--- In [email protected], "Wido Q Supraha" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kepada bang Ambon, > > > >dibusek
> > Sesama wanita bahkan tidak diizinkan untuk melihat aurat masing- masing, > disinilah Islam memuliakan dan meninggikan martabat wanita. > > > Wassalam, > > --wqs > > Mas, meninggikan martabat wanita, BUKANLAH melalui masalah aurat. Lebih baik meninggikan martabat wanita melalui perilaku real yang mulia. Di sebagian besar komunitas Muslim, misalnya Darfur, Somalia, Afganistan, Pakistan, Tunisia, Marokko, terutama dipedesaannya, wanita tak lebih daripada setengah budak, yang boleh dicambuk. Pria adalah se-gala galanya. Sudah pernah kesana mas? Di jalan perbelanjaan elite di Vienna (ini ibukota Austria, nan makmur dan maju), juga di Zuerich, Lausanne, Geneva, seperti yang saya lihat, seringkali saya menyaksikan serombongan wisatawan dari Timur tengah: sang pria bersama anak anak, berjalan gagah dimuka, wanita wanita berkrudung dari kepala sampai lutut, mata dan hidung memakai topeng, mengekor dibelakang. Rupanya agar tak dilihat orang, namun sang pria dimuka, gagah, yakin diri, amat PD, dengan busana barat termodern, dari Armany sampai Trussardy, dengan mata yang jelalatan kesana kemari, menikmati keindahan wanita Barat dan bangsa lain, yang berjalan dengan ria dan bebas, rambut terurai, busana yang fashionable dan feminine (bukan model lontong). DH
