Di Papua pada zaman penjajahan Belanda bagi yang mau berkunjung ke dataran 
tinggi harus memiliki sertifikat bebas malaria. Maksudnya untuk tidak membawa 
bibit penyakit malaria ke daerah tsb. Bila kaum kolonial saja sudah berbuat 
demikian maka mengapa penguasa Indonesia tidak berbuat lebih baik dari mereka 
teristimewa sekarang dengan adanya  HIV/AIDS?.
.  
Penduduk Papua adalah kurang lebih 2,5 juta hasil kekayaan alam luar biasa 
besarnya. Harian Kompas tgl 22 Maret 2005 memberitakan bahwa 80% penduduk Papua 
hidup dibawah garis kemiskinan, Sinar Harapan 2 Maret 2005 menulis bahwa hampir 
semua anak menderita Hepatis A. Mengenai pendapatan Papua, hanya  dari Freeport 
dalam bentuk pajak perusahaan tahun  2004, pemerrintah Indonesia menerima US$ 
297 juta [Suara Pembaruan 16 Februari 2005].  Jakarta Post 16/5/2007 mempunyai 
judul : "Mimika  community untouched by education, healthcare".  Membandingkan 
pendapatan dan keadaan penduduk disana sesuai berita yang dikutip, maka apa 
yang bisa dikatakan kepada rakyat Papua? Sabar subur pasti masuk kubur?  



  ----- Original Message ----- 
  From: amartien 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, May 22, 2007 8:49 AM
  Subject: Re: [mediacare] Menyelamatkan Papua dari AIDS



Saya rasa perkataan yang tepat adalah epidemic, dan bukanlah genocide.Genocide 
adalah pembunuhan besar2-an terhadap suatu kelompok yang sistimatis dan sengaja 
berdasarkan ras, politik dengan maksud menghabiskan kelompok tsb.--- Papuan 
Dairy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:> Komentar:>   GENOCIDE nampaknya akan menjadi 
sejarah Papua> dimasa yang akan datang kalau tidak segera mencegah> penyebaran 
HIV/AIDS yang semakin tidak
 terkontrol.>    

  [EMAIL PROTECTED] wrote:
    Saya rasa perkataan yang tepat adalah epidemic, dan bukanlah genocide.

    Genocide adalah pembunuhan besar2-an terhadap suatu kelompok yang 
sistimatis dan sengaja berdasarkan ras, politik dengan maksud menghabiskan 
kelompok tsb.


    --- Papuan Dairy wrote:

    > Komentar:
    > GENOCIDE nampaknya akan menjadi sejarah Papua
    > dimasa yang akan datang kalau tidak segera mencegah
    > penyebaran HIV/AIDS yang semakin tidak terkontrol.
    > 
    > -----------------------------------------
    > 
    > Selasa, 22 Mei 2007 
    > HIV/AIDS di Papua (1)
    > Menyelamatkan Papua dari AIDS Elok Dyah Messwati
    > Sabtu malam, 12 Mei 2007, di tikungan pom bensin
    > lama, Terminal Mesran di Jalan Koti, Jayapura,
    > Papua, lima waria sedang menanti pelanggan. Mereka
    > memang pekerja seks komersial yang beroperasi di
    > tikungan tersebut.
    > 
    > Seorang di antara mereka, Henny Iswayudi namanya.
    > Ia merupakan waria yang disegani kawan-kawan waria
    > di lingkungan itu. Tak pelak, dalam pertemuan
    > Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) setanah Papua beberapa
    > waktu lalu yang difasilitasi oleh Komisi
    > Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, Henny
    > terpilih menjadi ketua. "Dulu yang mangkal di sini
    > ada 19 orang, sudah meninggal 11 karena positif
    > HIV," papar Henny tentang nasib kawan-kawannya. 
    > Menurut dia, 90 persen waria di Papua sudah positif
    > HIV. Mereka pun selalu menjelaskan kondisi mereka
    > itu kepada pelanggan mereka dan menyarankan agar
    > menggunakan kondom saat berhubungan dengan mereka. 
    > "Tapi banyak yang tidak mau pakai kondom. Sudah
    > dijelaskan nanti bisa mati karena AIDS... eh, malah
    > bilang: tak usahlah pakai kondom, sudah biar kita
    > mati sama-sama," tutur Henny. Henny dan
    > kawan-kawan waria adalah sekumpulan orang yang hidup
    > pada situasi terdesak. Karena tidak memiliki
    > pekerjaan, mereka terpaksa menjadi pekerja
    > seks komersial (PSK) untuk melanjutkan hidup. 
    > "Sebenarnya kami sangat ingin punya tempat untuk
    > berkumpul dan berusaha. Di sana nanti kami bisa
    > berbagi keterampilan salon, membuat kue, sehingga
    > kami tidak perlu ke jalanan lagi," begitu keinginan
    > Henny yang sampai saat ini belum terpenuhi karena
    > ketiadaan dana untuk menyewa tempat bersama.
    > Padahal, jika mereka tidak lagi berpraktik, tentunya
    > penularan HIV bisa diminimalisasi. Penularan 
    > Penularan HIV/AIDS hanya bisa terjadi melalui
    > beberapa cara, antara lain melalui hubungan seksual
    > berisiko tinggi (tanpa kondom dan bukan dengan
    > pasangan tetap), melalui jarum suntik narkoba dan
    > alat-alat tajam yang digunakan secara bersama
    > misalnya silet, ataupun saat ibu menyusui, bayinya
    > bisa tertular. Jika di Jakarta angka pengidap
    > HIV/AIDS yang terbanyak adalah mereka yang
    > menggunakan jarum suntik narkoba, yang terjadi di
    > Papua penularan HIV umumnya adalah melalui hubungan
    > seks yang berisiko tinggi, yaitu tanpa kondom. 
    > Karena itu, pemerintah dan KPA Provinsi Papua
    > sangat gencar mengampanyekan pemakaian kondom, baik
    > melalui baliho, poster, maupun iklan di radio.
    > Bahkan, iklan gambar para pemain sepak bola
    > Persipura yang di bawahnya bertuliskan "Kitorang
    > Semua Pakai Kondom" dipasang di tempat-tempat
    > strategis, termasuk di Bandar Udara Sentani,
    > Jayapura. Tak hanya itu, saat KPA Provinsi
    > Papua mengampanyekan hidup "aman", Pendeta Canon
    > Gideon Byamugisha dari Uganda (Afrika Timur) datang
    > ke tanah Papua atas undangan World Vision Indonesia
    > justru mengampanyekan hidup "benar". Dalam
    > berbagai pertemuan baik dengan para tokoh agama,
    > mahasiswa, pejabat eselon II-IV, kalangan pengusaha,
    > DPRD, LSM, maupun dalam ibadah Oikumene, Canon
    > Gideon Byamugisha selalu mengingatkan bahaya HIV dan
    > cara menghindari serta mencegahnya, yakni setia
    > kepada pasangan hidup (baik suami atau istri). 
    > Canon Gideon Byamugisha yang baru mengetahui dirinya
    > positif HIV pada tahun 1992 ini memberikan pemahaman
    > bahwa mereka dengan HIV/AIDS tidak perlu rendah
    > diri atau malu karena nantinya justru tidak akan
    > mendapatkan pertolongan yang tepat. Byamugisha
    > menduga ia positif karena selama hidupnya pernah
    > mendapatkan empat kantong transfusi darah dan 350
    > kali suntikan malaria. "Mungkin karena itu saya
    > positif. Tetapi, saya memutuskan untuk memecahkan
    > kebisuan ini dan menyebarluaskan informasi agar HIV
    > dapat dicegah," papar Byamugisha. Ironi 
    > Pemaparan Canon Gideon Byamugisha kepada para
    > pejabat eselon II-IV, Jumat siang, 11 Mei 2007, di
    > Gedung Sasana Krida Kantor Gubernur Papua di Jalan
    > Soa Siu Dok 2 Jayapura menjadi suatu ironi karena
    > ternyata malam harinya di Dok 2 tersebut justru
    > menjadi tempat rendezvous anak-anak muda Papua yang
    > bisa jadi berujung pada seks bebas. Tengoklah
    > malam hari di Dok 2 tersebut, sepanjang 1-2
    > kilometer anak-anak muda bebas tanpa rikuh
    > berpelukan, berciuman, bahkan melakukan hal lebih
    > jauh di balik pagar tembok pinggir jalan. Tidak
    > hanya itu, di lingkaran Abe, pusat kota kecamatan
    > Abepura, di mana banyak terdapat perguruan tinggi
    > dan sekolah, dengan mudah kita bisa temui remaja
    > putri yang bisa diajak berkencan oleh siapa saja. 
    > "Pokoknya, kalau ada cewek pakai baju adik atau
    > baju miskin dan bawa handphone, dia pasti bisa
    > diajak. Apalagi kalau membawa mobil, cewek itu akan
    > langsung naik mobil," tutur Arnold, warga Jayapura. 
    > Dalam pergaulan di Jayapura, baju adik yang
    > dimaksud adalah baju ketat, sedangkan baju miskin
    > adalah baju minim tank top tanpa lengan. Meski tidak
    > semua perempuan muda bisa diajak berkencan,
    > ciri-ciri fisik dan pakaian seperti itulah sebagai
    > penanda perempuan bisa diajak berkencan. Ironi
    > lainnya adalah saat menyambangi Tanjung Elmo.
    > Menurut Ketua Harian KPA Provinsi Papua Constant
    > Karma, semula tempat itu merupakan tempat untuk
    > merehabilitasi para PSK. Namun, Tanjung Elmo justru
    > berubah menjadi lokalisasi. Jika Anda melintas
    > dari arah Jayapura menuju Sentani
    > menggunakan angkutan umum, sopir akan meneriakkan
    > pertanyaan, "Ada yang turun puskesmaskah?" Itu kode
    > khusus karena puskesmas ini dipelesetkan menjadi
    > "Pusat Kesenangan Mas-mas" atau karena arahnya dari
    > Jayapura di sebelah kiri jalan dan menurun, maka
    > muncul sebutan "Turki" alias Turun ke Kiri. Itu
    > guyonan orang kalau mau ke lokalisasi di Tanjung
    > Elmo. Di sana pun terpasang dua hal yang
    > bertentangan: Yang satu sebuah papan larangan
    > melakukan praktik prostitusi dan yang satunya pada
    > 13 Mei 2007 terpasang spanduk bertuliskan "Area 100
    > Persen Menggunakan Kondom". Efektifkah larangan itu?
    > Karena praktik prostitusi ternyata tetap berjalan. 
    > 3.252 kasus HIV/AIDS merupakan kasus yang
    > serius di tanah Papua. Karena itu, semua pihak harus
    > benar-benar berjibaku mencegah agar virus ini tidak
    > kian menular ke mana-mana. Sampai 31 Maret 2007,
    > data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat
    > ada 3.252 kasus HIV/AIDS. Yang terbanyak adalah di
    > Kabupaten Mimika, yaitu 1.182
    > kasus. "Angka ini adalah jumlah kasus yang mampu
    > kami data. Namun, kami perkirakan jumlah kasus
    > HIV/AIDS di Papua sebanyak 11.000-12.000 kasus,"
    > kata Constant Karma. Sebuah angka yang
    > mengkhawatirkan. Keseriusan pemerintah terpapar
    > dalam ungkapan Gubernur Papua Barnabas Suebu yang
    > mengatakan bahwa jalan terbaik untuk mengatasi
    > HIV/AIDS adalah dengan pertobatan total. 
    > "Selama orang setia kepada istri, penyakit ini akan
    > hilang. Tapi kalau masih ada orang berzinah, maka
    > akan sulit diatasi," kata Barnabas Suebu.
    > Nilai-nilai yang dipegang Gubernur Papua ini sejalan
    > dengan apa yang dikampanyekan Canon Gideon
    > Byamugisha bahwa kita harus hidup "benar", bukan
    > hidup "aman" saja. Keseriusan Pemprov Papua
    > terlihat dari alokasi dana Rp 20 miliar untuk
    > mengatasi HIV/AIDS. Banyak yang berharap para waria
    > dan PSK yang positif HIV pun akan menjadi prioritas
    > untuk ditolong. Semoga saja.... 
    > 
    > 
    > Resources:
    > 
    > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/22/humaniora/3543244.htm
    > 
    > 
    > ---------------------------------
    > Never miss an email again!
    > Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail
    > arrives. Check it out.





   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.7.6/814 - Release Date: 5/21/2007 2:01 
PM

Kirim email ke