Akhirnya, pasukan Amerika Serikat dan sekutunya berhasil menduduki
Irak. Benar-benar menyedihkan! Tentu saja kita tak lupa, invasi ke Irak
ini tak hanya mengandalkan peralatan perang yang canggih. Propaganda
perang melalui jaringan media telah digunakan Amerika dan Inggris,
bahkan sebelum pertempuran itu dimulai. Uniknya, perang kali ini
konsumen berita sangat dimanjakan oleh sajian yang beragam sehingga
jaringan televisi sekuat CNN, Fox News atau NBC harus “bertempur”
habis-habisan dengan televisi Al-Jazeera dan Al-Arabiyya untuk
memperebutkan opini publik.
Bagaimana sih media-media itu, termasuk media di Indonesia, meliput dan
melaporkan tentang perang ini? Berikut ini adalah kutipan dari redaksi
KAJIAN menurunkan petikan diskusi "Media dan Perang" yang
diselenggarakan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan Radio 68H
di Jakarta, 3 April 2003. Hadir sebagai pembicara Ulil Abshar-Abdalla,
Greta Morris (Konsulat Pers Kedubes AS), Eriyanto (pengamat media dari
PANTAU) dan Uni Lubis (TV7 yang me-relay Al-Jazeera). Beberapa peserta
seperti Agus Sudibyo (pengamat media dari ISAI), Jason Tejakusuma
(koresponden Time) dan M. Iqbal (Pascasarja Komunikasi UI) juga
terlibat. Karena keterbatasan ruang, tak seluruh hasil diskusi bisa
ditampilkan.
Netralitas Wartawan Peliput Perang
Eriyanto:
Petinggi militer AS sejak awal menyadari bahwa media harus diperhatikan
selain operasi militer itu sendiri. Dalam Perang Teluk pertama, AS
memakai sistem pool: wartawan dikumpulkan dalam satu pool, lalu ia
meliput dengan bantuan dari militer.
Kali ini, kerjasama wartawan dan militer juga tak bisa dihindarkan
karena pasukan koalisi banyak mengandalkan serangan dari udara.
Intinya, media butuh militer dan militer juga butuh media. Fenomena
menarik dalam perang ini ialah embedded journalist: wartawan "melekat"
di dalam militer. Ada 500-an wartawan yang ikut serta dalam konvoi
militer pasukan koalisi.
Justru itulah yang memancing kritik. Pertama, praktek jurnalisme
semacam ini merentankan independensi wartawan. Dia hidup, menghadapi
bahaya, makan dan bergerak bersama-sama dengan militer yang
ditumpanginya. Kedua, pola itu juga menimbulkan distorsi dan terkesan
melebih-lebihkan. Ketiga, liputan semacam itu hanya menampilkan
kehebatan dan kecanggihan peralatan perang pasukan koalisi, tapi jarang
menampilkan korban-korban perang itu sendiri. CNN misalnya, banyak
sekali memakai kata our soldiers (tentara kita atau kami).
Ulil Abshar-Abdalla:
Embedded journalist memang tak menghinggapi Al-Jazeera. Stasiun yang
baru berdiri 1996 ini kini menjadi hero di Timur Tengah, dan
negara-negara lain, termasuk Indonesia. Kalau dilihat secara jujur,
televisi ini juga menyuguhkan propaganda dalam bentuk lain. Menjadi
fenomenal karena selama ini propaganda perang hanya diberikan pers AS.
Baik CNN, Fox, NBC maupun Al-Jazeera sebetulnya sejak awal sudah
mempunyai sikap tertentu. Al-Jazeera, bila kita simak keseluruhan
siarannya, dan bagaimana ia mem-frame siarannya, jelas sekali bahwa
sikapnya antiinvasi AS ke Irak.
Sebaliknya, seluruh media AS, mungkin ini generalisasi, bila dilihat
dari mainstream-nya, tampak sekali mendukung pemerintahnya. Tentu
dengan berbagai variasi yang sedikit berbeda antara satu media dengan
media yang lain.
Kolumnis New York Times, Tom Friedman, mengritik Al-Jazeera dengan
mengatakan bahwa sebagai salah satu televisi, Al-Jazeera hanya melayani
keinginan audience Timur Tengah, yakni berita tentang kemenangan Saddam
dan kekalahan pasukan koalisi. Tapi apa yang dikatakan Tom ini juga
berlaku untuk media AS. Media AS tak berani melawan arus publik yang
lebih pro pada pemerintahnya. Ada satu kasus, misalnya Peter Arnett
dipecat dari NBC karena diwawancarai TV Irak yang isinya dinilai
merugikan publik.
Ada media yang agak independen, BBC misalnya. Tapi BBC juga tidak
semuanya netral. The Guardian juga sering menerbitkan artikel-artikel
yang kritis. Tapi secara keseluruhan, agak susah dalam situasi perang
seperti ini membayangkan ada media yang betul-betul independen, karena
media sebenarnya ditujukan untuk melayani pembaca atau pemirsanya.
Uni Z. Lubis:
Pers memang tak mungkin netral. Kalau Anda baca buku yang paling saya
gemari, Elements of Journalism karya Bill Kovack, mengatakan bahwa
wartawan tak pernah netral. Masalahnya, bagaimana wartawan mengambil
keputusan harus didasarkan pada hati nurani dan pengamatan faktual di
lapangan. Tentu media yang punya akses bagus, yaitu Al-Jazeera yang
bisa mengamati di lapangan secara faktual. Al-Jazeera juga memberikan
tempat kepada pejabat-pejabat dari AS dan sekutunya untuk beropini.
Semua pihak yang berperang punya public relation (PR). Yang tak punya
PR itu justru rakyat Irak yang menjadi korban. Wartawan Al-Jazeera bisa
melihat tragedi kemanusiaan yang terjadi di lapangan dan mereka menjadi
PR-nya warga Irak.
Seandainya TV7 atau media punya akses seperti Al-Jazeera, saya yakin,
semua wartawan kita ingin lebih mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan
akibat dari perang. Kewajiban kita sebagai wartawan untuk menyuarakan
yang selama ini dikatakan the voiceless, yang tak pernah didengar.
Keputusan TV7 untuk merelai Al-Jazeera hanya diambil dalam hitungan dua
jam. Tapi Al-Jazeera sudah menjadi perhatian kami sejak lama.
Alasannya, prestasinya luar biasa dalam perang di Afghanistan. Kami
menyadari juga bahwa publik Indonesia punya kedekatan emosional dengan
masyarakat di kawasan Timur Tengah. Kalau ada televisi lain yang sudah
menayangkan versi CNN secara terus-menerus, maka kami juga berhak
menayangkan versi di luar CNN. Tapi versi CNN tetap kami beritakan
dalam TV7.
Greta Morris:
Saya mau katakan bahwa soal pemecatan Peter Arnett, Al-Jazeera yang tak
diperkenankan meliput di bursa New York, itu di luar kebijakan
pemerintah AS. Sebelum perang dimulai, banyak surat kabar atau tajuk
rencana yang menentang perang. Tapi karena perang sudah dimulai,
kebanyakan orang AS mendukung pemerintah mereka. Karenanya liputan
media AS berubah menjadi lebih mendukung perang.
Kebebasan pers tetap ada di AS. Tapi selalu ada faktor human error
dalam semua liputan media massa. Walaupun coba meliput secara mendalam
dan jujur, tetap ada unsur propaganda.
Uni:
Saya mau tanggapi Gretta soal kebebasan pers di AS tetap ada. Saya mau
menyinggung salah satu isu yang paling krusial di kalangan pers AS saat
ini adalah global cencorship yang sudah terjadi sejak tragedi 11
September. Kita tahu, Condoleeza Rice menelpon para eksekutif media
agar tidak menayangkan cottage-cottage Osama. Negara-negara yang
dipimpin oleh diktator mengatakan kalau AS saja sudah membatasi
persnya, kenapa kita tidak? Akses wartawan untuk mendapatkan informasi
yang sebenarnya tentang perang juga sangat terbatas. Bahkan sudah ada
wartawan yang mengajukan somasi kepada pemerintah AS.
Para wartawan yang biasa bertugas di Pentagon juga kesulitan
mendapatkan informasi yang sebenarnya, bahkan untuk sekadar informasi
rutin. Gejala ini dimulai semenjak Donald Rumsfeld menjadi Menteri
Pertahanan. Ada artikel yang mengutip kepala biro New York Times yang
menceritakan seorang jenderal ketakutan setelah berbicara dengan
wartawan.
Greta:
Saya pikir, itu menyangkut “sensitive informations,” keterangan yang
sangat sensitif atau terkait keamanan. Tapi ada hal baru kali ini di
mana wartawan dapat akses luar biasa dalam meliput perang di Irak
melalui kebijakan embedded journalist. Wartawan bisa mendapat
keterangan first hand dan bisa menayangkan langsung kepada penonton.
Tapi ada segi yang sedikit kurang baik, seperti ditulis The Asia Wall
Street Journal, 1 April 2003. Untuk keseluruhan gambar besar, "the big
picture", justru kurang, sedang hal-hal yang terperinci malah
overdosis.
Agus Sudibyo:
Saya kira, sampai hari ini yang paling bagus menggambarkan perang dari
sisi korban adalah Al-Jazeera. Media-media Barat, terutama AS dan
Inggris, seperti terekam dalam Perang Teluk I, invasi ke Granada dan
Panama, selalu menggiring diskursus perang ini semata-mata diskursus
starwar. Perang hanya dilihat sebagai pertarungan teknologi perang
kelas wahid, tanpa ada korban dari sipil. Ini sebuah kebohongan, karena
bagaimanapun perang adalah perang. Ada air mata, darah dan kehancuran.
Nah, dalam hal ini, kita membutuhkan media seperti Al-Jazeera bahwa
perang harus dilihat dari sisi korban. Soal kebebasan pers, bukan
rahasia lagi, banyak sekali literatur yang menggambarkan betapa AS
ingin menggambarkan perang mereka dengan negara lain itu sebagai hidden
invasion: perang yang selalu ditutup-tutupi dari pemberitaan media
secara terbuka.
Ulil:
Saya sendiri menolak perang ini. Sebenarnya saya suka menonton
Al-Jazeera. Sampai saat ini Al-Jazeera menjadi menu utama saya setiap
hari, bahkan dua hari pertama saya tak tidur; hampir 48 jam saya
tongkrongi Al-Jazeera. Masalahnya, Al-Jazeera sendiri, sebagai station
TV, posisinya agak sulit. Markas Al-Jazeera di Qatar, sedang
pemerintahnya mendukung invasi. Tapi sebagai TV yang melayani pemirsa
Timur Tengah yang hampir semua audience-nya tak setuju invasi, otomatis
ia tak bisa melawan aspirasi dari pemirsanya.
Jadi Al-Jazeera seperti terperangkap dalam dua keadaan yang sulit.
Kalau kita lihat seluruh pemerintahan Timur Tengah sekarang ini,
sebagian besar menyetujui invasi AS; Mesir, Arab Saudi, Qatar, Emirat
Arab, dan negara-negara Teluk pada umumnya menyetujui perang karena
menilai Irak sebagai ancaman. Karenanya beberapa penguasa di Timur
Tengah tak menyukai Al-Jazeera. Hosni Mubarak tak suka Al-Jazeera,
bahkan pernah melarang mereka di Mesir, dengan dalih Al-Jazeera lebih
pro-fundamentalis. Lha wong penyiarnya nggak pakai jilbab dan
cantik-cantik kok disebut fundamentalis..ha..ha..Tom Friedman malah
menuding Al-Jazeera sebagai TV yang bertanggung jawab dalam
memprovokasi sentimen anti-AS di Timur Tengah.
Eriyanto:
Yang menarik dalam Perang Teluk II ini adalah pemirsa mempunyai banyak
pilihan. Kalau dalam Perang Teluk pertama, pilihannya cuma CNN, apalagi
saat itu TV swasta di Indonesia tak banyak sehingga “larinya” ke koran.
Sekarang pemirsa bisa memilih channel yang disukai. Ada dua kubu di
sini, meski masing-masing kubu juga berusaha untuk tetap balance. Saya
ingin tahu respon pemirsa terhadap dua kubu itu.
Uni:
Saya ingin menyampaikan data-data yang kami peroleh. Hari pertama kami
menyiarkan Al-Jazeera, pada Jumat, 21 Maret 2003 kami hanya
merencanakan siaran setiap hari pukul 07.00 pagi sampai pukul 11.00.
Setelah itu, kami akan masuk program reguler. Begitu kami hentikan,
telpon, sms, fax berdering dan marah semua dan meminta agar tayangan
itu dilanjutkan. Karenanya, malam harinya kami siaran lagi pukul 23.30
sampai 11.00. Itu bukti pertama
Kedua ditunjukkan oleh angka-angka rating dan audience share yang
biasanya keluar pada hari Rabu. Pemirsa TV7 naik dua kali lipat hanya
untuk minggu lalu. Minggu ini (minggu kedua sejak perang dimulai) naik
tiga kali lipat, bahkan khusus siaran Al-Jazeera di TV7 pada malam hari
share-nya bisa sampai 26 dan rating 3. Yang menarik ialah sebagian
besar yang menonton adalah ibu-ibu atau perempuan. Mungkin karena
Al-Jazeera banyak menampilkan sisi-sisi kemanusiaan korban, maka yang
attach kebanyakan kaum perempuan dan rela begadang sampai pagi menonton
Al-Jazeera.
Greta:
Al-Jazeera bukan hanya mewakili korban dari warga sipil Irak, tapi juga
korban dari pasukan koalisi (Mungkin dia merujuk pada penayangan
tawanan AS di Al-Jazeera). Tapi Al-Jazeera tak mewakili korban dari
kekejaman Saddam Husein. Padahal ada banyak korban dari Saddam Husein.
Beberapa hari lalu, Kedutaan AS menayangkan perempuan, Zainab
al-Syuaiz, yang memberikan banyak keterangan tentang kekejaman Saddam
Husein atas orang Irak sendiri, suku Kurdi, orang Iran dan Kuwait.
Seharusnya media memberitakan semua fakta yang ada.
Jason:
Idealnya memang harus menyajikan semua fakta dan kebenaran, tapi jelas
bahwa semua TV swasta di dunia ini untuk mencari rating. Ini bisnis dan
bukan fenomena baru. Kalau Fox News, saya tak heran mereka berpihak
pada pasukan koalisi dan memakai istilah-istilah yang menjijikkan. Kita
juga selalu mencari media yang sesuai dengan pendapat atau interest
kita juga.
Ulil:
Secara umum, Al-Jazeera berusaha mengikuti norma-norma dan standar
jurnalisme yang standar. Dia cover semua konferensi pers yang diadakan
pasukan koalisi maupun Irak. Semuanya ditayangkan dan diterjemahkan
dengan bagus sekali, lebih baik daripada para penerjemah Indonesianya.
Sudah pasti Al-Jazeera punya biro yang sangat kuat di London,
Washington, Kairo, Baghdad selain di Doha sendiri. Dari segi
prinsip-prinsip jurnalisme dasar, ia memberitakan secara fair. Meski
kita tahu cover-both-side itu bukan segala-galanya, karena ketika
cover-both-side itu di-print atau diletakkan dalam satu kerangka
tertentu, tentu punya kesan yang berbeda.
Bagaimana Liputan Media di Indonesia?
Greta:
Saya kira, liputan media di sini soal perang ini cukup bagus karena
digali dari beberapa sumber. Ada dari Reuters, Al-Jazeera, CNN, BBC dan
lain-lain. Reaksi orang Indonesia atas perang di Irak juga bagus
sekali. Walau ada unjuk rasa di sana-sini, tapi berlangsung sangat
damai. Perang ini juga disebut tak ada kaitan dengan agama. Kami sangat
berterima kasih. Kadang masih ada berita yang kami sesalkan. Misalnya
dilaporkan duta besar AS dan staf sudah meninggalkan Indonesia. Ini
tidak betul sama sekali. Kami merasa aman di sini, meski banyak yang
mendemo kami.
Eriyanto:
Pemikir asal AS, Walter Dickman, mengatakan bahwa dalam perang
seringkali media bukan menampilkan apa yang terjadi, tapi apa yang
dikehendaki publik untuk terjadi. Ini bukan cuma terjadi di AS, tapi
juga di Indonesia. Sebagian besar rakyat Indonesia, katakanlah,
pro-Irak. Ini ditangkap oleh media kita di mana banyak sumber-sumber
berita yang dikutip dan dijadikan headline adalah berita-berita yang
menggambarkan kemenangan Irak atau pasukan koalisi yang menjadi
pecundang. Saling serang antara tentara AS dengan Inggris (friendly
fire) diekspos besar-besaran dan seterusnya.
Yang unik ialah seringnya pengutipan tanpa kritis. Minggu lalu beberapa
harian misalnya, Jawa Pos, Media Indonesia, Koran Tempo dan Republika
menurunkan headline soal pesawat helikopter yang canggih, Apache, yang
ditembak petani. Melihat foto Apache yang masih utuh tanpa ada
kerusakan, agak mustahil bila ia ditembak petani tua yang bersenjata
tradisional. Koran Tempo dan Republika juga memberitakan Brigade Lapis
Baja ke-7 tentara Inggris yang dibuat tak berkutik ketika menghadapi
pertempuran di Basra. Realitasnya, tidak ada satupun tentara Inggris
yang tewas dalam pertempuran itu.
Koran-koran juga sering menampilkan berita serdadu koalisi kelaparan
karena ada serangan terhadap konvoi-konvoi yang membawa amunisi dan
perbekalan. Seringnya berita semacam ini dikutip media-media kita tanpa
sikap kritis, sehingga muncul persepsi yang menggelikan. Ini semua
mungkin dalam rangka memuaskan sensasi yang diinginkan kebanyakan warga
Indonesia.
Uni:
Memang ada unsur dramatisasi. Masalahnya, bayangan kita, invasi ini
akan berlangsung sangat singkat. Artinya AS tak sampai menjatuhkan bom
dan rudal sebanyak ini untuk menjatuhkan Baghdad dan membuat Saddam
Husein mati. Memang ada semacam perasaan sorak-sorai ketika Amerika
tidak bisa maju karena terhalang oleh badai gurun pasir dan lain-lain.
Itu saja sudah dianggap kekalahan dalam perang ini yang mirip David
versus Goliath.
M. Iqbal:
Tema besar kita ialah antiperang karenanya media massa kita seharusnya
berpihak pada peace journalism. Jurnalisme damai menjadi momentum
membangun kesadaran kritis untuk ditunjukkan pada publik dunia. Kalau
media nasional tak meliput langsung dalam arena perang, mereka bisa
menulis features atau liputan humaniora tentang korban perang. Inilah
kesempatan media massa melawan perang itu sendiri.
Eriyanto:
Tapi kondisi riil media kita agak susah untuk melakukan jurnalisme
damai. Media kita mungkin menolak perang, tapi diam-diam harus diakui
bahwa perang ini juga sudah menaikkan oplah dan rating mereka. Rating
TV7 naik tiga kali lipat selama perang ini, demikian pula oplah
koran-koran kita. Ada yang mengatakan bahwa oplah media sekarang
rata-rata naik hampir 10.000,-an. Saya kira, orang makin cenderung baca
koran, mendengar radio, menonton TV dan mengakses internet untuk
memperoleh informasi soal perang.
Media massa juga sulit meliput secara berimbang karena keterbatasan
akses menemui pihak-pihak yang berseteru. Media dari AS misalnya, tak
punya akses yang cukup leluasa untuk menemui sumber-sumber di Irak.
Tinggal bagaimana kekritisan kita sebagai khalayak untuk mencermati
setiap berita yang ditampilkan media. Kalau tidak kritis, maka yang
terjadi adalah dramatisasi kejadian yang awalnya biasa lalu menjadi
sangat luar biasa []



--
Posted By AG. Eka Wenats Wuryanta to Melek Media ala AG. Eka Wenats
Wuryanta at 5/21/2007 12:48:00 PM

Kirim email ke