"Sebuah Negara yang semakin lama semakin miskin,
kemungkinan potensi rusaknya lingkungan makin kuat."

Koran Komunitas (KK) :
Bagaimana pak Arif melihat pemiskinan masyarakat ?

Arif Budiman (AB):
Saya melihat, sebuah masyarakat adalah masyarakat yang ideal, sama
rata, sama rasa seperti masyarakat yang digambarkan kaum komunis.
Sebagai bentuk masyarakat, itu bagus sekali. Tapi ide seperti itu,
gimana ya. Karena kita menganut sistem kapitalis, dimana mereka yang
punya modal itu berusaha dapat lebih banyak. Maka terjadilah
masyarakat yang disebut masyarakat berkelas.

Secara teoritis ada dua tipe masyarakat. Masyarakat patern dan
masyarakat yang dinamis. Artinya orang berlomba-lomba untuk lebih
kaya, punya ide baru, ya seperti masyarakat komunis sosialis yang
diatur oleh Negara sehingga tidak mungkin ada orang kaya. Semua orang
bekerja, dia akan mendapatkan hasil sesuai dengan kebutuhannya.

Sedangkan yang kedua adalah masyarakat kapitalis, dia memberikan
sumbangan yang dia bisa dan memperoleh sesuai dengan sumbangannya itu.
Akhirnya di masyarakat kapitalis ada perbedaan gaji yang sangat
menonjol.

Masyarakat kapitalis membuat orang mau bekerja untuk berprestasi, mau
berinovasi, untuk mendapatkan uang. Kemiskinan adalah akibat dari
adanya masyarakat kapitalis.

Meskipun di dunia ini tidak ada masyarakat kapitalis murni, dimana
orang yang kaya bisa seenaknya saja, asal tidak melanggar hukum
melakukan penumpukan modal. Karena di Negara maju misalnya, mereka
yang sukses, pajaknya besar, diambil oleh pemerintah. Yang
sumbangannya itu digunakan untuk memberikan subsidi silang.

Di Australia, pajak orang kaya mencapai 50% untuk penghasilan diatas
35 ribu dolar. Sedangkan untuk 10ribu dolar hanya 10% dibawahnya tidak
dikenakan pajak.

Warga Negara Australia, bisa meminta pekerjaan kepada pemerintah
ketika dia tidak memiliki pekerjaan, dan jika belum ada lowongan, maka
pemerintah wajib membiayai hidupnya 250 dolar perminggu. Setelah ada
pekerjaan, meskipun bukan bidangnya, dia tetap harus kerja. Supaya
meringankan beban pemerintah.

Jadi di Australia atau Amerika, orang miskin dapat subsidi silang dari
pemerintah yang uangnya dari orang kaya.

Di negara miskin, orang kayanya tidak terlalu kaya sehingga tidak bisa
memberikan banyak pajak ke pemerintah, sangat terbatas. Jadi
pemerintah belum bisa memberikan subsidi silang seefektif di Negara
maju. Ada program yang sama dengan Australia, Jaring Pengaman Sosial,
namun tidak seefektif di Australia.

Problemnya biasa pemerintah / birokrasi yang tidak efektif tidak
seperti di Australia yang sangat efektif. Karenanya banyak sekali
warga Negara miskin yang berdatangan ke Australia dan berkeinginan
menjadi warga Negara.

(KK) : Bagaimana anda melihat dampak dari adanya kemiskinan di masyarakat?

(AB) : Saya melihat kasus pencurian di masyarakat, yang terjadi bukan
karena masalah moral, namun karena masalah kemiskinan. Jika ini terus
terjadi lama-lama akan menjadi masalah moral.

Kemiskinan, mengancam masalah keamanan yang bisa menimbulkan masalah
erosi moral. Pada akhirnya orang akan semakin menjaga jarak dengan
agama, karena merasa ajaran agama yang melarang pencurian yang
dilakukan meski untuk memenuhi kehidupan. Padahal pencurian yang
terjadi di masyarakat miskin itu terjadi karena adanya kepepet.

Kejahatan yang dilakukan masyarakat miskin, saya masih bertanya-tanya.
Itu masalah moral atau tidak. Lain halnya kalau yang melakukan
pencurian itu menteri atau anggota dewan, ini sudah masalah moral.
Karena orang memang tidak pernah merasa cukup.

(KK) : Kerusakan lingkungan yang terjadi  sekarang, bagaimana pandangan anda ?

(AB) : Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini ádalah karena adanya
perusahaan besar yang melakukan operasionalnya tidak memenuhi stándar
sebuah perusahaan. Mau mengambil keuntungan yang besar dengan
mengesampingkan masalah lingkungan sehingga menimbulkan masalah
lingkungan. Perusahaan berusaha menekan pengeluaran sampai mengabaikan
masalah lingkungan. Dalam hal ini pemerintah harus benar-benar awas
dalam masalah ini, karena ini menyangkut masalah masa depan bangsa.
Tapi seringkali pemerintahnya ikut korup dalam masalah ini sehingga
tidak terjadi keefektifan pelaksanaan sebuah peraturan. Banyak
perusahaan bisa melakukan itu karena adanya ijin dari pemerintah dan
kita semuanya tahu.

Yang menarik dari masalah lingkungan ádalah kalau isu Lapindo itu
masalah nasional, tapi kalau sudah ngomong masalah lingkungan, sudah
menjadi isu internasional. Akibat kerusakan lingkungan, pengaruhnya
bisa sampai ke negara-negara tetangga. Makanya perlu adanya LSM yang
menjadi wacth dog bagi kerja-kerja pemerintah. Memang ini sudah
dilakukan, tapi kerja-kerja LSM ini belum efektif  seperti yang
diharapkan. Akan tetapi di jaman sekarang ini LSM lebih efektif
dibandingkan dengan jaman Soeharto dulu. Contoh efektifitas LSM bisa
kita lihat dalam kasus pengambilan pasir pantai di pulau Batam yang
dibawa ke Singapura dalam rangka untuk perluasan wilayah. LSM dalam
hal ini sudah melakukan upaya-upaya penghentian penambangan pasir
sehingga penambangan itu bisa dihentikan.

Media kita berbeda dengan zaman Soeharto, tidak dikontrol pemerintah,
sehingga bisa teriak-teriak, kerja sama dengan pihak luar, sehingga
bisa melakukan perlawanan. Yang saya lihat sekarang relatif sudah ada
perlawanan. Meskipun perlawanan-perlawanan itu masih kalah, karena
pengusaha-pengusaha itu bisa membeli pejabat. Misalnya kasus
Kedungombo, bank dunia ikut membiayai masalah ganti rugi ke warga.
Namun ketika di cek ke lapangan, penggantian ini tidak sesuai dengan
anggaran dari bank dunia. Perjuangan kita lewat LSM dan menekan bank
dunia sehingga bank dunia menghentikan bantuannya ke pemerintah, kalau
petani tidak dapat ganti rugi.

Kenapa penekanan kita lakukan ke bank dunia, karena kalau kita hanya
lewat dalam saja tidak cukup efektif. Berbeda kalau penekanan itu juga
berasal dari pihak luar. Sayangnya NGO di negara kita ini banyak yang
dibiayai dari luar (funding) bukan dari perusahaan besar yang ada di
sini.
Kalau di luar negeri itu kan Ngo dibiayai perusahaan besar. Sehingga
mereka kuat dari dalam. Bahkan zaman Soeharto itu dulu dikatakan Ngo
itu antek-antek luar negeri. Ya memang harus gitu, karena kalau kita
tidak ada kerja sama dengan luar negeri maka perjuangan kita mungkin
tidak akan berhasil. Buat saya tidak ada masalah funding dari mana
selama isu yang dibawa itu bagus dan menolong. LBH aja lah yang walau
sudah menolong buruh banyak itu kan fundingnya dari luar. Bahkan
funding luar negeri itu semakin memperkuat kita. Karena kalau mau
diangkat, fundingnya bisa teriak-teriak dan bisa mendukung kita.
Sekarang kita itu lebih mudah daripada dulu.

(KK) :Pengaruh kerusakan lingkungan terhadap pemiskinan ?

(AB) :Kalau saya melihat sebaliknya, kemiskinan mempengauhi kerusakan
lingkungan. Karena kerusakan lingkungan tidak harus menimbulkan
kemiskinan, Namun kemiskinan menimbulkan kerusakan lingkungan.

Masyarakat di Kalimantan contohnya, karena sudah kehilangan sumber
mata pencaharian, maka mereka melakukan kerusakan lingkungan dengan
melakukan penebangan pohon di hutan-hutan, sehingga menimbulkan
kerusakan lingkungan. Karena kondisi kepepet, pabrik-pabrik ditutup,
tidak ada penghasilan, sehingga melakukan penebangan. Kalau itu
dilarang, terus mereka bagaimana bertahan hidupnya.

Jadi apakah lingkungan lebih penting dari pada kemiskinan, atau
keduanya. Tapi kemiskinan lebih terasa langsung dampaknya. Kalau
lingkungan entah lima tahun ke depan, atau sepuluh tahun. Salah satu
agenda menyelesaikan masalah lingkungan ádalah menyelesaikan masalah
kemiskinan, karena kalau tidak ya sukar menyelesaikan.

Seperti masalah pemakaian kompor minyak tanah yang banyak mencemarkan
udara. Karena minyak tanah yang paling murah, ya bagaimana kita mau
melarang orang miskin memakai minyak tanah karena menimbulkan
kerusakan lingkungan. Ya mau bagaimana karena dia tidak bisa memiliki
kompor listrik.

 Kerusakan lingkungan jelas menimbulkan masalah bagi rakyat miskin dan
kaya. Dan kemiskinan itu sendiri menimbulkan masalah pencemaran
lingkungan.

(KK) :Kebijakan pemerintah sudah sejauh mana keberpihakannya terhadap
masalah lingkungan ?

Saya kira perhatian pemerintah itu agak lumayan karena adanya tekanan
dari Ngo. Kalau tidak, pemerintah cenderung akan dipengaruhi oleh
pengusaha, yang kadang-kadang demi keuntungan tidak memperhatikan
masalah lingkungan. Tapi saya melihat keterlibatan Ngo dengan luar
negeri itu sudah tidak masalah lagi seperti zaman Soeharto. Ironisnya
dalah ketergantungan pembangunan kita terhadap hutang luar negeri.
Inikan jelek, sebenarnya. Pembangunan kita, dari hasil hutang. Kalau
nggak macet. Tapi itu ada kebaikannya dalam arti kata Ngo-ngo yang
lobi ke pemerintah Jepang, itu pemerintah Jepang jadi melihat kalau
pemerintah Indonesia tidak memperhatikan nasib buruh, petani, maka
bantuan luar negeri akan dikurangi. Ketergantungan pemerintah
Indonesia dalam pembangunan dari hutang luar negeri menjadikan
pemerintah lebih sensitif terhadap nasib buruh, petani. Jadi
ketergantungan Indonesia secara ekonomis ini selain negatif juga ada
nilai positifnya. Pemerintah dalam hal ini bisa lebih sensitif. Karena
untuk masalah-masalah lingkungan itu Ngo nya lebih kuat dibandingkan
dengan di sini.

(KK) : Kebijakan pengelolaan lingkungan kaitannya dengan masalah
kemiskinan, bagaimana ?

(AB) : Bagi saya kerusakan lingkungan mempengaruhi kualitas hidup.
Yang akan berpengaruh baik bagi kalangan kelas menengah maupun
orang-orang miskin. Adanya kemiskinan, menambah kerusakan lingkungan
hidup. Kerusakan lingkungan bukan hanya lingkungan alam, tapi juga
lingkungan social, seperti masalah pencurian, kriminal.

Jadi masalah lingkungan ada kaitannya erat sekali dengan masalah
kemiskinan yang harus segera diselesaikan. Semakin Negara itu miskin,
semakin banyak kemungkinan kerusakan lingkungan baik alam maupun
sosial.

(KK) : Konsep yang ditawarkan sebagi pemecahan masalah lingkungan, seperti apa ?


(AB) : Menyelesaikan masalah kemiskinan, kemudian masalah lingkungan.
Dalam hal ini pemerintah berusaha untuk menciptakan lapangan
pekerjaan. Itu tentunya masalah yang besar. Tetapi pemerintah harus
berusaha sebisa-bisanya menyelesaikan masalah kemiskinan untuk
mengurangi masalah lingkungan.

Semakin sedikit kemiskinan, semakin sedikit kerusakan lingkungan. Jadi
bukan hanya memberikan uang ke masyarakat miskin, tapi menciptakan
pekerjaan itu yang penting. Seringkali dalam hal ini perusahaan bisa
diajak kerja sama.  (red)

--
KORAN KOMUNITAS
media informasi dan komunikasi antar komunitas
Alamat Redaksi :
Jl Menur 38 Salatiga - Jawa Tengah - Indonesia
Telp/fax : 0298-327719
--

Jika ingin berlangganan silakan kontak via email atau hub di alamat redaksi

Kirim email ke