Dear Mas Hardi (& rekans),

Semalam (malam minggu) saya ngobrol" dengan beberapa orang di luar kota -
Karawang..
:-) Kebetulan obrolan dibuka soal (kenaikan) harga BBM dan dampaknya..
Saya bilang, kalau lihat dari pemberitaan di TV soal kelangkaan BBM di
beberapa daerah,
begitu juga fakta lain yang saya lihat, ada beberapa pom bensin yang
akan beroperasi,
mengingatkan saya pada situasi menjelang kenaikan harga BBM lalu..

Bisnis apalagi yang menguntungkan saat ini? Salah satunya ya buka pom
bensin..
apalagi kalau harga BBM (bakal) naik.. :-( Saat ini, 'semahal apapun', BBM
bakal dibeli..
apalagi buat yang pake motor.. Mau naik angkot/ojek terus? Lah wong
tujuannya pake
kendaraan pribadi (khususnya motor) kan untuk berhemat.

Berapa sih alokasi gaji kita buat transport? Emangnya gak mau bayar
hutang&tagihan"
rutin? :-| Mau ikut 'nebeng' & urunan bensin? Emangnya pasti ada barengan
(arah pulang
& jam kerja kita) ke rumah? Naik sepeda? Udah punya ilmu kebal ditabrak atau
sekedar
'kena angin'nya saja dari kendaraan beroda? Atau punya 'penyaring udara'
berpolusi? :D

Alhamdulillah meskipun saya masih mampu beli bensin (untuk motor) dengan 2x
kenaikan
harga itu, tapi gimana rasanya untuk yang lain? Apa gak memberatkan?
Meskipun ada
BLT yang bukan untuk semua keluarga itu, apa 'artinya' 100 ribu/bulan untuk
kebutuhan
satu keluarga (miskin)?:-|

Saya bilang, saya sendiri 'kesal' dengan mereka yang mendukung kenaikan
harga BBM
dengan alasan untuk 1) menaikkan pendapatan negara, juga untuk 2) menekan
penyelundupan/
pengoplosan BBM. Kedua alasan di atas, terlebih no 2, prinsipnya kan sama
saja, membakar
rumah untuk menangkap tikus.. jadi, ada penjahat yang merusak, tapi bukannya
menangkap
penjahat, malah rakyat yang harus menanggung bebannya.. Sama" solusi cari
gampangnya
doank.. gak mau capek..

Lantas saya coba tanyakan (bukan sekedar mereka"/membayangkan sendiri), apa
sih yang
dirasakan masyarakat dengan kenaikan harga BBM.. mereka bilang, yang jelas
harga"
kebutuhan (pokok&lain") ikutan naik.. Mereka mengilustrasikan uang Rp
10.000sebelum
kenaikan harga BBM sudah bisa untuk mendapatkan beras&lauk pauk, termasuk
minyak
tanah. Begitu kenaikan harga BBM (termasuk minyak tanah) nilai uang segitu
menjadi
merosot.. Padahal usaha untuk mendapatkan uang makin ke sini makin sulit..
(lihat bahasan
asal - pekerjaan semakin sulit)

Yang terbayang dalam benak saya, iya sih, mungkin saja mereka yang tidak
merasa keberatan
dengan kenaikan harga BBM (yang 2x itu), penghasilannya bukan dalam rate
rupiah..
atau masih bisa hidup nyaman bahkan bila harga BBM di Indonesia sama dengan
yang ada
di Jerman, Inggris & negara" maju lainnya.. Rakyat harus menyumbang negara
terus.. termasuk
menanggung biaya untuk 'mengurangi keuntungan' para penyelundup&pengoplos..
Cis.. :-(

Padahal kurang apa sih modal yang ada.. suara langsung dari rakyat, tentara
& polisi
(harusnya) di tangan.. tapi kenapa sepertinya susah banget beresin tikus"?
Takut?
Apa bedanya sama wong cilik biasa kalo dengan modal segitu besar masih takut
juga?
Yang pasti klaim sebagian kalangan bahwa kenaikan harga BBM bisa mengurangi
angka
kemiskinan, jelas ngawur.. Kecuali kalau pengurangan kemiskinannya diartikan
sebagai
rakyat miskin berkurang karena tidak bisa(/boleh) hidup lagi di sini..
Hiks..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 5/20/07, Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Mas GG,

Siapa bilang Indonesia miskin? Siapa bilang Indonesia susah?  Seringkali
saya datang ke acara pernikahan atau apa saja...: ibu - ibu berdandan wah
sungguh mewah. Mereka saling bercerita kalau anaknya si Anu lagi S2 di
Amerika, ibu yang lain bilang keponakannya lagi jalan - jalan ke Eropa,
tante yang yang lain bilang dia barusan pulang dari ziarah ke Yerusalem,
saudaranya saudara jadi Bupati ada yang jadi staff ahli menteri ada yang
naik haji ke 5 kali ada yang barusan masuk akademi militer, ada yang jadi
kepala sebuah bagian di Pertamina, dst dst. Kisahnya tentang kesuksesan
semata.
Ini senada dengan apa yang kita saksikan di di layar TV kita. Lihatlah
mobil -mobi mengkilat, rumah - rumah megah dan ceweknya cantik - cantik
bersih - bersih wangi - wangi.
Siapa bilang Indonesia dalam kesulitan ekonomi.
Coba lihat lagi iklan properti, kendaraan dan handphone serta laptop. Tiap
hari ada yang baru.


Kalau ada yag miskin itu karena nasibnya aja yang buruk atau terlalu jujur
atau terlampau bodoh seperti bapakku atau jutaan petani lainnya. Mereka
kerja keras mencangkul selama setahun untuk biaya hidup yang hanya cukup
untuk 3 bulan.


Hardi Baktiantoro





 On May 20, 2007, at 7:13 AM, Goenardjoadi Goenawan wrote:



Kalau kita lihat sekarang kondisi ekonomi mikro Indonesia sungguh
mengenaskan, bila kita coba jalan-jalan ke supermarket, bahkan hypermarket,
di Mall-mall terasa sepi.  Terakhir kita dengar ada mobil honda jazz yang
terjun dari parkir lantai 6, itupun bukan ke Mall, namun pergi ke acara
gereja.

Kalau kita lihat, coba ke supermarket atau Hypermarket di siang hari,
pengunjung terasa kosong.  Belanja di Mall terbesarpun demikian, suasana
terasa sepi.  Pengunjung ramai hanya dua hari seminggu, yaitu pada hari
Sabtu-Minggu saja.  Para pramuniaga sering bergerombol ngobrol dengan
kelompoknya hanya untuk mengusir rasa kantuk, menunggu pengunjung.

Yang masih ramai hanya pengunjung bioskop Spiderman 3, wah, membludak,
itupun karena studio 21 telah menurunkan harga menjadi rata-rata Rp 35,000
bahkan di Plaza EX.

Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Para pengusaha semakin terdesak, terpojok, entrepreneur kecil-kecilan
sudah gulung tikar dari tahun lalu.  Sementara restoran besar mengalami
desakan kontraksi pasar, industry makanan menjadi over supply.  Lihat saja
counter Donuts, atau Bakery, kebanyakan sepi.

Pengusaha harus cepat berubah haluan, istilahnya back to basic.  Kembali
ke basic.  Kalau dulu handphone yang laku adalah model terbaru, harga
Communicator 9500 dulu sempat harganya 15 juta, sekarang handphone yang asal
bisa untuk menelepon, syukur-syukur dual band, ngirit, kalau perlu
rekondisi.

Di Bandung ada Babe, Barang bekas, tokonya masih ramai.  Kita harus siap
dengan fenomena ini Babe, kalau perlu dibuat satu paket kebutuhan keluarga:
pisang, beras, minyak, roti, susu, Indomie, biscuits, selai, sabun, shampoo,
detergent, baju anak-anak, odol satu paket seperti parcel harganya Rp
20,000.  Dananya darimana?  tidak mungkin menjual paket tersebut semurah
itu, dananya darimana?  Bisa dari sumbangan orang kaya, sedekah, zakat,
perpuluhan, atau sumbangan tenaga pengemas.  paket dikemas oleh pekerja
voluntir, iklan didukung oleh media secara sukarela.

Kondisi negara kita seperti refugee.  Kita perlu memikirkan makanan bagi
pengangguran, selama ini mereka ditanggung oleh keluarga.  Ibarat keluarga
beranak 4, yang dua bekerja yang dua lagi mengantar jemput layaknya ojek.
Lambat-laun keluarga tidak lagi mampu mendukung beban beratnya biaya hidup.
Akhirnya sekarang banyak sekali pasangan pisah ranjang hanya karena tekanan
ekonomi.

Sudah banyak sepeda motor dijual, yang sudah lunas, dikredit kembali,
tanah dijual murah, rumah dijual, untuk makan. Kalau dulu pengemis banyak
yang pura-pura sekarang semua orang miskin beneran.

Warung nasi Padang yang menjual ayam kare, rendang, perlu dirubah menjadi
warung tegal yang menyediakan teri, tahu, dan telor balado.  Negara kita
diberkati dengan sambal.  Hanya dengan sambal maka makanan terasa nikmat,
walaupun harus hemat.

Kadang seperti di sebuah foodcourt di Mall, banyak sekali orang makan,
makanan manado, makanan sunda, bebek goreng, tom yam seafood, namun
pernahkah kita berpikir, beberapa orang tidak cukup memiliki uang untuk
makan disana? sedangkan makanan dipajang secara terbuka.

Di Jerman dan beberapa negara Eropa ada undang-uandang yang tidak
menghukum pencuri makanan yang melakukan karena lapar, dan miskin.  Manusia
kalau tidak diberi makan, apa disuruh mati saja?  Bahkan salah satu peri
kebinatangan adalah setiap binatang wajib diberi makan.

Sekarang kalau melamar kerja masih untung mendapat penurunan gaji, karena
bahkan perusahaan terbesarpun melakukan pengurangan karyawan, calon karyawan
sudah tidak lagi menuntut Toyota Vios, atau Avanza, naik sepeda motor atau
Busway pun cukup, asal anak-anak tidak putus sekolah.

Uang pesangon PHK tahun lalu sudah habis, karena iklim investasi sungguh
memburuk.  Bila anda Manajer Senior, lakukanlah yang terbaik, bukan karena
mengejar gaji anda, lakukanlah untuk menolong menyelamatkan karyawan dari
pengangguran.

Pemerintah perlu memikirkan pengangguran ini, bila tidak maka bukan
masalah demo buruh yang ditakutkan, namun demo pengangguran.  Taksi di
pool-pool banyak yang menganggur, apakah tidak cukup sopir?  masalahnya
sopir banyak, namun penumpang kurang, sehingga banyak sopir taksi kerja
rodi, keliling seharian hanya impas untuk biaya bensin.

Acara  TV seperti Deal or No Deal, Who want to be millionaire, Super Deal
2 Milyar perlu dihentikan, sungguh menyakitkan melihat uang Rp 150 juta
diberikan begitu saja kepada kontestan.  sungguh menyakitkan.

Polisi sekarang kalau mau menilang harus ngotot-ngototan karena sopir pun
taidak punya uang, sehingga beberapa Polisi terpaksa menutupi mukanya dengan
helm dan menutupi nama di dadanya dengan penutup saku yang diganjal HT.

Pemerintah perlu melakukan crash program seperti karang taruna, atau
organisasi pemuda mungkin tanpa gaji, namun paling tidak disediakan makanan
dan kesibukan.  Saat ini para pengangguran sudah tidak lagi mencari uang,
namun mereka sudah mencari harga diri yang semakin lama semakin menipis....

Bila hidup tidak dihargai, maka orang akan mencari mati.

salam,
GG


Kirim email ke