Kalau di Singapore saya tidak terlalu heran, mungkin masih lebih banyak orang 
jujur ketimbang yang tidak jujur. Tapi kalau kejujuran ini terjadi di Jakarta, 
ini sangat amat membingungkan.
   
  Tiga tahun yang lalu, suami saya dari Cengkareng menggunakan jasa taksi 
Silver Bird, pulang ke rumah di wilayah Kemang. Sampai di rumah suami saya sama 
sekali tidak menyadari bahwa HP nya tertinggal di taksi. Karena sampai di rumah 
sudah jam 23.00, langsung mandi dan langsung tidur. Tiba-tiba kira2 jam 3 subuh 
datang supir taksi Silver Bird tadi kembali kerumah saya dan membangunkan 
satpam saya. Dia mengembalikan HP suami saya yang tertinggal. Pak supir itu 
mengembalikan HP tanpa meninggalkan pesan apa2 dan tanpa meninggalkan nama 
beliau.
   
  Jam 7 pagi saya dan suami saya sibuk mencari data pak supir tsb ke Blue Bird. 
Untungnya suami saya setiap naik taxi dia punya kebiasaan mencatat no taksi. 
Hal ini memudahkan pihak Blue Bird untuk melacak siapa pengemudi taksi 
tersebut, yang akhirnya kami ketahui bernama Pak Edi.
  Pihak Ble Bird meng'call' pak Edi supaya datang kerumah kami. Kami ingin 
mengucapkan terima kasih kepada beliau yang pada era penuh ketidak jujuran ini 
ada seorang yang bernama Edi, masih tetap menjunjung arti sebuah kejujuran.
   
  Di Singapore setahu saya supir2 taksi memang masih memegang kejujuran. Suatu 
kali saya pernah jam 01 subuh saya naik taksi, sepulang pesta ultah teman. 
Karena hujan deras sekali saya membayar taksi dengan terburu-buru, argo 
menunjukan $ 16,40. Niat hati ingin membayar $ 20 sebagi ucapan terima kasih 
pada pak supir yang sudah membawa saya pulang di tengah malam yang hujan deras 
dengan selamat. Saya langsung turun dan tutup pintu taksi lari ke lobby 
apartment saya. Tiba2 pak supir teriak-teriak dan lari2 mengejar saya dengan 
basah kuyup menyodorkan uang yang $ 110. Saya terbengong-bengong karena tidak 
menyadari sudah memberian uang $ 110 kepada pak supir. Ternyata saya bukannya 
membayar $ 20 tapi saya membayar $10 dan $100. Akhirnya pak supir saya tukar 
dengan $ 50 setelah saling bertahan, pak supir bertahan saya cuma harus bayar 
sesuai argo. Akhirnya setelah saya menghiba please.... please berulang kali, 
dia mau menerima pemberian saya.
   
  AniDj

Sri Maryanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Sopir Taksi di Singapura

Kadang kita bingung dengan kejujuran dan pengabdian tulus seseorang 
pada pekerjaannya. Kejujuran sering kita pandang aneh. Mungkin karena 
jumlahnya tak banyak. S Prawiro menulis pengalaman uniknya dengan 
seorang sopir taksi di negeri tetangga. 

Baca tulisannya di blog kami:
http://ecosocrights.blogspot.com/

salam
yanti



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke