aaa) Tolong simak ulang wawancara/diskusi pagi Metro TV pagi ini Senin, 21 Mei 2007 pukul 06:10 WIB bersama Tokoh Sejarah Nasional dari LIPI Bung Asvi Warman Adam. Disini nampak jelas bagaimana tokoh muda sejarah seperti beliau mempunyai suatu visi sejarawan Indonesia yang menguasai pokok masalah yan gdihadapi bangsa Indonesia. bbb) Kepemimpinan Nasional tidak perlu oleh satu dua orang dimana perlu oleh suatu Dewan yang terdiri dari Tokoh-tokoh Nasional yang menjadi panutan rakyatnya. Karena Tokoh-tokoh nasional masa lalu (Soekarno-Hatta, Tan Malaka, Syahrir, H.Agus Salim, dll.) tidak dapat dipersamakan dan dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang ada sekarang. ccc) Hanya sekedar wacana belaka untuk disimak ulang, bukan? Wass., Aspermato, MA
http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007051402365812 Senin, 14 Mei 2007 BURAS Bangsa Gagap Sejarah! H.Bambang Eka Wijaya: DALAM seminar internasional historiografi, utusan Indonesia selalu tergagap setiap bicara. "What wrong?" tanya moderator. "Maaf!" jawab utusan Indonesia. "Bangsa kami, terutama generasi saya dan berikutnya, memang gagap sejarah! Itu terjadi karena sejak sejarah perang kemerdekaan, buku dan film terkait Serangan Oemoem Satoe Maret 1948 yang telah jadi pelajaran di sekolah, belakangan dinyatakan tidak valid. Lantas terminal sejarah berikutnya, G-30-S, buku pelajaran dari Departemen Pendidikan yang telah dipakai sekolah lanjutan juga ditarik Kejaksaan Agung! Kurun terakhir terkait kejatuhan Orde Baru, kerusuhan tanggal 14--15 Mei 1998 yang menewaskan lebih 1.000 orang di Jakarta, setelah tanggal 13 Mei empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak aparat, tahun 2002 kasusnya ditutup DPR dengan alasan tak ada pelanggaran HAM! Akibatnya, tak ada catatan sejarah standar yang bisa dipakai dari semua peristiwa penting dalam perjalanan sejarah bangsa itu!" "Lantas, jika orang bijak berkata belajarlah dari sejarah, kalian belajar dari apa?" kejar moderator. "Dari ketiadaan!" jawab utusan. "Tepatnya, kami tak pernah bisa belajar dari sejarah!" "Berarti kalian ahistoris?" kejar moderator. "Itu seperti di rimba tanpa memedomani jejak-jejak yang telah dilalui, bisa tersesat!" "Itu konsekuensi logis!" jawab utusan. "Dan tersesat itu juga luas sifatnya, seperti tak bisa menemukan jalan keluar dari multikrisis sepanjang satu dekade! Tersesat di hutan saja bisa mencari tempat tinggi untuk melihat arah keluar, tapi ini satu dekade buntu!" "Pelajaran terpenting dari sejarah memahami kenapa suatu peristiwa terjadi, tahu siapa yang harus bertanggung jawab agar tidak mengulangi pilihan buruk!" tegas moderator. "Bahkan peristiwa terakhir, kerusuhan bulan Mei 1998, kalian tak bisa memastikan bagaimana ribuan orang tewas terpanggang di pusat-pusat belanja Jakarta, dan siapa yang harus bertanggung jawab? Ancaman pengulangan dari yang harus bertanggung jawab itu laten karena kalian juga tak tahu kenapa peristiwa itu bisa terjadi!" "Itulah bangsa kami, pelupa!" timpal utusan. "Tokoh-tokoh yang seharusnya bertanggung jawab pada masa lampau yang buruk, begitu berganti iklim perannya itu kami lupakan dan kami elukan kembali ke pentas! Itu penyebab reformasi terkesan tinggal bendera karena permainan politik kembali ke determinasi dan kendali aktor lama!" "Itu akibat tak belajar dari sejarah, roda cepat berputar kembali ke lumpur yang belum lama ditinggalkan!" sambut moderator. "Lalu, bagaimana kalian keluar dari lumpur itu!" "Membereskan kembali sejarah dan belajar sungguh-sungguh darinya!" tegas utusan. "Memang tetap itu jalan terbaik!" timpal moderator. "Tapi sementara kalian berbenah sejarah, bangsa-bangsa lain sudah melaju di atas roda sejarahnya yang prima. Artinya, kalian akan selalu tertinggal! Apalagi kalau setiap langkah kalian justru terjegal oleh kisruh sejarah yang tak pernah selesai!" "Ironis!" tegas utusan. "Karena kami adalah bangsa yang bangga pada sejarah!" "Itu modal tersisa!" timpal moderator. "Biar gagap asal bangga!" *
