Niat Jahat Membelah Baghdad
Thursday, 10 May 2007

Oleh:  Irman Abdurrahman

Zaman boleh berubah, aktor pelaku sejarah pun dapat berganti wajah,
tetapi karakter penjajah tampaknya tak pernah bisa enyah. Belum genap
dua dasawarsa, warga dunia menyaksikan akhir dari kepedihan rakyat
Jerman akibat Tembok Berlin yang didirikan rezim komunis Jerman Timur.
Belum juga hilang dari ingatan ketika mantan presiden AS Bill Clinton
menyebut tembok yang memisahkan dua Korea sebagai 'tempat paling
menyeramkan di dunia'. Tentu saja masih tampak jelas betapa tembok
barikade yang dibangun Israel di sepanjang Tepi Barat perlahan tapi
pasti merampas, bukan hanya inci demi inci tanah Palestina, tetapi
juga kemerdekaan dan hak hidup bangsa Palestina. Kini komunitas
internasional dipaksa menyaksikan sebuah tembok pemisah baru, yang
ditegakkan militer AS di Baghdad.




Sejak 10 April lalu, pemerintah George W Bush punya 'solusi' baru
untuk meredam apa yang mereka sebut sebagai konflik sektarian antara
Sunni dan Syi'ah. Solusi itu berupa proyek pembangunan tembok dengan
blok beton seberat 6,3 ton dan setinggi 12 kaki (3,5 meter) sepanjang
3 mil (5 kilometer). Tempat itu menutupi kawasan Al Adhamiya di
Baghdad. Pemerintah AS yang selama ini menjajah Irak meyakini bahwa
sebuah tembok adalah alat yang kuat untuk meredam pertentangan.

Proses ini merupakan tahap awal dari proyek isolasi yang lebih luas
terhadap 30 dari 89 distrik di Baghdad. Apa pun itu, tampaknya AS
tengah mengulangi kegagalan Proyek Dye Marker di Quang Tri, Vietnam,
pada 1960-an, yang membentangkan barikade listrik sepanjang 76
kilometer dari Laut Cina Selatan hingga Laos dalam upaya membendung
tentara Viet Cong.

Tidak pernah ada bukti historis bahwa 'penjara' kolektif semacam ini
akan mampu menciptakan kedamaian dan membendung kekerasan. Sebaiknya,
sejarah dari Warsawa hingga Vietnam, dari Afrika Selatan, Irlandia
Utara, hingga Palestina, mencatat kegagalan proyek semacam ini, bukan
hanya secara moral, tetapi juga operasional.

Dalam konteks Irak, bukti itu sudah tampak ketika beberapa pekan lalu
serangan bom bunuh diri justru terjadi dalam Zona Hijau, wilayah
teraman di Baghdad. Terlebih lagi, jajak pendapat menunjukkan hampir
90 persen rakyat Irak menentang pembangunan tembok ini. Demonstrasi
menentang pendudukan AS oleh ratusan ribu warga Syi'ah di Sadr City,
dan puluhan ribu warga Sunni di Baghdad Utara, menjadi fakta empirik
jajak pendapat tersebut.

Timur Tengah 'baru'

Proyek 'gulagisasi Baghdad' ini justru memperlihatkan karakter
imperialistik AS di Irak. Persatuan rakyat Irak yang menentang
pendudukan jelas menunjukkan kekalahan moral pasukan AS di sana. Dan,
tembok ini jelas diimplementasikan untuk menerapkan apa yang tampaknya
diinspirasikan oleh metode Raja Inggris, King James I, ketika
menjerumuskan Irlandia ke dalam konflik sektarian (Protestan-Katolik)
berdarah selama hampir empat abad: divide and conquer.

Siapa pun tahu bahwa masyarakat Baghdad, terlepas dari persoalan
sekte, telah ribuan tahun hidup berdampingan secara damai dan harmonis
dalam kawasan-kawasan campuran, seperti di Al Jadriya, Al Mansour,
Zayouna, Dora, Bab Al Sharqi, Al Sa'adoon, dan Hayy Al-Jihad. Konflik
'sektarian' baru muncul ketika gerombolan militer Anglo-Amerika
menerabas batas-batas kedaulatan negeri mereka, dan merampas sebagian
besar hak dasar mereka sebagai manusia.

Alhasil, keberadaan Amerikalah yang justru merupakan elemen dasar bagi
ketidakamanan di Irak. Jadi, jika memang menghendaki solusi
komprehensif, bukan hanya bagi rakyat Irak tetapi juga Amerika.
Pemerintah Bush sepatutnya dengan rendah hati menerima saran banyak
kalangan untuk menarik mundur pasukannya dari Irak, bukan malah
menggelar proyek usang yang telah terbukti invalid secara historis.

Lagi pula, meski dibantah pejabat-pejabat Amerika terkait, proses yang
kini berlangsung setiap malam di Baghdad tersebut, seperti hendak
merefleksikan peta Timur Tengah 'baru'. Peta ini dipresentasikan
Letkol Ralph Peters, mantan Wakil Kepala Staf Intelijen Departemen
Pertahanan AS, dalam jurnal Armed Forces (Juni 2006) di bawah judul
'Blood Borders: How a Better Middle East Would Look'. Peta tersebut,
di antaranya, memperlihatkan upaya memecah Irak menjadi tiga negara
protektorat: negara Sunni Irak di tengah (berbatasan dengan Syria);
negara Kurdistan di utara (berbatasan dengan Turki); dan negara Syi'ah
Arab di Selatan (berbatasan dengan Kuwait dan Iran).

Meskipun mungkin tidak secara resmi merepresentasikan kebijakan
Pentagon, peta tersebut disebutkan telah digunakan dalam program
pelatihan bagi pejabat militer senior di NATO Defense College.
Sementara itu, Peters sendiri adalah salah seorang pejabat militer
yang percaya bahwa mendesain ulang batas-batas negara-negara di Timur
Tengah adalah solusi fundamental bagi problem kontemporer kawasan kaya
minyak itu. Suatu keyakinan yang tidak mustahil dianut banyak
eksekutif di Pentagon.

Tindakan ilegal

Terlepas dari segala maksud tersembunyi di baliknya, proyek tersebut
bukan saja tidak bermoral melainkan juga ilegal karena beberapa
alasan. Pertama, secara logis, ketika aksi militer unilateral AS
terhadap Irak adalah ilegal, maka pendudukan tentara AS berikut segala
aktivitasnya di negara itu juga ilegal. AS menjajah Irak tanpa
persetujuan dunia Internasional. Berbagai alasan yang dijadikan alat
legitimasi bagi AS untuk menjajah Irak pun sampai saat ini tak pernah
terbukti.

Kedua, proyek tersebut telah melanggar hak dasar untuk menentukan
nasib sendiri (right to self determination) yang dilindungi oleh
Piagam PBB dan diperkuat dalam Resolusi 2625 Majelis Umum PBB. Selain
itu, tindakan AS tersebut akan memarjinalkan rakyat Irak dari hak-hak
asasi manusia lainnya, seperti hak untuk bekerja, hak kesehatan, hak
pendidikan, dan hak untuk memperoleh standar hidup yang layak, yang
semuanya dijamin di dalam Piagam PBB.

Ketiga, hukum-hukum perang, di antaranya Pasal 33 Konvensi Jenewa
Keempat (1949) tentang hukuman kolektif, melarang pasukan pendudukan
untuk merekayasa perubahan demografi terhadap wilayah-wilayah yang
didudukinya. Dengan demikian, tindakan militer AS membagi-bagi
masyarakat Irak, entah secara lokal maupun nasional, jelas merupakan
sebuah kejahatan perang.

Oleh sebab itu, sudah amat layak jika Indonesia, sebagai bagian dari
komunitas internasional dan anggota tidak tetap DK-PBB, menggagas isu
resolusi yang setidaknya mengecam pembangunan 'Tembok Baghdad'. Entah
nantinya akan berujung kepada sebuah rancangan resolusi ataukah tidak,
paling tidak upaya ini merupakan simbol bahwa kita menentang
upaya-upaya diskriminasi semacam itu, daripada terus mengikuti arus
agenda-agenda AS di DK-PBB. []



Ikhtisar
- Amerika sedang menjalankan agenda kotor di Baghdad, berupa
pembangunan tembok yang mengisolasi kawasan Sunni.

- Sejarah telah membuktikan bahwa pembangunan tembok-tembok isolasi
seperti itu tak pernah berhasil meredam pertikaian.

- Proyek yang dijalankan Amerika itu ilegal dan seharusnya digagalkan.

- Posisi Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB
sangat strategis untuk menolak proyek tersebut. [sumber:
Republika.co.id]



Penulis: Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

-- 
Ezda
=> S2D4 the World

MOD:
Adakah website ICC?

Kirim email ke