Setuju kalau memang betul bisa TANPA KEKERASAN tetapi kenyataannya banyak mengumbar kekerasan, minimal KEKERASAN VERBAL. Agama mengajarkan jalan hidup alternatif, bukan mengajarkan konfrontasi. Oleh sebab itu jangankan mau ditarik ke ranah ideologi.. lha di ranah aplikasi keseharian saja sudah sering menghembuskan perseteruan.
Wassalam On 5/7/07, harryfadil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jadi konkritnya 1. Hizbut Tahrir Indonesia 2. Ikhwanul Muslimin (Partai Keadilan Sejahtera/PKS) 3. Al Qaeda (Majelis Mujahiddin Indonesia) apa begitu...? kalau saya berprinsip selama perbedaan ideologi yang menggunakan agama sebagai tamengnya tidak menggunakan KEKERASAN sebagai solusinya sah - sahnya yang penting sebagai umat beragama tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "nurul huda maarif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > NU Vs Gerakan Trans-Nasional > > > Oleh: Abd Moqsith Ghazali* > Baru-baru ini PBNU (Pengurus Besar Nahdatul Ulama) mengeluarkan seruan > penting, sebagaimana dilansir NU Online pada tanggal 24 & 25 April 2007. > PBNU meminta masyarakat Indonesia berhati-hati terhadap gerakan > transnasional yang berkembang di Indonesia. Gerakan ini dinilai PBNU > potensial menghancurkan ideologi negara Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Ketua > Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, menyebut Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan > al-Qaeda sebagai bagian dari international political movement (gerakan > politik dunia) yang tak memiliki akar budaya, visi kebangsaan, dan visi > keumatan di Indonesia. Menurut Hasyim, organisasi-organisasi tersebut telah > menjadikan Islam sebagai ideologi politik dan bukan sebagai jalan hidup. > Lebih jauh, Hasyim menengarai bermunculannya tendensi formalisasi agama > sebagai indikator dari gerakan mereka itu. Padahal, tegas Hasyim, yang > dilakukan mestinya bukan formalisasi melainkan substansialisasi agama. > > http://www.gusdur.net/indonesia/index.php?option=com_content&task=view&id=2678&Itemid=1 >
