Quote: "..
Inu mengatakan, sebagai dosen miskin yang masih tinggal di rumah dinas,
tentu saja dia tidak punya uang sebesar Rp1 miliar. "Saya tahu, uang tersebut dipakai PKS untuk kebutuhan kampanye dan Pilkada. Tapi, mana mampu saya menyediakannya," ujar Inu blak-blakan. .."
Emang sih mana ada kampanye yang gratis.. Apalagi kalo udah nyetak stiker, poster, spanduk & pasang iklan.. :-p Iya juga sih.. so many reason/clarification for any topics.. :D Wassalam, Irwan.K On 5/24/07, harryfadil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ya sudah harap maklum namanya partai politik...diluarnya bilang dakwah...tetapi hanya simbol saja...lagipula Pak Inu lebih baik mengajar...mencerdaskan bangsa dari kemunafikan... --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, Vhirgo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ada yang lihat acara save our nation di metro tv semalem?? ada komentar menarik dari Amien Rais, ia katakan bahwa ada seorang perwira yang mengadu ke saya, bhw ia diminta DP 20milyar kalau mau pakai partainya sebagai kenderaan untuk maju dlm pilgub DKI, sayang pak Amien "lupa" nama sang perwira. > > Ingatan saya langsung melayang pada ucapan Gus Dus ttg adanya setoran kang Adang untuk maju dlm pilgub dki, siapa ya kira2 perwira yang dimaksud Amien Rais?? > > ---- > "Oh, bukan itu. Dia gagal jadi Balon walikota karena memang belum bisa memenuhi beberapa kriteria yang kami minta," (Tri Venindra ) > ---- > > Kira - kira kriteria apa yang belum dimiliki Inu, karena kalau kriteria anti KKN dan kekerasan saya rasa Inu sudah lebih dari cukup bahkan dibanding Pak Hidayat NW sendiri yang komentarnya di media cetak cenderung ngeles sana - sini dan sepertinya mengorbankan anak buah demi nama baik partai. > > Pak Inu, ternyata kejujuran dan komitmen anda terhadap KKN masih dibawah nilai setoran. > > **** > > PKS Usung Ardi-Nasrullah, Inu: Saya Tak Punya Uang Rp1 Miliar > Rabu, 23-Mei-2007, 07:35:07 > Telah dibaca sebanyak 20 kali > > Payakumbuh, Padek—Setelah ditunggu-tunggu banyak pihak, akhirnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Payakumbuh mengumumkan juga pasangan bakal calon (Balon) walikota dan wakil walikota yang akan diusungnya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung bulan Agustus mendatang. > > Calon tersebut adalah Prof Ardi Abbas (akademisi sekaligus mantan Cabup Limapuluh Kota) dan Haji Nasrullah Nukman (kader PKS)."Hari ini, kami sudah tekan perjanjian atau MoU dengan Ardi dan Nasrullah. > > Keduanya, resmi menjadi Balon Walikota dan Wakil Walikota Payakumbuh dari PKS. Mereka akan segera kami daftarkan ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), untuk seterusnya didukung dengan semangat kebersamaan," ujar Ketua PKS Payakumbuh Tri Venindra, kepada Padang Ekspres, Selasa (22/5). > > Saat itu, Tri Venindra sedang berada di Jakarta. Dia baru saja bertatap muka dengan Ardi, Nasrullah dan pengurus DPP PKS Pusat. Mereka, sepakat untuk menjadikan Pilkada Payakumbuh sebagai ajang kemenangan bagi PKS.Lantas, bagaimana dengan nasib dosen IPDN Inu Kencana Syafei yang semula juga dilirik PKS Payakumbuh untuk jadi Balon walikota? > > "Beliau, belum memenuhi beberapa persyaratan yang kami berikan. Karena itu, beliau tidak dapat kami calonkan," ucap Tri singkat.Namun, komentar berbeda justru diucapkan Inu Kencana Syafei. Melalui telepon genggamnya (0813949XXXXX), Inu mengaku gagal menjadi Balon Walikota Payakumbuh dari PKS karena tidak memiliki uang sebesar Rp1 miliar. > > "Saya tidak punya uang sebanyak Rp1 miliar. Sedangkan pengurus PKS, berkali-kali datang ke Jatinangor (rumah Inu, red) untuk meminta uang sebagai salah satu persyaratan menjadi Balon Walikota Payakumbuh. Mereka men-deadline saya untuk menyediakan uang tersebut hingga jam 10 tadi malam (pukul 22.00 WIB, red)," aku Inu kepada Padang Ekspres, Selasa (22/5). > > Inu mengatakan, sebagai dosen miskin yang masih tinggal di rumah dinas, tentu saja dia tidak punya uang sebesar Rp1 miliar. "Saya tahu, uang tersebut dipakai PKS untuk kebutuhan kampanye dan Pilkada. Tapi, mana mampu saya menyediakannya," ujar Inu blak-blakan. > > Meskipun demikian, Inu mengaku tidak kecewa. "Jabatan itu adalah amanah, tidak meski saya bayar atau beli dengan lembaran rupiah. Karena itu amat berbahaya dan diminta Allah pertanggungjawabannya," ujar putra asli Nagari Simalonggang, Kabupaten Limapuluh Kota itu. > > Tri: Bukan Karena Uang > > Sedangkan Tri Venindra yang dikonfirmasi wartawan soal pernyataan Inu, justru menampik dengan nada agak tergesa-gesa. "Oh, bukan itu. Dia gagal jadi Balon walikota karena memang belum bisa memenuhi beberapa kriteria yang kami minta," sebut Tri singkat. (*)
