Tulisan ini sebagai info buat rekan miliser yang alumni TP-TL ITB.

Pukul 14.08.04 WIB, Jumat, 18 Mei 2007, Hp saya berdering. Isinya
adalah kalimat 'istirjaa', Innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiun.
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.
(al Baqarah: 156).

Siapa yang meninggal? Beliau adalah Prof. Dr. Ir. KRT. Asis H.
Djajadiningrat, Dipl. S.E, guru besar Teknik Penyehatan - Lingkungan
ITB. Beliau meninggal di Menado, Sulawesi Utara pada 11.40 waktu setempat.

***

Waktu itu tahun 1985. Saya dan kawan-kawan angkatan 1985 sedang
mengikuti penataran P4. Wajib hadir waktu itu. Sekali saja tidak
hadir, dijamin tak bakal lulus. Setelah acara Gugus di GSG ITB, saya
masuk ke acara Kelas. Kelas terdiri atas beberapa jurusan. Waktu itu
ada anak-anak Teknik Perminyakan, anak-anak FSRD dan semua anak-anak
FTSP. Begitulah setiap hari, setiap acara Kelas selalu saja ribut.
Anak-anak FSRD ada yang membawa tape recorder dan memutar lagu rock.
Sesekali muncul Queen, lalu disambung dengan Rolling Stone, dst-nya.
Dangdut juga sempat hadir, ada yang joged segala di depan kelas. Tentu
saja ketika penatar tidak ada.

Yang unik ialah acara kelompok. Ini diadakan di ruang kuliah jurusan,
di ruang 9008. Inilah ruang peninggalan asli masa Belanda dulu, setara
dengan ruang 9009 (merangkap gedung bioskop LFM, Liga Film Mahasiswa)
dan Aula Barat - Aula Timur ITB. Seperti yang lainnya, acara penataran
memang membosankan. Dari hari ke hari seperti itu-itu saja dan
seolah-olah tak menambah wawasan baru. Namun untungnya, pada satu sesi
ada seorang dosen yang berpakaian rapi. Setelan jasnya hitam-hitam,
rambut agak panjang dan ikal sedikit, berkacamata dan selalu memegang
rokok.

"Saya orang buangan!" ujarnya ketika acara kelompok di ruang 9008. "Di
ITB ini ada dua yang namanya mirip, yaitu Asis dan satunya lagi Aziz.
Pakai z. Dosen Teknik Sipil. Kalau saya pakai s. Asis, bukan Aziz!"

Kami, para mahasiswa baru, hanya diam dan senyum-senyum saja. Santai.
Lalu lanjutnya, "Tapi saya orang sisa. Gara-gara kuliah di Teknik
Penyehatan (TP), saya menjadi orang sisa. Sampah, itu kan pelajaran
orang TP. Air limbah, air buangan itu juga air sisa."

Kami pun mulai ramai, berbisik-bisik. Saling pandang. Ada juga tampak
wajah nyesel. "Waduh... kita orang sampah dong.. kata teman sebelah saya."

“Ah.. tak apa-apa. Yang penting berguna. Ada manfaatnya”, tegas kawan
sebelahnya lagi.

“Tahu nggak kenapa saya menjadi orang sisa?” tanyanya.

Kami diam. Tak tahu, memang. Kenapa ya?

“Kalau dibaca dari belakang, seperti orang Arab, nama saya menjadi
Sisa. Asis... Sisa....”
Geerr ..rrrhh... kontan saja teman-teman tertawa. Gaduh sekali.
Suasana jadi cair dan santai. Kantuk pun hilang...

Itulah sekelumit masa-masa awal pertemuan saya dengan Pak Asis. Selama
kuliah, baik ketika di S1 maupun S2, tak pernah saya melihat beliau
marah-marah, sama seperti saya tak pernah melihat beliau tanpa
mengenakan setelan jas. Kalau pun tidak dipakai, pasti jasnya ditaruh
di ruangannya dan beliau hanya memakai dasi saja. Tetapi ketika hendak
pergi, jas itu akan dikenakannya lagi.

“Terasa enak dan pas!” begitu terangnya ketika ditanya kenapa pakai
jas terus.

Yang juga menarik adalah cara mengajarnya. Hidrolika 1 dan 2 adalah
mata kuliah yang diampunya waktu itu. Lembaran atau handout selalu
hadir di setiap kuliahnya. Bagus dan rapi tulisannya. Schaum series
menjadi patokannya. Siapa saja yang rajin latihan soal, terutama di
Schaum dan sejumlah buku teks lainnya, misalnya yang keluaran McGraw
Hill New Delhi, India, pastilah mampu menjawab soal UTS dan UAS-nya.
Ini sudah terbukti, baik oleh kawan-kaan saya maupun saya sendiri.

Yang lama berkesan bagi saya ialah ketika Pak Asis membimbing saya
menulis Tesis. Saat itu pun saya dan tiga rekan lainnya sempat
ditraktir makan di sebuah rumah makan di bilangan Jl. Martadinata (Jl.
Riau). Bukan materi tesis yang dibicarakan waktu itu, melainkan
pengalamannya ketika kuliah S3. Kisah itu digunakannya untuk
menyemangati kami agar kerja keras menulis tesis, meskipun secara
tidak langsung. Ketika bimbingan tesis waktu itu, lumayan sulit juga
menemuinya karena sedang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian
Lingkungan Hidup PPLH) ITB yang kantornya di Jl. Sangkuriang, dekat
Cisitu Lama. Kalau tak ada di kampus, pastilah ada di Sangkuriang.
Begitu sebaliknya. Sering juga tak ada di dua tempat itu. Benang merah
dari diskusi dengan beliau, tak satu pun pemaksaan kehendak atas ilmu
yang dipaparkannya ketika bimbingan. Lebih banyak saya diberi
kebebasan dalam menulis dan hanya poin-poin utama saja yang
diberikannya. Selebihnya terserah saya.

Beliau pun mendukung saya agar terus menulis (di koran), mengutarakan
persoalan lingkungan. Ketika tulisan saya dimuat di Pikiran Rakyat dan
menyatakan bahwa sebaiknya kita meluaskan sewerage di kota Bandung,
beliau justru berkata bahwa tren di luar negeri lebih mengarah pada
on-site system, tanpa sewerage. Jepang misalnya, terus mengampanyekan
Johkasou, sebuah sistem IPAL mikrokomunal dan bahkan dalam lingkup
satu rumah atau satu gedung (hotel, mall, kantor, dll). Kebetulan
sekali sekian bulan berselang saya lantas ikut seminar dan training
Johkasou di PDAM Kota Cirebon, bertemu dengan rekan-rekan saya semasa
kuliah di S1 dulu.

Sudah dua tahun ini saya tak bertemu langsung dengan Pak Asis. Saya
hanya membacanya lewat koran. Sempat pula profilnya dimuat di koran
Kompas. Pertemuan terakhir adalah ketika saya menghadiri wisuda
magister istri saya pada 23 Juli 2005 di Sabuga. Waktu itu Pak Asis
sebagai Ketua Majelis Guru Besar (MGB) ITB.

Terima kasih Pak dan selamat jalan. Semoga Allah Swt mengampuni semua
kesalahan Bapak dan memudahkan ketika hari hisab kelak. Semoga
keluarga yang ditinggalkan mendapat lindungan Allah dan tabah menerima
takdir-Nya. Aamin. *

Gede H. Cahyana
http://gedehace.blogspot.com





Kirim email ke