Refleksi: Agaknya selama ini madu tetesan surgawi hanya dianugerahkan kepada 
yang berkuasa dan bukan kepada umat [rakyat mayoritas] dan oleh sebab itu 
jumlah angka kemisikanan tetap melangit dari tahun ke tahun. Berbicara tentang 
kemiskinan, di Latin Amerika ada ucapan : "Kami dekat dengan Tuhan tetapi jauh 
dari USA", agaknya ucapan itu juga berlaku bagi pendduduk kepulauan Nusantara, 
dalam bentuk: "makin keras dikumadangnya jampi-jampi gurun pasir makin 
menlangit pula angka kemiskinan.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/052007/19/0902.htm



Membangkitkan Daya Hidup Bangsa 
Oleh SUKRON ABDILAH 
ANGKA kemiskinan dari tahun ke tahun merangkak naik jumlahnya. Masalah klasik 
itu terus menggenangi bumi nusantara yang sempat diberi label sebagai tetesan 
surga. Sayangnya, kesejahteraan dan ketenteraman di surga tidak serta-merta 
berwujud nyata. Mungkin, hanya baru sebatas keindahan dan kekayaan sumber daya 
alam saja yang bertetesan sehingga banyak wisatawan mancanegara berdecak kagum. 
 

Untuk konteks kekinian kita sangat memerlukan daya hidup agar optimistis tak 
serta-merta tenggelam dan mati guna membangkitkan bangsa dari keterpurukan. 
Apalagi ketika Hari Kebangkitan Nasional berada di hadapan dan hanya menunggu 
hitungan hari saja. Boleh jadi merefleksikan segala macam sikap, tindakan, dan 
buah pikiran (berbentuk kebijakan yang dikeluarkan) adalah keniscayaan yang tak 
nisbi. 

Mengevaluasi secara cermat, akurat, dan terencana terhadap kebijakan-kebijakan 
untuk kepentingan masa depan rakyat, tentunya aktualisasi dari hasrat biofilia 
(mencintai kehidupan) yang ada di dalam diri. Lantas, masihkah bangsa kita 
memiliki hasrat mencintai kehidupan? Yakni daya dorong untuk bangkit dari 
pelbagai keterpurukan serta mampu memawasi segala tindakan yang salah dan 
merugikan publik. 

Ya, betul. Sebab, dengan hasrat mencintai kehidupan yang tertancap kuat di 
dalam diri, sebetulnya setiap kejadian akan menjadi perantara perubahan ke arah 
yang konstruktif. Kita akan terus merenungi dan berusaha menjabarkan hasil 
permenungan hingga mewujud dalam bentuk tindakan/kebijakan pro-kerakyatan. Hal 
tersebut dimaksudkan agar bangsa bisa keluar dari aneka macam kesulitan yang 
mengimpit. 

Doa dan usaha

Tatkala hidup bangsa kita dihujani kecentang-perenangan aneka bencana, 
umpamanya, hal itu akan dijadikan alat penyadaran untuk bersama-sama 
menyelesaikannya. Menanggulanginya juga tidak hanya sebatas berdoa di tempat 
ibadah saja. Berusaha pun pada posisi demikian selalu dipraktikkan. Sebab, 
tanpa ada usaha sungguh-sungguh, nasib kita tidak akan pernah beranjak. 

Doa dan usaha adalah dua aktivitas yang tak terpisahkan bagi manusia beragama, 
tatkala hendak keluar dari jerat-jerat bencana alam dan bencana kemanusiaan. 
Belajar pada kisah perjuangan seorang bayi yang sedang belajar berjalan pada 
posisi demikian layak disimak, direnungkan, diinternalisasi, dan 
diaktualisasikan dalam hidup keseharian. 

Seorang bayi mungil umpamanya. Tentu saja tidak mungkin bisa berjalan tanpa 
berusaha menjejakkan kakinya di tanah. Belajar berjalan meskipun harus terus 
terjatuh, seorang bayi pantang menyerah. Jatuh-bangun, jatuh-bangun kembali, 
dan terus-terusan jatuh-bangun. Ia terus berusaha menggerakkan kedua kakinya. 
Kalaupun ia terjatuh, seorang ibu di tatar Sunda akan segera mengucapkan 
"jampe-jampe harupat geura gede geura lumpat". Kurang lebih artinya cepat besar 
kalau ingin bisa berlari. 

Anak itu pun sudah pasti akan meredakan tangisannya dan kembali memulai 
aktivitas berjalan yang sempat terganggu. Alhasil, setelah satu tahun lebih 
belajar berjalan tanpa bosan-bosan; kini ia pun sudah mulai bisa berlari-lari 
kecil. Itulah hasil akhir yang menggembirakan dari aktivitas berusaha dan 
kekuatan doa seorang ibu untuk kepanjangan umur anaknya (geura geude). 

Karenanya, meskipun bangsa ini terus dihantui teror bencana alam (natural 
disasters) dan bencana kemanusiaan (seperti kemiskinan), tidak menjadi alasan 
untuk menenggelamkan semangat hidup. Tanpa usaha keras pendakian yang 
melelahkan kita tidak akan pernah sampai ke puncak gunung. Begitu juga dengan 
nasib bangsa kita. Tanpa melakukan doa dan usaha, tak akan pernah bersemangat 
untuk bangun kembali dari keterpurukan akibat bencana alam dan bencana 
kemanusiaan. 

Ud'uni astajib lakum (berdoalah kepada-Ku niscaya akan dikabulkan), 
mengindikasikan bahwa setiap permohonan kita kepada Allah akan terkabul. 
Tentunya jika ada usaha sungguh-sungguh. Sebab, bangsa yang karut-marut di 
ranah sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan, dan lain-lain tidak dapat 
menggeliatkan diri hanya dengan menengadahkan tangan atau berdoa. Sangat 
membutuh kesejalanan antara doa dan usaha. Itulah hakikat inti dari daya hidup 
bangsa yang meruang dan mewaktu. 

Bukan kita malas

W.S. Rendra (2001) mengatakan bahwa ciri dasar manusia adalah berdaya hidup. 
Sebelum ada daya eknomi, daya sosial, daya filsafat, daya seni, daya politik, 
dan pelbagai daya lainnya, daya yang utama dan pertama adalah daya hidup. Tanpa 
daya hidup, daya-daya lainnya menjadi lesu, beku, dan sirna. Ya, menurut saya 
daya hidup sama posisinya dengan stamina kebudayaan yang mencerminkan tegarnya 
suatu bangsa. 

Soal kemiskinan yang mendera saat ini, misalnya, bukan diakibatkan kita bangsa 
malas. Buktinya, bisa kita saksikan kiri-kanan. Banyak betul warga yang banting 
tulang mencari nafkah hidup. Di kampung saya, masih ada warga yang setiap pagi 
hari pergi ke sawah. Di kota besar juga masih ada warga yang berprofesi sebagai 
tukang ojek, pedagang kaki lima, tukang becak, supir angkot, dan sebagainya. 

Bukankah mereka juga sebagian dari warga masyarakat yang berdaya hidup? Lantas, 
kenapa kita harus mengklaim bahwa kesengsaraan merupakan imbas dari 
kemalasannya? Saya rasa, pola pikir naif ini mesti diluluhlantakkan. Prasangka 
penuh kecurigaan semacam ini tak layak terus disandang. Kita tidak berdaya 
hidup kiranya jika dijibuni prasangka yang tidak dapat menyelesaikan masalah. 
Malah memperumit dan akan memecah belah keutuhan relasi dalam berbangsa, 
bernegara, dan bermasyarakat. 

Dalam konteks tersebut kita memerlukan kehadiran pejuang sosial. Seorang 
manusia yang mampu menghapus penjajahan dan perbudakan yang dilakukan bangsa 
sendiri yang mengeluarkan kebijakan teu inget ka kaum cacah kulicah. Inilah 
yang mengakibatkan bertebarannya kemiskinan. Tidaklah heran bila Pramoedya 
Ananta Toer sempat menulis dalam novel sejarahnya bertajuk "Jalan Raya Pos, 
Jalan Daendels" sbb: "Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan 
budak bagi bangsa-bangsa lain". 

Berita yang mengebohkan di daerah Malang juga, di mana seorang ibu dan 4 
anaknya tewas minum racun potasium akibat tak kuat menanggung beban persoalan 
ekonomi, bukti nyata dari penindasan struktural. Kasus bunuh diri itu 
mengindikasikan masyarakat kita telah menanggalkan solidaritas sosial dan bukti 
dari ketidakpedulian pemerintah terhadap rakyat miskin. Kasus tersebut bukan 
diakibatkan mereka malas bekerja. Kondisilah yang mengakibatkannya tidak dapat 
memompa daya hidup.

Maka, eksistensi pejuang/pekerja sosial pada konteks itu mesti digusur pada 
mampunya mengentaskan keberbagaian persoalan yang melilit rakyat hingga dapat 
membebaskan diri dari pelbagai kungkungan yang membuat kita nyinyir. Apalagi 
jika kondisi ekonomi kian degradatif, birokrasi yang dijibuni perilaku korup, 
dan bencana banyak diderita warga pelosok. Dapat dipastikan jika pejuang sosial 
sangat mutlak keberadaannya.

Oleh karena itu, memompa daya hidup agar dapat keluar dari aneka ragam 
persoalan yang memilukan ialah keniscayaan. Ingatkah kita dengan firman Tuhan: 
"Innamaal-usri yusro", dibalik kesulitan terhampar segala kemudahan? Ya, dimana 
aya kahayang, didinya aya sarebu jalan. Bahkan bisa-bisa jalan untuk keluar 
dari kemelut kesulitan jumlahnya lebih dari seribu. Wallahua'lam.  

Penulis, pemerhati masalah sosial-Budaya, serta Pegiat Tepas Institute. 

Kirim email ke