IBRAHIM ISA  --  BERBAGI CERITA
Rabu, 23 Mei 2007
------------------------------------------
SAHABAT KAMI - JOMO KWAME SUNDARAM

Dengan diberkahi cuaca indah musim semi,  kehangatan sinar sang surya
disela tiupan angin sepoi-sepoi basa, Senin kemarin dulu itu,
berempat   kami, ---  Anggota-anggota Bestuur Wertheim Foundation:
Coen Holtzappel, (Ketua);  Jaap Erkelens, Farida Ishaya dan aku,
menyempatkan diri bertemu di   'Hotel Residence Le Coin', Doelenstraat
5,  Amsterdam.  Wakil Ketua Wertheim Foundation Go Gien Tjwan tak
hadir karena kesehatan. Sedangkan  anggota  pengurus Frans Hüsken dan
Batara Simatupang, karena terhalang datang disebabkan oleh pekerjaan.
Acara kami: Menemui dan bercakap-cakap dengan sahabat kami, Prof. Dr
Jomo Kwame Sundaram (55 th). Selanjutnya kita pakai nama yang biasa
digunakannya sendiri: JOMO KS.

Kukatakan sahabat kami, karena,  dalam tahun 2005,  kami dari Wertheim
Foundation, pernah minta kesediaan beliau untuk duduk dalam Komisi
Seleksi Internasional, dikepalai oleh Prof. Dr Jan Breman,  yang
tugasnya ialah,  menseleksi dan mengusulkan nama-nama tokoh-tokoh
Indonesia yang  patut dianugerahi 'Wertheim Award' oleh Wertheim
Foundation, karena keterlibatan dan dedikasi demi urusan IMANSIPASI
BANGSA INDONESIA.  Komisi berjalan lancar. Atas usul Komisi
Internsional tsb Wertheim Foundation telah menganugerahkan'Wertheim
Award 2005' kepada dua orang tokoh  jurnalis dan penerbit: Jusuf Isak,
 jurnalis pemimpin HASTA MITRA, serta Goenawan Muhamad, budayawan
mantan pemimpin Redaksi Mingguan Tempo, untuk  partisipasi dan
sumbangan mereka dalam perjuangan demi hak dengan bebas menyatakan
pendapat  dan menerbitkan serta untuk hak-hak demokrasi di Indonesia.

Jomo KS,  datang dari tempat kerjanya di Kantor Sekretariat Jendral
PBB, di New York, untuk memenuhi undangan  'The  Amsterdam School for
Social Science Research'(ASSR) bersama dengan 'International Institute
for Asian Studies' (IIAS),  dalam rangka ceramah yang akan diberikan
pada 'The 17th Wertheim Lecture', tanggal 21 Mei 2007 di lokasi Waalse
Kerk, Walenpleintje, Amsterdam, tidak jauh dari hotel dimana Jomo KS
bermalam bersama istrinya.

'Wertheim Lecture'  tahunan, dimulai pada  2006, diselenggarakan
bersama oleh ASSR dan ASiA/IIAS. 'The Amsterdam School for Social
Science Research' (ASSR) adalah suatu 'national research school' dan
merupakan  lembaga riset dari Universitas Amsterdam. Sedangkan Asian
Studies di Amsterdam merupakan inisiatif Dewan Universitas Amsterdam
dan IIAS (Leiden). Penjelasan tsb diatas kiranya perlu juga untuk
memperoleh gambaran badan apa yang mengundang sahabat kita Jomo KS.

*   *   *

Yang menjadi alasan utama  'Wertheim Foundation' mengatur pertemuan
dengan Jomo KS, ialah karena ada soal penting  yang perlu kami
rundingkan dengan beliau.  Ini sehubungn  dengan rencana 'Wertheim
Foundation' pada tahun 2008 yad   menyelenggarakan  PERINGATAN 100
TAHUN LAHIRNYA WERTHEIM, serta Ultah ke-10  meninggalnya Prof. Dr W.F.
Wertheim. Masalah itulah yang kami bicarakan dengan Jomo KS.

Dari percakapan kami, Wertheim Foundation,  dengan Jomo KS kemarin
itu, kami telah memperoleh input berharga dalam rangka memberikan isi
yang lebih baik lagi pada  Peringatan 100 tahun Wertheim tahun depan.

*   *   *

Ini sebagai  inetrmezo saja:  ----  Yang bertukar fikiran di
ruang-baca Hotel Residence Le Coin itu, terdiri dari:  Jomo KS, orang
Malaysia; dua Belanda  anggota Pengurus Wertheim Foundation, yang
bulé,  Coen dan Jaap. Lalu dua lagi, Farida dan aku. Farida Ishaya dan
aku,  jelas berwarganegara Belanda. Dengan catatan penting, bahwa,
kewarganegaraan Belanda kami itu, samasekali tak sedikitpun mengurangi
kepedulian  dan keterlibatan kami pada Indonesia, kini dan masa
depannya. Kedudukan orang-orang seperti kami, sesungguhnya memberikan
peluang bagus,  untuk ambil bagian dalam usaha membina saling mengerti
yang lebih baik lagi, serta persahabatan antara bangsa Indonesia
dengan bangsa Belanda.

Tanpa disadari diskusi yang berlangsung dengan lancar dan interesan,
pada siang itu, pada pokoknya dilakukan dalam bahasa Indonesia.
Sesekali disela-sela bahasa Inggris. Soalnya,  Jomo KS yang berbangsa
Malaysia itu,  disebabkan  bahasa Melayu adalah  'saudaranya'  bahasa
Indonesia, maka ia fasih berbahasa Indonesia. Jomo amat perduli dengan
negeri kita, dan berkali-kali ke Indonesia. Ia  tahu situasi
Indonesia, kenal baik dengan Gus Dur, Jusuf Isak dan banyak lagi
teman-temannya orang Indonesia. Indonesia sudah seperti tanah air yang
kedua bagi Jomo KS. Ketika kami tiba  di Hotel, ternyata ia sudah ada
di ruang penerimaan tamu. Sambil berjabatan tangan dinyatakannya
dengan  sapaan : 'Apakabar Pak Isa'. Tahun sembilan-puluhan, kita kan
pernah bertemu di Utrecht, katanya. Nah, itu kan bahasa Indonesia?

Kami terus berbincang-bincang dalam bahasa Indonesia. Coen dan Jaap
yang adalah orang-orang Belanda, tapi fasih berbahasa Indonesia. Coen
pernah tinggal di Indonesia dalam rangka pekerjaannya. Apalagi Jaap.
Ia  bekerja di Indonesia kurang lebih 30 tahun , sebagai wakil KITLV
di Jakarta.  Kalau bicara dengan Jaap lewat tilpun, orang tidak akan
menduga bahwa suara dari seberang sana itu adalah orang Belanda. Ini
benar!

*   *   *

Siapa JOMO KWAME SUNDARAM? Di kalangan cendekiawan  dikenal sebagai
JOMO KS.
Pada tahun enampuluhan bila orang membaca dan mendengar nama JOMO ,
asosiasinya segera pada nama JOMO KENYATA, salah seorang pejuang
kemerdekaan, pendiri kemudian pemimpin utama KANU (Kenya Afican
Union). Ia adalah bapak Kenya merdeka.

Ketika suku Kikuyu (15% dari penduduk Kenya) berontak mengangkat
senjata melawan kolonialisme Inggris, terkenal dengan nama
'pemberontakan Mau Mau' (1952-1960),   nama Jomo Kenyatta (yang
kebetulan asal suku Kikuyu), diasosiaskan dengan pemberontakan Mau
Mau.  Dengan dalih itu pemerintah kolonial Inggris  menjebloskan Jomo
Kenyatta dalam penjara, dan harus melakukan kerja paksa selama 13 tahun.

Di kalangan perjuang-pejuang bangsa-bangsa Afrika dan Asia,
perjuangan kemerdekaan di bawah pimpinan Kenyatta  dengan KANU-nya,
dianggap sebagai suatu perjuangan yang adil dan harus disokong. Dalam
 perkembangan selanjutnya, perjuangan yang dipimpin oleh Jomo Kenyatta
itu, telah membawa rakyat Kenya ke kemerdekaan nasional (1963).
Kenyatta dipilih menjadi perdana menteri kemudian presiden Republik
Kenya  mulai tahun 1964 sampai ia meninggal tahun 1978. Nama  Jomo
Kenyatta identik dengan ide perjuangan yang adil  untuk kemerdekaan
nasional.

Maka  tidaklah kebetulan bahwa sahabat kami Jomo Kwame Sundaram
menggunakan nama JOMO.

Lalu nama KWAME.  Ingat nama sahabat kami itu adalah  JOMO KWAME
SUNDARAM. Asosiasi orang tentu pada nama KWAME NKRUMAH, pemimpin
perjuangan kemerdekan bangsa GHANA, dan kampiun persatuan Afrika.
Kemudian menjadi presiden pertama Ghana.

Digunakannya dua nama tokoh perjuangan kemerdekaan Afrika itu, oleh
SUNDARAM (nama keluarga  dari JOMO KWAME SUNDARAM),  dengan demikian
menjadi jelas. Itu semua demi mengagungkan tokoh-tokoh perjuangan
kemerdekaan  nasional bangsa Kenya dan bangsa Ghana, yang hingga kini
memang benar memberikan inspirasi kepada Jomo Kwame Sundaram.

Sejarah perjuangan politik di Afrika mencatat bahwa dalam tahun 1946,
Jomo Kenyatta bersama Kwame Nkrumah mendirikan Pan African Federation.
Menunjukkan bahwa bapak-bapak pejuang kemerdekaan Kenya dan Ghana itu,
sudah sejak lama memikirkan dan berjuang untuk persatuan Afrika,
PERSATUAN dari AFRIKA MERDEKA.

*    *    *

Jomo Kwame Sundaram, yang adalah seorang pakar ekonomi, mantan
gurubesar pada Universitas Malaysia dan bekerja sebagai Asisten
Sekretaris Jendral PBB  untuk Perkembangan Ekonomi dan Sosial, ---
diundang  oleh Panitia 'CERAMAH KE-17 WERTHEIM', Amsterdam, untuk
memberikan ceramah menyangkut masalah ekonomi,  berfokus pada masaalah
kemelaratan  didunia.

Selama ini Jomo KS, telah secara luas menulis tentang perkembangan
ekonomi, kesenjangan global (global inequality), mengenai krisis
finans di Asia, dan masalah etnisitas serta entrepreneurship.

*    *    *

Kali ini Jomo KS menyampaikan  ceramahnya berjudul 'MAKING POVERTY
HISTORY? UNEQUAL DEVELOPMENT TODAY'. < Menjadikan Masah Kemiskinan
Sejarah?  Ketidaksamaan Perkembangan  Dewasa Ini'>.

Aku akan berusaha  (mudah-mudahan berhasil) untuk memperoleh teks
ceramah Jomo KS, dari fihak panitya yang menyelenggarakan  ceramah
tsb. Mengingat  bahwa ceramah Jomo KS tsb akan membantu kita untuk
memperoleh scope yang lebih luas mengenai masalah KEMELARATAN di
dunia ini. Khususnya di dunia ketiga.

Jomo KS adalah cendekiawan  terkemuka, dan pakar mengenai ekonomi
politik perkembangan. Khususnya Asia Tenggara. Ia telah mengedit 50
buku dan 35 monograph. Selain itu menterjemahkan 11 jilid buku-buku
ekonomi/politik. Pandangannya sangat tegas dan jelas. Ketika terjadi
krisi finans 1997-1998 di Asia, adalah Jomo KS yang pertama-tama
menganjurkan diambilnya langkah-langkah pengawasan terhadap modal.
Untuk membendung spekulasi currency yang keterlaluan PM Mahathir dari
Malaysia, ketika itu,  akhirnya tokh bertindak sesuai dengan saran tsb.

*    *    *

Dalam perjalanan menuju stasiun Metro Waterlooplein,  untuk kembali
Amsterdam Arena,  benakku masih memikirkan ide-ide yang diajukan oleh
Jomo KS mengenai titik berat atau fokus  'miniseminar' yang menurut
fikiran sementara akan kami adakan pada kesempatan 100 TAHUN WERTHEIM
nanti. Menanggapi ide yang diajukan untuk memfokuskan pada tema
'IGNORENCE' sebagai tema pokok seminar, Jomo KS mengajukan
pertimbangan apa tidak lebih cocok mengambil tema  'DENIAL'.

Melalui tukar fikiran dalam pembicaraan kami di  Hotel Residence Le
Coin siang itu, terdapat kesefahaman bahwa, memang dalam sejarah
Indonesia tigapuluh tahun lebih belakangan ini, hal serius yang
terjadi adalah bahwa selama itu telah terjadi 'DENIALS' <Penyangkalan>
<oleh penguasa>  terhadap perisitiwa dan fakta-fakta sejarah,  halmana
telah mengakibatkan situasi 'IGNORENCE'  <Pembodohan> bangsa khususnya
generasi mudanya, terhadap peristiwa sejarah bangsa sendiri.

Aku gembira dan lega, bahwa pembicaraan kami dengan Jomo KS telah
membawa kesefahaman, mengenai banyak hal termasuk tema pokok seminar
dalam PERINGATAN 100 TH WERTHEIM 2008  nanti.

*   *   *


Kirim email ke