusi. Kita bukan sedang bikin 
tulisan buat dapat angka bagus seperti orang yang sekolah
melainkan kita hanyalah menyisihkan sedikit waktu untuk mengetahui sebetulnya 
apa yang terjadi. Topik perekonomian jaman BK itu
penting sekali dipahami dalam konteks saat itu. Perekonomian itu tidak berjalan 
sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Banyak
orang memperbandingkan kondisi Orba dengan Orla dan sayangnya yang dilihat itu 
adalah pengalaman pribadi saja maksudnya dalam
tingkat individu: saya bisa begini, saya dapat ini, saya tidak begitu, saya 
tidak tidak dapat itu dst. Seyogyanya kita melihat nya
dari konteks ekonomi itu sebagai sistem yang bersangkutan dengan sistem 
lainnya: epoleksosbudhankam dll.

Saya dapat data inflasi selanjutnya:

Cost of Living Index:
1957 = 100
1960 = 348
1965 = 36,000
1966 = 150,000

Melihat data diatas ini mengerikan sekali terutama 1964 -1965. Menjelang 
1964-65, situasi sangat gawat: Capital flight dimana mana;
spare parts dan raw materials banyak yang hilang begitu saja; pabrik hanya 
dapat beroperasi 20% dari kapasitas yang tersedia (jadi
tidak full capacity). Pada 1964 to 1965 juga penerimaan dari sektor migas 
merosot 50%; exports turun; consumer goods hampir tidak
ada; devisa juga hampir tidak ada yang mana mengakibatkan Indonesia tdk bisa 
beli barang imports dan bayar hutang luar negeri.

Semakin banyak bisnis yang tutup dan bangkrut, semakin tidak ada pemasukan dari 
pajak, dan Indonesia tidak bisa bayar banyak hal
(government spending) tanpa nyetak uang 24 jam/hari di Kebayoran (Peruri). Dan 
ini yang menyebabkan hiper inflasi (hyper
inflation). Pada awal tahun 1965, Dalam interview Jeffrey Winters dengan Ibnu 
Sutowo (IS), IS yang adalah musuh Sukarno juga
menaikkan harga BBM secara drastis tanpa minta
ijin dari Sukarno. IS mengakui bahwa dia melakukan ini dengan sengaja untuk 
menciptakan (trigger) krisis fiskal/pajak keuangan.
Jeffrey Winters yang sekarang ngajar di Northwestern Univ Evanston dekat 
Chicago itu menulis disertasi yang berkaitan dengan topik
ini: Powers in motion. Dalam disertasi ini banyak data/angka yang bisa dilihat.

Kalau kita telusuri jaman awal kemerdekaan Indonesia dalam kaitannya dengan 
sektor perekonomian Orla, kurang lebih begini:

Pada jaman Hindia Belanda dasar hukum untuk migas adalah Mining Law 1899. Hukum 
Migas yang berlaku adalah sistem konsesi. Sistem
konsesi itu memberikan hak pengelolaan dalam jangka waktu panjang (75 tahun), 
pemerintah tidak ikut campur tangan dalam proses
pengelolaannya. Pemerintah hanyalah tax collector: nerima pajak dalam bentuk 
income tax yang dihitung dari untung perusahaan.

Bung Karno (BK) dengan semaraknya nasionalisme pada saat perang kemerdekaan 
1945-50, penerima konsesi Migas balik ke Indonesia
untuk bikin basis di Indonesia. Setelah 1949 dengan adanya peralihan kekuasaan 
dari Belanda ke Indonesia, pemegang konsesi yang gede
gede (utama): Shell, Stanvac dan Caltex mengerti kedaulatan ada ditangan bangsa 
Indonesia yang sudah merdeka. Mereka ini siap
bekerja sama dengan pemerintah baru Indonesia. Walaupun BK tidak mengerti 
masalah Migas dan juga sudah pasti tidak ada kebijaksanaan
yang jelas ttg Migas tetapi gema nasionalisme yang kuat membuat BK 
membatalkan/menganulir (abolish) Mining Law 1899. Ada dilemma
antara bagaimana mengontrol Migas (pasal 3 UUD 45) dan mengelolanya. Tahun 1951 
baru pemerintah Indonesia bikin komisi buat ngatur
sumber daya alam.

Pada periode ini juga bangsa Indonesia mulai menasionalisasikan perusahaan 
perusahaan Belanda terutama bidang perkebunan. Tapi
sayangnya kenyataan bahwa ngatur Migas itu perlu duit banyak, teknologi dan 
kemampuan managerial sehingga sistem konsesi masih
berjalan walaupun dipermak sana sini tapi tidak lebih menguntungkan 
dibandingkan kalau diambil alih sepenuhnya oleh bangsa
Indonesia.

Dengan adanya konsesi dimana perusahaan asing Migas dapat beroperasi di 
Indonesia sebetulnya mengunjukkan bangsa Indonesia telah
merubah isu “kontrol” menjadi “management”. Sayangnya sampai sekarang dengan 
kemampuan duit, teknologi (know how) dan managerial
skill yang ada, visi dan keinginan pemerintah tidak dapat dibandingkan dengan 
visi dan keinginan pemerintah BK waktu itu. Banyak
tenaga ahli Migas Indonesia yang kerja di perusahaan asing diluar negeri 
terutama setelah paska 1998 Orba.

Baru tahun 1960, pemerintah dapat menghasilkan undang undang Migas yakni No. 
44/1960. Sumber data bung Yohanes inflasi mulai dari
tahun 1952:100, 1953: 111 dst itu memang bangsa Indonesia baru merdeka dan 
banyak yang harus diurus dari ngurus perang dengan
Belanda yang mau balik lagi (aksi 1 dan aksi 2), Perang PRRI/Permesta dengan 
sokongan Amerika lewat CIA dan Inggris, Nasution main
main dengan dekrit presiden, Trikora membebaskan Irian, perang dengan Malaysia 
dst. Pramudya Anantoer bilang: “kita itu dikepung”.
Jadi memang periode Orla itu susah sekali, konteks perang dingin itu bermain di 
Indonesia belum lagi ditambah dengan urusan dalam
negeri (militer, institusi agama, ideologi dll).

Duit dalam menjalankan pemerintah baru Indonesia itu utamanya bersumber dari 
sektor perkebunan (60 - 67 kontribusi perkebunan utk
GDP = 47.36%) dan Migas (6.65%). Walaupun kontribusi Migas dibawah sektor 
perdagangan (13.38%) dan public administration (10.42%),
sektor Migas ini sumber dana kas yang lancar (liquid asset) 
http://www.iisg.nl/indonesianeconomy/servicesector.pdf

Kedua sektor ini belum terkelola dengan baik. Dapat dibayangkan susahnya 
pemerintahan BK dalam mengatur perekonomian Indonesia.
Kendala utamanya adalah: sumber daya manusia yang belum memadai, teknologi 
mengelola sumber daya alam belum ada, persoalan dalam
negeri (menyeimbangkan kekuatan dalam negeri yang akhirnya BK menelorkan 
Nasakom), intervensi luar negeri untuk menguasai kembali
Indonesia (Belanda berusaha mempengaruhi Amerika pemenang PD2 bahwa BK adalah 
komunis yang akhirnya Amerika tidak percaya tetapi
sayangnya sudah terlambat BK sudah dilemahkan kekuatannya).

Salam,
nesare

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of T Chandra
Sent: Sunday, May 06, 2007 5:40 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL 
PROTECTED]
Subject: [HKSIS] Re:Pertanyaan kepada Pak Nasare ==> Keadaan ekonomi masa 
Soekarno

Bpk Nesare, saya cuma ingin tambahkan, tapi sayang lupa sumbernya, bahwa ada
beberapa pakar Barat yang menulis tentang 1965/66 itu bahwa Barat konkritnya AS 
bersama teman-temanya di Indonesia sangat aktip
mengacaukan perekonomian Indonesia
dengan permainan devisa dan juga merusak pengadaan bahan-bahan pokok sehingga 
inflasi sangat meroket. Ini semua untuk membuat rakyat
benci sama Pak Sukarno, dan menganggap penguasa baru HMS sebagai Ratu Adil atau 
Satria Piningit. Cuma ujung-ujungnya kita semua tahu
dengan imbas amburadul sampai sekarang ini. Banyak "intelektual" yang memakai 
banyak PhD menulis seolah sebelum, terjadinya 1965-66
dan sesudahnya hanya perkembangan di Indonesia saja. Tidak ada obok-obon dari 
luar.
Sebetulnya semua disiapkan sejak lama, ada juga pakar Barat yang menulis sejak 
1952.
Kekuasaan militer yang sampai 32 tahun juga telah disiapkan rapi jauh-jauh 
hari. Apa Pak Nasare bisa menulis tentang think Dephan AS
yang menyiapkan semua analisis tentang ini semua sejak permulaan tahun 1950?
Sekian dulu, TCh

HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

----- Original Message -----
From: nesare
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: HKSIS
Sent: Saturday, 5 May, 2007 22:08
Subject: [HKSIS] RE: [t-net] Pertanyaan kepada Pak Nasare

f harga setabil? Sedangkan dalam Demokrasi Terpimpin jadi tak terkendali? Siapa 
yang memegang kekuasaan nyata selama Demokrasi
Terpimpin?

Konteks politiknya bisa dipahami dari urutan peristiwa ini: SOB (Negara Dalam 
Bahaya) mulai April 1957, Kampanye Sita Modal Asing
mulai Desember 1957, Jalan Tengah Nasution yang diumumkan November 1958, Dekrit 
5 Juli 1959, Trikora dan Rasialisme 1962/63. Kelima
peristiwa ini berurutan. Mula-mula SOB diumumkan pada awal bulan April 1957, 
karena di beberapa daerah sudah ada pergolakan. Dengan
diumumkannya SOB praktis kekuasaan di daerah-daerah berada dalam tangan 
militer. Kegiatan politik, ekonomi, penerbitan media,
buka-tutup usaha, dsb itu semua berada dalam kekuasaan militer.

Kampanye Sita Modal Asing mulai Desember 1957 dalam kondisi SOB. Yang mulai 
sebenarnya KBM, ormas buruhnya PNI. Semua kelompok
politik waktu itu (termasuk militer yang menjadi penguasa) setuju kampanye sita 
modal asing karena konteksnya adalah perjuangan
membebaskan Irian Barat. Modal-modal besar milik Belanda dan pendukungnya harus 
disita. Yang paling aktif dalam kampanye itu selain
ormas buruh PNI itu, diikuti juga oleh SOBSI, ormas buruhnya PKI. Tapi setelah 
perkebunan besar, pabrik-pabrik, pertambangan,
perminyakan, perusahaan perkapalan, dll itu secara simbolis disita oleh 
ormas-ormas buruh itu, yang kemudian mengambil alih
managemennya adalah para perwira Angkatan Darat. Dengan memiliki kekuasaan 
politik memakai SOB dan dengan memiliki kekuatan ekonomi
setelah mengambil alih modal asing, bulan November 1958 Nasution mengumumkan 
Jalan Tengah: Militer bukan hanya kekuatan hankam
tetapi juga kekuatan politik-ekonomi. Nasution.

Semua perkembangan ini bisa diterima Bung Karno dan juga kelompok politik lain 
karena pada tahun 1957-58 terjadi pemberontakan
PRRI/Permesta yang didukung AS dan Inggris. Dalam situasi kritis, okelah 
militer bergerak, mereka berdiri di depan, bertempur, dsb.
Semua kelompok politik sikapnya sama, kompak mendukung militer. Dan operasi 
menumpas PRRI/Permesta memang sukses besar. Perang
Saudara di Sumbar dan Sulut memang berlangsung keras tetapi waktunya singkat 
sekali dan korbannya minimal.

Tapi sejak AS dan Inggris mendukung PRRI/Permesta dan mendukung Belanda yang 
tidak mau menyerahkan Irian Barat sesuai dengan
persetujuan KMB, maka sikap Non Blok yang dicetuskan Bung Karno itu mulai 
berobah. BK menjadi lebih condong ke pihak Timur dalam
Perang Dingin. Selama PRRI/Permesta kota-kota di Indonesia dibom oleh pesawat 
AS, salah satu pilotnya berhasil ditembak jatuh dan
ditangkap. Ribuan senjata didrop oleh kapal selam dan juga pesawat AS untuk 
membantu PRRI/Permesta. Perobahan sikap BK dari Non Blok
menjadi condong ke kiri, menjadi lebih dekat dengan Uni Soviet dan RRT, itu 
proses yang berlangsung perlahan-lahan selama akhir
1950an dan awal 1960an.

Setelah PRRI/Permesta berhasil ditumpas, Angkatan Darat dibawah Nasution 
menjadi sangat berkuasa. Nasution minta Konstituante
dibubarkan dan mendesakkan Dekrit 5 Juli 1959, kembali ke UUD-45. Sebelumnya 
kita memakai UUD-50 yang berlandaskan sistim
kepartaian, ada perdana menteri yang harus didukung partai, dst. Tapi dengan 
UUD-45, kita kembali ke sistim presidensial. Kekuasaan
presiden besar sekali. Sejak Dekrit 5 Juli itu Indonesia mulai masuk jaman 
Demokrasi Terpimpin.

Kampanye politik berikutnya adalah Trikora, pembebasan Irian itu, mulainya 
tahun 1960. RI didukung penuh oleh Blok Timur dan dilawan
oleh Blok Barat. Militer RI yang dikerahkan untuk merebut Irian, terutama 
Angkatan Laut dan KKO pasukan penggempurnya AL, begitu
juga AURI, mulai mendapat latihan dan perlengkapan dari Blok Timur. Kapal-kapal 
perang kita dan juga pesawat pembom itu didapat dari
Uni Soviet. Operasi Trikora sukses bukan hanya karena operasi militernya tetapi 
terutama karena operasi politiknya. RI mendapat
banyak dukungan dari dunia internasional.

Setelah Trikora sukses, RI menjadi lebih dekat dengan Blok Timur (Soviet dan 
RRT). Untuk menjauhkan RI dengan RRT terjadi rasialisme
di Jawa Barat pada tahun 1962/63. Toko-toko Tionghoa di Bogor, Bandung, 
Sukabumi, dll diserbu dan dirusak. Warga Tionghoa dianiaya.
Beberapa kelompok mahasiswa di Bandung menjadi penggerak (mereka kemudian 
diadili) tapi dibalik kampanye ini ada kelompok Angkatan
Darat yang ingin menjauhkan hubungan RI-RRT. Tapi akibat rasialisme awal 1960an 
ini sebagian warga Tionghoa mengungsi, balik lagi ke
RRT, dan terjadi modal terbang dalam skala besar. Dampaknya ke ekonomi terasa 
sekali. Setelah modal asing disita, dan kemudian
dikelola oleh militer yang tidak paham ekonomi, lalu sebagian modal domestik 
terbang akibat rasialisme, inflasi melonjak.

Sebagai catatan: ketika pimpinan mahasiswa penggerak rasialisme di Jabar itu 
ditangkap (al. Muslimin Nasution, dkk) tidak ada yang
berani membela mereka karena kesalahannya begitu jelas. Yang tegas mengatakan 
mereka harus diadili dan dibela itu Aidit. Yang
kemudian berani maju menjadi pembela mereka adalah Paul Moedikdo, salah satu 
kerabatnya Aidit yang waktu itu dosen kriminologi di
Unpad (sekarang pensiunan profesor hukum di Utrecht, Belanda). Tapi Moedikdo 
hanya berani maju setelah ada omongan langsung dari
Aidit, mereka harus dibela. Pembelaan Paul Moedikdo itu bagus karena dia 
jelaskan rasialisme itu bisa muncul akibat kesenjangan
sosial.

Perkembangan politik dalam negeri dan politik luar negeri (Perang Dingin) dalam 
tahun 50an dan awal 60an itu perlu kita pahami untuk
mengerti kerusakan ekonomi kita. Kerusakan ekonomi lebih hebat lagi pada akhir 
pemerintahan Bung Karno. Tapi siapa yang mengurus
perkebunan, pertambangan, pabrik-pabrik, perminyakan, dsb yang menjadi sumber 
devisa waktu itu? Angkatan Darat, kan? Usaha Bung
Karno untuk menata kembali ekonomi itu baru mulai kembali dengan dikeluarkannya 
Deklarasi Ekonomi (Dekon) pada tahun 1962. Kel
terkendali. Setelah Kampanye Sita Modal Asing tahun 1957 sumber devisa di 
perkebunan, pertambangan, minyak, pabrik, dll itu mulai
dikuasai militer yang nggak ngerti sama sekali soal ekonomi, perdagangan, seluk 
beluk eksport-import, perbankan, dll. Dan siapa yang
bisa mengontrol militer waktu itu? PKI menjuluki mereka kapitalis birokrat 
(kapbir).

Tanpa kontrol mereka pakai untuk korupsi, membiayai pasukan atau kesatuan 
dengan dana non-budgeter, kongkalikong dengan pengusaha,
political funding para jenderal, dsb. Karena itu yang dihantam keras oleh PKI 
adalah para kapbir itu. Dan itu maksudnya ya para
manager perkebunan, pertambangan, pabrik, dll itu. Kebanyakan memang perwira AD 
atau kroni-kroninya. Bung Karno sudah menyadari
akibat Kampanye Sita Modal Asing ini. Karena itu dia mau menata kembali 
perekonomian dengan mengeluarkan Dekon tahun 1962. Tapi
belum bisa berbuat banyak. Ketika peristiwa 65 terjadi sumber-sumber devisa 
waktu itu sudah 8 tahun berada di tangan para KapBir.

Ini kenyataan pahit dalam lembaran sejarah Indonesia yang kelam. Masih banyak 
sejarah Indonesia yang belum dipahami oleh bangsanya
sendiri. Orang Indonesia kebanyakan suka berpolemik tentang bangsanya kadang 
kala kurang didukung oleh pengetahuan yang cukup.
Polemik ini bersumberkan dari data dan informasi yang kerap kali dari dalam 
Indonesia ini tingkat distorsi nya cukup tinggi.
Mengapa? Mengingat adanya kepentingan politik rejim penguasa. Oleh karena itu 
jangan heran banyak sejarahwan muda, ahli politik dan
ahli ilmu sosial yang belajar diluar negeri dimana perpustakaan tentang 
Indonesia tersimpan dalam archives yang rapi dapat
dipelajari demi kemajuan bangsa Indonesia. Kita sudah mengetahui bersama bahwa 
di Indonesia ilmu sosial itu dianggap sampah. Yang
didengung dengungkan adalah ilmu pasti. Ini ada kaitannya dengan penguasa rejim 
yang takut rakyat nya mengerti akan ilmu sosial dan
ilmu ilmu politik yang dapat menjelaskan keadaan sosial dan politik jamannya. 
Jikalau rakyat pintar dan paham situasi dan kondisi
epoleksosbudhankam, mereka ini menjadi faktor penekan rejim yang berkuasa. Oleh 
karena itulah rejim yang berkuasa ini mempunyai
kepentingan untuk mendendangkan lagu "ilmu pasti adalah segala galanya" dalam 
membangun negara.

Salam,
nesare

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Yohanes Sulaiman
Sent: Friday, May 04, 2007 6:07 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [t-net] Pertanyaan kepada Pak Nasare

Harga barang sudah hancur lebur dari sejak jaman Ali Sastroamidjojo.

Misalnya, index harga 12 bahan kebutuhan pokok:

1952: 100

1953: 111

1958 (Ali II) 263

1959 (Dekrit) 307

1960: 388

1961: 1,243

1962 (Maret): 1,910

Dari tahun 1952 ke 1962, harga 12 bahan kebutuhan pokok naik duapuluh kali
lipat. Datanya ini dari Aidit sendiri. Saya harus cari lagi index dari tahun
1962-1965, entah ada di catatan yang mana.

Tahun 1959-1965 sendiri di Indonesia ada tiga pucuk kekuasaan:
Presiden-TNI-PKI. Sukarno mati-matian berusaha menyeimbangkan TNI dan PKI,

YS

Yohanes Sulaiman

Department of Political Science

The Ohio State University

2043 Derby Hall

154 North Oval Mall

Columbus, OH 43210

In Italy for 30 years under the Borgias they had warfare, terror, murder and
bloodshed, but they produced Michelangelo, Leonardo da Vinci and the
Renaissance. In Switzerland they had brotherly love--they had 500 years of
democracy and peace, and what did that produce? The cuckoo clock.

The Third Man

_____

[Non-text portions of this message have been removed]

Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.



         

 
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

Kirim email ke