http://p208.ezboard.com/Chinese-in-Indonesia/fzhonghuafrm3
http://p208.ezboard.com/Chinese-be-prepared-for-the-Danger-awaiting-us/fzhonghuafrm3.showMessage?topicID=1372.topic Pao An Tui Registered Member Posts: 2 (3/17/07 12:22 am) Chinese be prepared for the Danger awaiting us I. ²»¿ÉÆ«·Ï (bu4ke3*-pian1fei4 - jangan menepis sesuatu secara pandangan sepihak) Populasi bangsa Tionghoa di Indonesia lebih besar dari Taiwan, artinya masyarakat Tionghoa terbesar di dunia diluar daratan Tiongkok. Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengakui jumlah penduduk Tionghoa lebih dari 10 juta, dan akhirnya setelah lebih dari 30 tahun masa »µÈ˵±µÀ (huai4ren2-dang1dao4 - masa orang batil berkuasa) resmi tidak menyangkali bahwa bangsa Tionghoa adalah etnis kedua terbesar di Indonesia setelah etnis Jawa. Bahkan, beberapa puslitbang melakukan penelitian yang menunjukkan angka lebih besar rata-rata diatas 20 juta etnis Tionghoa, dulu terdapat kesulitan karena banyak orang Tionghoa mencoba menyembunyikan identitas mereka dalam suasana diskriminasi rasial yg lebih buruk dibanding sekarang. Jumlah orang Tionghoa tidak kecil, jauh lebih banyak dari suku bangsa pribumi pada umumnya, meskipun distribusi populasi terpencar-pencar tetapi banyak sekali daerah atau tempat pemukiman memiliki komunitas Tionghoa yang terkonsentrasi. Proses berkonsentrasi inilah yang harus ditingkatkan, jadi meski jumlah lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk dari berbagai suku bangsa, kekuatan sumber daya manusia Tionghoa yang padat dan rapat berpotensi untuk mengimbangi keunggulan pribumi dalam jumlah populasi. Bila diterapkan berdasarkan prinsip Perang Asymetris, maka kekurangan dalam hal tertentu bisa disesuaikan dengan sikon lapangan agar menjadi kekuatan. Bangsa Tionghoa yang minoritas dibanding total jumlah penduduk pribumi dari berbagai suku bangsa, dapat mengatasi masalah dispersi dan posisi sebagai etnis minoritas sebagai berikut: 1. Dua Dasar utama 1a. tingkatkan proses berkonsentrasi penduduk Tionghoa menurut daerah dan tempat pemukiman 1b. mengingat jumlah penduduk pribumi dari berbagai suku bangsa jauh lebih besar, terapkan strategi devide et impera - keterpurukan keadaan Indonesia dewasa ini dimana tiap-tiap kelompok asli berkonflik satu sama lain justru berkat terselubung 2. Renstra dan Implementasi Dengan populasi Tionghoa yang lebih terkonsentrasi dan keterpecahbelahan pribumi, terdapat ruang gerak yang lebih luas untuk membela diri dengan melakukan berbagai tindakan defensif jika terjadi keadaan darurat dimana Tionghoa terancam. 2a. kelompok-kelompok pribumi yang terpecahbelah menurut perbedaan SARA lebih mudah dihabisi satu sama lain. Seperti bermain catur, adukan tiap-tiap kelompok seakan-akan mereka ë½Å¼¦ (mao2jiao3ji1 - seperti ayam berkeok-keok yang kepalanya terpenggal) untuk menghabisi masing-masing tanpa keberpihakan. Ketika ada kelompok tertentu yang berada pada titik terlemah, manfaatkan kesempatan untuk mengargetkan pusat gravitasi musuh (ibarat potong kaki lawan ketika berduel) 2b. untuk setiap serangan, fokuskan dan kerahkan kekuatan optimal tetapi ingat agar jangan sampai kehabisan sumber daya (jangan pernah mencoba mencapai obyektif yang hasilnya kurang dari pengeluarannya) - terapkan strategi dan taktik konsentrasi kekuatan seperti dilakukan divisi panzer Jerman dan Napoleon yang mampu mengalahkan pasukan dari berbagai negara yang jumlahnya jauh lebih besar karena ia mampu menerapkan strategi divide and rule dan strategi dan taktik konsentrasi kekuatan dengan sempurna II. Buang jauh-jauh sifat ×øÀ§³î³Ç (zuo4kun4-chou2cheng2 - menjadi tawanan kekhawatiran sendiri) Tentu ada kelebihan kalau kita memiliki basis wilayah, namun ketidakpemilikan daerah Tionghoa kecuali daerah tertentu seperti Kalbar bukan hambatan yang akan menggagalkan renstra dan implementasi. Pasukan penduduk, katakan tentara AS di Irak, tidak mungkin memiliki basis wilayah, sama pula halnya dengan beberapa ribu orang Belanda dari VOC yang mampu menguasai seluruh Arsipelase Melayu. AS dan Belanda berhasil dengan renstra dan implementasi konsentrasi kekuatan dan devide et impera yang baik. Tionghoa dari Kerajaan Demak dan Lanfang Gongsi di Kalbar pernah berhasil menundukkan pribumi dengan cara yang sama, strategi dan taktik yang dipelajari orang Barat dan kemudian mereka terapkan kepada orang Asia, termasuk Tionghoa. Demikian, diharapakan tuntas sebagian dari hal-hal yang dikhawatirkan tidak mungkin dilakukan demi masa depan bangsa Tionghoa yang lebih baik di Indonesia sehingga seakan-akan berprospek tidak cerah. Langkah pertama yang terpenting, harus ada pemulihan ikatan emosional antara tiap-tiap putra-putri bangsa Tionghoa, tidak mungkin kita berubah dari manusia ³ì³ù²»Ç° (chou2chu2-bu4qian2* - peragu dalam bertindak) yang Íü±¾ (wang4ben3 - lupa akar) menjadi manusia ÍüÉíÍü¼Ò (wang4shen1-wang4jia1 - mengutamakan kepentingan bersama diatas segalanya) untuk mencapai sesuatu yang berarti tanpa solidaritas dan keyakinan bersama bahwa yang kita lakukan demi kepentingan bersama yang baik dan sakral itu jauh lebih penting dari diri kita masing-masing. Edited by: Pao An Tui at: 3/17/07 12:24 am
