Per-tama2 saya tidak menyebut masyarakat. Karena didalam postingan ini yang dibicarakan adalah pemerintah Amrik yang menurut anda arogan, maka pada waktu saya mengatakan "Manusiawi tidaknya seorang pejabat konsular,bukanlah menjadikan ukuran bahwa suatu negara arogan", maka seperti yang anda lihat, yang dimaksud disini sama sekali bukan masyarakat Amrik, melainkan pemerintah/negara amrik.
Dalam halnya pem. Amrik memberikan visa - seorang pejabat konsuler Amrik harus mempertimbangkan apakah orang tsb. memenuhi persyaratan2 yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Saya tidak mengerti kok anda menyebut mengenai HAM segala. Apakah diberikannya suatu visa adalah suatu hak manusia yang azasi? Bacalah dan pelajarilah Deklarasi HAM PBB. Betul apa yang anda bilang bahwa sami mawon ada orang Amrik yang bekerja di luar negeri. Tetapi, baca sekali lagi dengan cermat posting saya sebelum ini, sebab apa yang anda katakan tsb. adalah karena anda tidak menyimak. Saya menyebutkan mengenai banyaknya orang eropa yang sesudah bekerja di Amrik berkutet untuk tetap tinggal disini sesudah izin kerjanya habis. Sampai mengeluarkan uang ribuan dollar untuk mendapatkan nasihat lawyer supaya bisa memenuhi persyaratan bisa tinggal disini. Ini adalh suatu fakta. Tetapi berapa banyaknya orang Amrik yang bekerja di Eropa umpamanya yang berkutet untuk tetap tinggal bekerja di Eropa dan mendapatkan izin tinggal permanen? Tidak banyak. Saya sebutkan di posting saya sebelum ini sebab anda menyebutkan kawan anda yang orang Amrik yang 'takut' pada waktu dia ke Eropa akan dikenali sebagai orang Amrik. Kalau orang itu benar2 'takut' maka orang tsb. tidak akan ke Eropa, pergi saja ke tempat lain. Orang2 yang takut akan suatu negara tidak akan bepergian ke negara tsb. --- manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Woo...tampaknya sejak semula Anda ini sudah salah > tangkap dan salah konteks. Saya ngomong soal kedubes > AS sebagai isntitusi negara AS lho, Bung, bukan > ngomong soal masyarakat AS. > > Dan Anda bilang SEORANG pejabat konsuler? Ini bukan > oknum Bung, dan bukan cuma di Indonesia doang > kejadiannya. Ini sudah bersifat sistemik. Bahwa > pejabat Indonesia juga doyan mempersulit, ini bukan > rahasia juga. Memang diakui kok, semua orang juga > bisa konfirmasi. Tapi, seenggaknya, kita nggak > pernah mimpi Indonesia akan jadi pendekar HAM kelas > global. Sementara, AS di mana-mana kan gembor-gembor > sebagai benteng HAM nomor wahid di seluruh dunia. > Liat aja, gak pernah bosen tiap tahun mengeluarkan > daftar negara pelanggar ini dan itu, lupa bahwa > dirinya sendiri kurang haormat sama HAM. > > Orang Eropa banyak kerja dan tinggal di AS? Yep, > tentu saja. Mereka gak punya kesulitan dapet visa ke > AS. Sama-sama dominan kulit putihnya sih. Tapi, > banyak juga lho orang AS yang lebih kerasan tinggal > dan kerja di negeri orang. Sami mawon. Ke manapun > Anda pergi, pasti bisa ketemu orang AS. "Eksodus" > ini terutama terjadi sejak Bush jadi presiden AS. > > manneke > > > -----Original Message----- > > > Date: Wed May 16 21:29:25 PDT 2007 > > From: "amartien" <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: Re: [mediacare] Re: 7,000 RI students win > scholarship to U.S. > > To: [email protected] > > > > Manusiawi tidaknya seorang pejabat konsular, > bukanlah menjadikan ukuran bahwa suatu negara > arogan. > > > > Tingkah laku pejabat Indonesia terhadap penduduk > Indonesia yang bukannya membantu dalam urusan > dokumen umpamanya, tetapi mempersulit, dengan > pengharapan bahwa akan ada pelicinnya --- apakah itu > manusiawi atau tidak? > > > > Mengenai pengalaman kawan anda, memang dari dulu > orang Eropa dengan medianya tidak senang ke Amrik. > > > > Tetapi fakta adalah banyak orang dari Eropa Barat > yang tetap saja masih ingin tinggal dan bekerja > disini. > > > > Kawan2 saya yang dari Eropa, sesudah mendapat visa > kerja di Amrik, memilih utk. tinggal di Amrik. > Macam2 cara yang dilakukan (legal) demi mendapatkan > green card. Dan mereka itu bukan buruh, melainkan > lulusan universitas dengan pekerjaan yang baik. > > > > > > > > manneke <[EMAIL PROTECTED]> >
