http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007052200580916

      asa, 22 Mei 2007 
     

      BURAS 
     
     
     

Sapi Saja Bisa Protes! 


       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      SEORANG remaja, sepulang menggembala memasukkan sapinya ke kandang 
langsung ke kali, mandi. Saat makan malam bersama ayah-ibunya, terdengar suara 
palang bambu di kandang berderak. Ayah meninggalkan makanannya dan berlari ke 
kandang!

      "Saat mengandangkan sapi tadi kenapa tak kau beri rumput aritan di tempat 
pakannya?" tanya ayahnya begitu kembali masuk rumah. "Akibat tak ada rumput di 
tempatnya, ia obrak palang tempat pakan dengan tanduknya!"

      "Sapinya kan baru pulang kugembalakan!" kilah anak. "Seharusnya sudah 
kenyang!"

      "Sapi itu tergantung kebiasaannya!" sela ibu. "Biasa setiap masuk kandang 
ada rumput, jika tak ada, sapinya protes!"

      "Begitulah zaman reformasi, sapi saja bisa protes!" tegas ayah. "Apalagi 
warga Gunung Sari, yang permukimannya akan digusur! Protesnya bisa ramai!"

      "Maka itu, agar semua berjalan seperti diharapkan, sejak remaja kau harus 
belajar bekerja mrantasi!" tegas ibu. "Mrantasi itu mampu menyelesaikan 
pekerjaan sebaik-baiknya sejak awal sampai tuntas! Orang yang mrantasi, 
melakukan pekerjaan dari awal sampai selesai tanpa merepotkan orang lain, 
sebaliknya, semua pihak merasa tertolong dan puas hingga jauh kemungkinan dari 
menuai protes!"

      "Berarti cara kerja mrantasi itu amat penting di era reformasi ini, di 
mana kepekaan orang untuk protes cenderung tinggi sekali!" timpal anak. "Tapi 
kenapa para negarawan di MPR tidak mrantasi, amendemen konstitusi sampai empat 
kali ternyata belum tuntas, hingga masih muncul desakan amendemen kelima? 
Bukankah kalau mereka bekerja secara mrantasi, cukup sekali amendemen bisa 
menyelesaikan masalah bangsa untuk satu generasi, hingga kehidupan 
bernegara-bangsa tak selalu direpotkan masalah fundamental yang cukup rawan 
konflik itu?"

      "Memang aneh, justru di era reformasi semua menyadari betapa peka dan 
agresifnya rakyat terhadap hak-haknya, pemerintah juga malah tak menjalankan 
reformasi secara mrantasi!" tegas ayah. "Reformasi birokrasi misalnya, yang 
harus menjadikan birokrasi benar-benar sebagai pelayan rakyat, hingga kini 
belum bergeser dari kebiasaan lama yang feodalistik di mana rakyatlah yang 
harus melayani birokrasi! Otonomi daerah contohnya, lebih mirip sebagai mesin 
pembuat aturan baru yang lebih merepotkan rakyat dibanding dengan sebelum 
reformasi!"

      "Itu mungkin akibat para pemimpin dalam era reformasi sejak kecilnya 
kurang terbiasa bekerja mrantasi!" timpal ibu. "Akibatnya, banyak bagian 
tugasnya yang tak tertangani dengan sebaik-baiknya, sudah ditinggalkan untuk 
mengacak bagian lain lagi! Mudah dibayangkan, kenapa hasil kerjanya juga jadi 
acak sini acak sana--acak-acakan!"

      "Saking ligatnya acak sini acak sana, rencana operasi pasar minyak goreng 
yang sudah ditetapkan tanggalnya pun, belum beres persiapannya sudah 
ditinggalkan mengacak bagian lain, hingga tak kepalang operasi pasarnya batal!" 
tegas anak. "Begitulah model kerja pemerintah era reformasi, tak mrantasi! 
Acak-mengacak melulu!" 
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke