Dear Yumeldasari chaniago, saya menghargai permintaan anda. Saya yakin diskusi kita tdk sia-sia. Saya juga sangat berharap agar semua miliser Islam intelektual disini, turut berpartisipasi dalam membangun masyarakat demokrasi dan tdk menyulut diskriminasi dan menindas pihak-pihak minoritas di Indonesia. Peka terhadap semua penindasan dan tindakan-tindakan barbarian, seperti mengaku orang beragama tapi menindas orang lain yg sedang menjalankan agamanya hanya karena orang itu tdk seagama dengannya.
salom roslina Yumelda Chaniago wrote: > > Dear roslina, > > Saya pikir kita cukupkan saja komentar ttg lafal Allah ini, krn pasti > tak ada ujungnya. Apalagi anda salah mempersepsikan ketersinggungan > saya. Sekadar mengingatkan, saya bukan mempersoalkan atau mengagungkan > atau percaya penuh pada lafal Allah yg muncul di setiap tpt. Kemarin > yg membuat sy jengkel adalah sikap anda yg mnrt sy tdk fair krn anda > memberikan contoh ttg kemunculan Allah dan Yesus dalam kondisi yg > kontradiktif. Knp dr dua cth kemunculan Allah selalu berdampak bencana > hebat bg manusia. Sdg dua cth ttg kemunculan Yesus selalu happy > ending. Cm itu yg sy persoalkan. Kalau masalah kemunculan lafal Allah > sy tak pernah mau komentar krn sbg manusia saya tdk tau tentang > kebenaran hal itu. Jd sy pikir sy tdk kompeten u/ ikut-ikutan > mengomentari masalah itu. Cm sbg org muslim patutlah sy mempertanyakan > dan mengecam siapa pun yg jelas-jelas bermaksud mendiskriditkan > kebesaran Allah. Kalau sy sensitif seperti yg anda tuduhkan jujur saja > sudah dr kemarin sy mengomentari banyak hal di milis ini yg berkaitan > dgn agama. Tp hal itu tdk sy lakukan, krn sy pikir sbg umat beragama > wajar kalau setiap org menilai agamanya paling bagus dan paling benar > serta paling cocok di zaman ini. Tapi hal itu tdk sy lakukan. Sy > berusaha jadi pembaca yg baik, dan menganggap komentar-komentar miring > ttg jilbab dan lainnya sbg masukan yg berharga. Krn sy percaya > Keberagaman itu indah jika kita saling menghormati dan menghargai. > Selama cara penyampaiannya tdk dgn nada memprovokasi krn hal itu bisa > membahayakan kelangsungan hidup antar umat beragama. > Wassalam... > Yumeldasari chaniago > > ----- Original Message ----- > From: [email protected] <mailto:mediacare%40yahoogroups.com> > <[email protected] <mailto:mediacare%40yahoogroups.com>> > To: Mediacare <[email protected] > <mailto:mediacare%40yahoogroups.com>> > Sent: Tue May 22 19:34:24 2007 > Subject: [mediacare] Lafal Allah > > Dear Yumelda Chaniago, > > sorry saya lama tdk punya waktu baca e-mail. Menurut penilaian saya anda > memang cukup sensitip, sayangnya kesensitipan itu agak berat sebelah. > Anda bisa menilai apa yg tersirat dari postingan saya menanggapi > postingan ttg telur tsb. Namun apakah anda juga sensitip terhadap akibat > sensasi-sensasi demikian ini dilingkungan masyarakat majemuk Indonesia > Raya? > > Anda merasa tersinggung atas tanggapan saya, mungkin juga banyak miliser > lain yg punya perasaan yg sama namun tdk diungkapkan. Tapi bukankah > penomena demikian ini perlu ditanggapi dgn serius? Siapakah mereka yg > mempostingkan semua issue ttg. lafal Allah itu? Apakah motivasi mereka? > > Menjawab pertanyaan I ttg siapa, hampir dapat saya pastikan mereka > adalah penganut agama Islam. Ok tidak apa-apa. Setiap orang bisa bangga > atas pandangan hidupnya, dapat saya hargai dengan catatan pandangan > hidup yg membangun sesama manusia. Tapi sebagai orang berpendidikan > seperti yg anda ungkapkan, seharusnya kita menunjukkan kwalitas > pandangan hidup/agama kita itu bukan? > > Untuk itulah saya menanggapi postingan itu dengan sedikit kadungan > provokatif dalam arti menantang sikap kritis kita terhadap sesuatu. > Itulah sebabnya saya sangat mencintai cara penulisan Indonebia. > Tulisannya sering disalah mengerti, tapi bagi saya dia adalah orang > pintar. > > Contohnya, ketika digembor-gemborkan lafal Allah di api Lapindo, berikut > dikirimkan gambar lafal Allah di Ombak Tsunami, maka muncul lagi lafal > Allah dalam bunga yg merambat di hutan yg menyemburkan bau busuk, lafal > Allah di bulu Kucing, Indonebia berkomentar, jangan-jangan sebentar lagi > lafal Allah akan muncul di bulu Babi oleh si kafirun, gitu kira-kira > tulisan Indonebia, namun sayangnya para pencinta lafal ini belum > menyadari sindiran Indonebia. > > Apa sih makna dari pemunculan lafal ini? Dengan terbitnya matahari > setiap pagi dan kita semua boleh bangun dengan segar seharusnya cukup > bagi kita sebagai pertanda kehadiran Allah kita yg Maha Kuasa. Sebagai > orang-orang intelektual, kita semua harusnya tahu bahwa rotasi bumi dan > segala season di alam semesta ini tdk mungkin sedemikian teratur kalau > tdk ada yg mengendalikan. Atau yg paling sederhana dan naif adakah > diantara kita yg bisa mempertahankan nafas kehidupan ini? Adakah > defenisi syarat-syarat kematian secara defenitif? Jawabnya TIDAK. Setiap > orang dalam setiap kondisi dpt mati dalam sekejap. > > Ok, spy tdk terlalu menyimpang, menurut saya jika ada pemunculan berupa > tanda-tanda supernatural, seharusnya kita semakin mawas diri dan > merendahkan diri sekaligus. Saya tdk bermaksud menistakan atau bahkan > menyangkali adanya penomena-penomena tersebut, tapi sebaliknya > _menggarisbawahi. _ > > Kalau lafal Allah itu nampak nyata di api Lapindo, sedang dampak yg > nyata akibat semburan api dan lumpur itu kota sidoarjo hancur. Mari kita > semua, terutama umat Islam yg besar di Indonesia, merenungkan apa > message yg ingin Tuhan Allah sampaikan? Mungkin Allah telah murka sebab > banyak orang mengaku pengikut dan pemuja Allah namun tingkah laku mereka > tdk membawa hormat pada Allah. > > Pemegang kekuasaan di NKRI mayoritas menyembah Allah, tetapi negara ini > hancur berantakan? Setelah banjir Jakarta, ada ajakan utk doa > pertobatan. Mudah-mudahan dengan sentuhan-sentuhan lafal ini mencapai > masyarakat pembeli telur, semua rakyat Indonesia semakin waspada dalam > menggunakan nama Allah. > > Tentu saya langsung teringat keadaan di Poso. Bukanlah rahasia lagi > bahwa penjagalan antar sesama yg terjadi di sana lagi-lagi menggunakan > nama yg sama. Jika kita mundur kebelakang, peristiwa di Ambon, peristiwa > mei 98, peristiwa di Bali, semua ini terjadi dan para pelaku selalu > menyerukan nama Allah. > > Menurut saya justru inilah yg layak disebut sebagai penistaan atas nama > Allah. > > Saya anggap Mediacare adalah arena yg layak dipakai sebagai anjang > mendiskusikan segala sesuatu secara terbuka dan secara intelektual. Mari > teman-teman beragama Islam, kaum intelektual di Mediacare, bawalah > suara-sauara halus ini utk memperbaiki cara berpikir umat secara kritis > dilingkungan anda. > > Tidak perlu kita menggembar-gemborkan namaNya tanpa makna pertobatan yg > mendatangkan kesejahtraan bersama. Mari kita mencermati semua fakta dgn > cara berpikir sehat dan kritis. Di samping fakta adanya lafal Allah di > api lapindo, di ombak di telur, juga ada fakta yg terjadi di Poso dan > telah diwartakan di media TV,Internet dan media tulis seperti Kartini > dll. > > Kenapa kita tdk menanggapi kedua penomena ini dari cara berpikir yg sama > misalnya, penomena lafal Allah merupakan PERINGATAN agar jangan > sembarangan menggunakan nama Allah tanpa pengamalan ttg kesucian Tuhan > Allah itu, dan cinta kasihNya terhadap manusia ciptaanNya, sementara > penomena kuasa menggunakan nama Yesus adalah demi mendatangkan kebaikan > bagi sesama. Bukankah keduanya *positif*? > > Dalam hal ini kedua belah pihak baik Kristen maupun Islam diperingatkan > untuk mengagungkan sesembahanNya dalam proporsi yg tepat dan benar demi > kepentingan bermasyarakat? Yesus juga akan murka melihat kejahatan, tapi > yg kita alami Dia sedang menyembuhkan hati orang-orang yg luka di Poso > dengan mendatangkan kesembuhan bagi siapa saja terutama mereka yg tak > mampu membayar pengobatan yg cukup mahal di NKRI. Rakyat jelata yg > menderita tanpa ansuransi kesehatan. > > Dimanakah anda-anda yg masih berpikir positip dan intelektual itu? > > Bukan Allah yg salah, tapi manusianyalah yg harus koreksi diri. Mumpung > NKRI masih menjunjung tinggi Pancasila, mari kita kembali menjadi > manusia-manusia intelektual yg beriman dan mengamalkan iman sesuai > dengan nurani kemanusiaan ditambah dengan kontrol intektual kita sebagai > masyarakat berpendidikan/berilmu. > > Kiranya kandungan yg tersurat semakin dapat dipahami demi kedamaian dan > bukan sebaliknya. > > PS e-mail ini sempat dibounce mungkin karena saya lupa menghapus > postingan dibawahnya alias kepanjangan. > > > >
