Massa Turki Tolak Negara Islam Istanbul - Lebih dari satu juta orang ambil bagian dalam demonstrasi di Istanbul, Turki, Minggu (29/4), untuk mendukung tetap diterapkannya sekulerisme dan demokrasi di negeri mereka. Mereka khawatir Turki akan menjadi negara Islam saat Menteri Luar Negeri Abdullah Gul tetap mencalonkan diri sebagai presiden. Unjuk rasa dilakukan di tengah ketegangan soal pemilihan presiden antara pemerintah dari kalangan Islam dengan pihak militer. Pengunjuk rasa yang diorganisasi sekitar 600 lembaga swadaya masyarakat (LSM) itu membawa bendera Turki, merah-putih, dan foto pendiri bangsa, Mustafa Kemal Ataturk, ke alun-alun kota, Caglayan. "Turki adalah sekuler dan akan tetap sekuler" atau "Tidak bagi Syariat atau kudeta, tapi Turki yang demokratis," teriak mereka. Demonstrasi di Istanbul itu menyusul unjuk rasa serupa di Ankara pada 14 April yang dihadiri 1,5 juta orang. Ketegangan meningkat setelah Menteri Luar Negeri Abdullah Gul, dari partai Islam berkuasa, yaitu Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), tidak lolos dalam pemilihan presiden putaran pertama di parlemen akhir pekan lalu. AKP menguasai 550 kursi di parlemen, tapi tidak bisa memenuhi dua per tiga suara agar Gul lolos dalam pemilihan pertama yang berlangsung dua putaran. Pihak oposisi memboikot pemilihan itu karena masa lalu Gul yang erat dengan gerakan Islam serta mereka tidak diajak bicara atas pencalonannya dari jalur non-partisan. Militer, yang sudah tiga kali melakukan kudeta di masa lampau, mengeluarkan pernyataan bahwa mereka berkewajiban melindungi sistem sekuler di Turki dan siap bertindak jika keadaan mengharuskan. Para pengamat mengatakan pernyataan itu adalah isyarat jelas bahwa pencalonan Gul tidak mendapat sambutan. Kemungkinan Gul menjadi kepala negara telah mencemaskan kaum sekuler yang takut jika dia terpilih, pemisahan antara negara dan agama yang selama ini sangat jelas, akan dihapus dan Islam akan masuk ke semua segi kehidupan.
Gul dan Perdana Menteri Tayyip Erdogan berasal dari partai Islam sebelum membentuk AKP pada 2001. Keduanya mengatakan mereka kini setia pada prinsip sekuler. Gul Tolak Mundur Sementara itu, Gul menolak tuntutan mundur dari pencalonan presiden seperti yang dikehendaki para pemrotes. "Proses (pemilihan presiden) telah dimulai dan tetap berlangsung. Pencalonan saya tidak perlu dipertanyakan lagi," kata Gul kepada para wartawan di Ankara. AKP pun menolak tuduhan menyimpan agenda Islam. Partai tersebut bahkan menyatakan turut berperan mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat di Turki disertai derasnya investasi asing. Selain itu, AKP juga mendukung upaya Turki menjadi anggota baru Uni Eropa (UE) sejak berkuasa di parlemen pada 2002. AKP yang diperkirakan kembali menang pada pemilihan umum yang selambat-lambatnya berlangsung November mendatang juga memangkas kekuasaan militer sebagai bagian dari reformasi seperti yang dipersyaratkan UE. Namun kalangan sekuler, termasuk para jenderal, meragukan sikap pimpinan AKP. Menurut mereka, baik Erdogan maupun Gul akan menunjukkan sikap asli bila mereka menguasai tampuk kepemimpinan Turki dengan mendorong dominasi peran agama dalam kehidupan di negara tersebut. "Turki sedang di tengah ancaman dari kepimpinan AKP. Kami tidak akan mampu mengekspresikan pemikiran kami lagi bila mereka berkuasa," kata seorang pemrotes bernama Cigdem Yilmasz, pemuda berusia 22 tahun yang berstatus mahasiswa. (ant/afp/reuters/ ren)
