Pak Hinu, terimakasih, soalnya masyarakat kita masih terus didominasi oleh para 
intelektual cetakan Orba yang tidak bisa lepaskan diri dari tugasnya untuk 
terus mempercantik sejarah orba bersama pemimpinnya Suharto. Ingat sama 
Retnowati kan?
  Sekarang semua yang mau perubahan yang subtansial dinegeri ini seharusnya 
juga senang
  kemukakan fakta sejarah, seperti Pak Nesare. Yg dimaksud perubahan yang 
mendasar spt
  di Venezuela, Bolivia dan negara-negara Amerika Latin lainnya, bukan 
samasekali "perubahan" kayak yang dijanjikan olek Pak SBY dan Pak Kalla, yang 
sedang kira rasakan terutama oleh 80% masarakat miskin malahan lebih 
memiskinkan.
  Sejarah kan selalu dilihat dari banyak sudut pandang. Seperti Rosihan Anwar 
yang disebut
  sebut sebagai wartawan super senior dan sebagainya itu mereka selalu 
mengatakan bhw Pak Soekarno tidak thu ekonomi, lalu merusak ekonomi sebelum 
1965 dan lain-lain propaganda. kenyataannya mereka yg lalu berkuasa yang 
dipimpin oleh Paman Sam yang
  merusak ekonomi sebagai serangan awal untuk kudeta merangkak. Yang berakibat 
krisis
  multidimensi sekarang yang dalam bidang ahlak saya kuatirkan masih akan 
berlaku lama,
  dan kelihatan dalam korupsi misalnya.
  TCh

"HINU E. SAYONO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dapat dibaca di buku "Ford Country : Building An Elite for Indonesia" 
yang ditulis oleh David Ransom




T Chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bpk Nesare, saya cuma ingin tambahkan, tapi sayang lupa sumbernya, bahwa ada
beberapa pakar Barat yang menulis tentang 1965/66 itu bahwa Barat konkritnya AS 
bersama teman-temanya di Indonesia sangat aktip mengacaukan perekonomian 
Indonesia
dengan permainan devisa dan juga merusak pengadaan bahan-bahan pokok sehingga 
inflasi sangat meroket. Ini semua untuk membuat rakyat benci sama Pak Sukarno, 
dan menganggap penguasa baru HMS sebagai Ratu Adil atau Satria Piningit. Cuma 
ujung-ujungnya kita semua tahu dengan imbas amburadul sampai sekarang ini. 
Banyak "intelektual" yang memakai banyak PhD menulis seolah sebelum, terjadinya 
1965-66 dan sesudahnya hanya perkembangan di Indonesia saja. Tidak ada 
obok-obon dari luar.
Sebetulnya semua disiapkan sejak lama, ada juga pakar Barat yang menulis sejak 
1952.
Kekuasaan militer yang sampai 32 tahun juga telah disiapkan rapi jauh-jauh 
hari. Apa Pak Nasare bisa menulis tentang think tank Dephan AS yang menyiapkan 
semua analisis tentang ini semua sejak permulaan tahun 1950? 
Sekian dulu, TCh

HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

----- Original Message ----- From: nesare 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Cc: HKSIS 
Sent: Saturday, 5 May, 2007 22:08
Subject: [HKSIS] RE: [t-net] Pertanyaan kepada Pak Nasare

Bung terima kasih mengingatkan kita semua bahwa topik ini memang belum banyak 
yang memahami dan mendalaminya seperti juga banyak sejarah bangsa Indonesia 
yang kurang dipelajari dan dipahami. Data inflasi bung dari 1952 - 1962 itu 
sudah menunjukkan bahwa perekonomian RI yang baru merdeka itu dalam keadaan 
susah.

Dengan data itu kita lihat yang menarik adalah indeks bahan pokok itu hanya 
melonjak 4 kali selama 8 tahun, dari tahun 1952 sampai 1960. Itu adalah jaman 
Demokrasi Parlementer. Tapi dalam 2 tahun berikutnya, dari 1960 ke 1962 
melonjak 5 kali. Itu awal dari jaman Demokrasi Terpimpin, paska Dekrit 5 Juli 
1959. Mengapa selama Demokrasi Parlementer relatif harga setabil? Sedangkan 
dalam Demokrasi Terpimpin jadi tak terkendali? Siapa yang memegang kekuasaan 
nyata selama Demokrasi Terpimpin?

Konteks politiknya bisa dipahami dari urutan peristiwa ini: SOB (Negara Dalam 
Bahaya) mulai April 1957, Kampanye Sita Modal Asing mulai Desember 1957, Jalan 
Tengah Nasution yang diumumkan November 1958, Dekrit 5 Juli 1959, Trikora dan 
Rasialisme 1962/63. Kelima peristiwa ini berurutan. Mula-mula SOB diumumkan 
pada awal bulan April 1957, karena di beberapa daerah sudah ada pergolakan. 
Dengan diumumkannya SOB praktis kekuasaan di daerah-daerah berada dalam tangan 
militer. Kegiatan politik, ekonomi, penerbitan media, buka-tutup usaha, dsb itu 
semua berada dalam kekuasaan militer.

Kampanye Sita Modal Asing mulai Desember 1957 dalam kondisi SOB. Yang mulai 
sebenarnya KBM, ormas buruhnya PNI. Semua kelompok politik waktu itu (termasuk 
militer yang menjadi penguasa) setuju kampanye sita modal asing karena 
konteksnya adalah perjuangan membebaskan Irian Barat. Modal-modal besar milik 
Belanda dan pendukungnya harus disita. Yang paling aktif dalam kampanye itu 
selain ormas buruh PNI itu, diikuti juga oleh SOBSI, ormas buruhnya PKI. Tapi 
setelah perkebunan besar, pabrik-pabrik, pertambangan, perminyakan, perusahaan 
perkapalan, dll itu secara simbolis disita oleh ormas-ormas buruh itu, yang 
kemudian mengambil alih managemennya adalah para perwira Angkatan Darat. Dengan 
memiliki kekuasaan politik memakai SOB dan dengan memiliki kekuatan ekonomi 
setelah mengambil alih modal asing, bulan November 1958 Nasution mengumumkan 
Jalan Tengah: Militer bukan hanya kekuatan hankam tetapi juga kekuatan 
politik-ekonomi. Nasution. 
Semua perkembangan ini bisa diterima Bung Karno dan juga kelompok politik lain 
karena pada tahun 1957-58 terjadi pemberontakan PRRI/Permesta yang didukung AS 
dan Inggris. Dalam situasi kritis, okelah militer bergerak, mereka berdiri di 
depan, bertempur, dsb. Semua kelompok politik sikapnya sama, kompak mendukung 
militer. Dan operasi menumpas PRRI/Permesta memang sukses besar. Perang Saudara 
di Sumbar dan Sulut memang berlangsung keras tetapi waktunya singkat sekali dan 
korbannya minimal.

Tapi sejak AS dan Inggris mendukung PRRI/Permesta dan mendukung Belanda yang 
tidak mau menyerahkan Irian Barat sesuai dengan persetujuan KMB, maka sikap Non 
Blok yang dicetuskan Bung Karno itu mulai berobah. BK menjadi lebih condong ke 
pihak Timur dalam Perang Dingin. Selama PRRI/Permesta kota-kota di Indonesia 
dibom oleh pesawat AS, salah satu pilotnya berhasil ditembak jatuh dan 
ditangkap. Ribuan senjata didrop oleh kapal selam dan juga pesawat AS untuk 
membantu PRRI/Permesta. Perobahan sikap BK dari Non Blok menjadi condong ke 
kiri, menjadi lebih dekat dengan Uni Soviet dan RRT, itu proses yang 
berlangsung perlahan-lahan selama akhir 1950an dan awal 1960an. 

Setelah PRRI/Permesta berhasil ditumpas, Angkatan Darat dibawah Nasution 
menjadi sangat berkuasa. Nasution minta Konstituante dibubarkan dan mendesakkan 
Dekrit 5 Juli 1959, kembali ke UUD-45. Sebelumnya kita memakai UUD-50 yang 
berlandaskan sistim kepartaian, ada perdana menteri yang harus didukung partai, 
dst. Tapi dengan UUD-45, kita kembali ke sistim presidensial. Kekuasaan 
presiden besar sekali. Sejak Dekrit 5 Juli itu Indonesia mulai masuk jaman 
Demokrasi Terpimpin. 

Kampanye politik berikutnya adalah Trikora, pembebasan Irian itu, mulainya 
tahun 1960. RI didukung penuh oleh Blok Timur dan dilawan oleh Blok Barat. 
Militer RI yang dikerahkan untuk merebut Irian, terutama Angkatan Laut dan KKO 
pasukan penggempurnya AL, begitu juga AURI, mulai mendapat latihan dan 
perlengkapan dari Blok Timur. Kapal-kapal perang kita dan juga pesawat pembom 
itu didapat dari Uni Soviet. Operasi Trikora sukses bukan hanya karena operasi 
militernya tetapi terutama karena operasi politiknya. RI mendapat banyak 
dukungan dari dunia internasional.

Setelah Trikora sukses, RI menjadi lebih dekat dengan Blok Timur (Soviet dan 
RRT). Untuk menjauhkan RI dengan RRT terjadi rasialisme di Jawa Barat pada 
tahun 1962/63. Toko-toko Tionghoa di Bogor, Bandung, Sukabumi, dll diserbu dan 
dirusak. Warga Tionghoa dianiaya. Beberapa kelompok mahasiswa di Bandung 
menjadi penggerak (mereka kemudian diadili) tapi dibalik kampanye ini ada 
kelompok Angkatan Darat yang ingin menjauhkan hubungan RI-RRT. Tapi akibat 
rasialisme awal 1960an ini sebagian warga Tionghoa mengungsi, balik lagi ke 
RRT, dan terjadi modal terbang dalam skala besar. Dampaknya ke ekonomi terasa 
sekali. Setelah modal asing disita, dan kemudian dikelola oleh militer yang 
tidak paham ekonomi, lalu sebagian modal domestik terbang akibat rasialisme, 
inflasi melonjak. 

Sebagai catatan: ketika pimpinan mahasiswa penggerak rasialisme di Jabar itu 
ditangkap (al. Muslimin Nasution, dkk) tidak ada yang berani membela mereka 
karena kesalahannya begitu jelas. Yang tegas mengatakan mereka harus diadili 
dan dibela itu Aidit. Yang kemudian berani maju menjadi pembela mereka adalah 
Paul Moedikdo, salah satu kerabatnya Aidit yang waktu itu dosen kriminologi di 
Unpad (sekarang pensiunan profesor hukum di Utrecht, Belanda). Tapi Moedikdo 
hanya berani maju setelah ada omongan langsung dari Aidit, mereka harus dibela. 
Pembelaan Paul Moedikdo itu bagus karena dia jelaskan rasialisme itu bisa 
muncul akibat kesenjangan sosial. 

Perkembangan politik dalam negeri dan politik luar negeri (Perang Dingin) dalam 
tahun 50an dan awal 60an itu perlu kita pahami untuk mengerti kerusakan ekonomi 
kita. Kerusakan ekonomi lebih hebat lagi pada akhir pemerintahan Bung Karno. 
Tapi siapa yang mengurus perkebunan, pertambangan, pabrik-pabrik, perminyakan, 
dsb yang menjadi sumber devisa waktu itu? Angkatan Darat, kan? Usaha Bung Karno 
untuk menata kembali ekonomi itu baru mulai kembali dengan dikeluarkannya 
Deklarasi Ekonomi (Dekon) pada tahun 1962. Kelompok PSI (Partai Sosialis 
Indonsia) adalah partai yang merumuskan Dekon. Konsep perekonomian versi Bung 
Karno itu baru selesai 1962, setelah Indonesia baru saja selesai Perang Saudara 
dan Pembebasan Irian.

Ekonomi akhir pemerintahan Bung Karno itu dibahas mendalam dalam disertasi 
Jeffrey Winters, "Power In Motion" ("Modal Bergerak, Modal Berkuasa"). Mungkin 
bagus buat yang berminat mengetahui ekonomi Indonesia masa masa akhirnya BK. 
Ini topik penting tapi banyak orang tidak paham sama sekali konteks 
politik-ekonominya. 

Masalah politik ekonomi jaman akhirnya BK dan pembunuhan massal 1965 yang 
penting ini perlu kita pahami bersama. Tetapi jangan anggap gara-gara ekonomi 
susah lalu terjadi Pembunuhan Massal. Karena pembunuhan itu memang dirancang, 
diorganisir, direncanakan, dikendalikan. Kemarahan orang direkayasa dengan 
fitnah Lubang Buaya yang disiarkan terus menerus selama beberapa bulan, melalui 
media yang sepenuhnya dikontrol oleh Pak harto cs. Yang dijadikan pembunuh itu 
dilatih, dipersenjatai, disiapkan angkutan, dikasih 'daftar mati' yang dibikin 
tentara sendiri, dst. Kesukaran ekonomi itu cuma latar belakang. Jangan kita 
kemudian beranggapan begitu ekonomi susah orang Indonesia lalu bunuh 
tetangganya sendiri.

Jadi memang BK tidak menghancurkan ekonomi Indonesia. Data data inflasi bung 
itupun terlihat jelas bahwa selama Demokrasi Parlementer ekonomi memang susah 
tapi masih terkendali. Setelah Kampanye Sita Modal Asing tahun 1957 sumber 
devisa di perkebunan, pertambangan, minyak, pabrik, dll itu mulai dikuasai 
militer yang nggak ngerti sama sekali soal ekonomi, perdagangan, seluk beluk 
eksport-import, perbankan, dll. Dan siapa yang bisa mengontrol militer waktu 
itu? PKI menjuluki mereka kapitalis birokrat (kapbir).

Tanpa kontrol mereka pakai untuk korupsi, membiayai pasukan atau kesatuan 
dengan dana non-budgeter, kongkalikong dengan pengusaha, political funding para 
jenderal, dsb. Karena itu yang dihantam keras oleh PKI adalah para kapbir itu. 
Dan itu maksudnya ya para manager perkebunan, pertambangan, pabrik, dll itu. 
Kebanyakan memang perwira AD atau kroni-kroninya. Bung Karno sudah menyadari 
akibat Kampanye Sita Modal Asing ini. Karena itu dia mau menata kembali 
perekonomian dengan mengeluarkan Dekon tahun 1962. Tapi belum bisa berbuat 
banyak. Ketika peristiwa 65 terjadi sumber-sumber devisa waktu itu sudah 8 
tahun berada di tangan para KapBir.

Ini kenyataan pahit dalam lembaran sejarah Indonesia yang kelam. Masih banyak 
sejarah Indonesia yang belum dipahami oleh bangsanya sendiri. Orang Indonesia 
kebanyakan suka berpolemik tentang bangsanya kadang kala kurang didukung oleh 
pengetahuan yang cukup. Polemik ini bersumberkan dari data dan informasi yang 
kerap kali dari dalam Indonesia ini tingkat distorsi nya cukup tinggi. Mengapa? 
Mengingat adanya kepentingan politik rejim penguasa. Oleh karena itu jangan 
heran banyak sejarahwan muda, ahli politik dan ahli ilmu sosial yang belajar 
diluar negeri dimana perpustakaan tentang Indonesia tersimpan dalam archives 
yang rapi dapat dipelajari demi kemajuan bangsa Indonesia. Kita sudah 
mengetahui bersama bahwa di Indonesia ilmu sosial itu dianggap sampah. Yang 
didengung dengungkan adalah ilmu pasti. Ini ada kaitannya dengan penguasa rejim 
yang takut rakyat nya mengerti akan ilmu sosial dan ilmu ilmu politik yang 
dapat menjelaskan keadaan sosial dan politik jamannya.
Jikalau rakyat pintar dan paham situasi dan kondisi epoleksosbudhankam, mereka 
ini menjadi faktor penekan rejim yang berkuasa. Oleh karena itulah rejim yang 
berkuasa ini mempunyai kepentingan untuk mendendangkan lagu "ilmu pasti adalah 
segala galanya" dalam membangun negara.

Salam,
nesare

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Yohanes Sulaiman
Sent: Friday, May 04, 2007 6:07 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [t-net] Pertanyaan kepada Pak Nasare

Harga barang sudah hancur lebur dari sejak jaman Ali Sastroamidjojo.

Misalnya, index harga 12 bahan kebutuhan pokok:

1952: 100

1953: 111

1958 (Ali II) 263

1959 (Dekrit) 307

1960: 388

1961: 1,243

1962 (Maret): 1,910

Dari tahun 1952 ke 1962, harga 12 bahan kebutuhan pokok naik duapuluh kali
lipat. Datanya ini dari Aidit sendiri. Saya harus cari lagi index dari tahun
1962-1965, entah ada di catatan yang mana.

Tahun 1959-1965 sendiri di Indonesia ada tiga pucuk kekuasaan:
Presiden-TNI-PKI. Sukarno mati-matian berusaha menyeimbangkan TNI dan PKI,

YS

Yohanes Sulaiman

Department of Political Science

The Ohio State University

2043 Derby Hall

154 North Oval Mall

Columbus, OH 43210

In Italy for 30 years under the Borgias they had warfare, terror, murder and
bloodshed, but they produced Michelangelo, Leonardo da Vinci and the
Renaissance. In Switzerland they had brotherly love--they had 500 years of
democracy and peace, and what did that produce? The cuckoo clock.

The Third Man

_____ 

Kirim email ke