Rekan-Rekan yang Berbahagia: Rex, seorang pria berusia sekitar 23 tahun, mahasiswa, belum kawin, yang kita kenal melalui posting "Penyembuhan Emosional" mengirimkan satu pertanyaan kepada saya sebagai berikut:
--- Rex <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Leo, apa kamu lihat aku feminin? > > Rex Yang saya jawab seadanya seperti ini: Dear Rex, You are as feminine as you can be, even though your sex is male. I am as feminine as I can be, even though my sex is male. Vincent is as feminine as he can be, even though his sex is male. Kenapa ke-feminin-an seorang pria harus dipertanyakan? Apakah Anda tidak tahu bahwa banyak pria yang secara batiniah dan emosional lebih "feminin" daripada wanita? Dan banyak wanita yang secara batiniah dan emosional ternyata lebih "maskulin" daripada pria? Femininitas dan Maskulinitas adalah dua kutub dari satu kontinuum yang sama. Kontinuum afeksi... Dalam kontinuum afeksi ini kita berkiprah memberikan stimulus kepada orang-orang lain dengan menggunakan energi bawaan yang kita miliki. Sebagian dari kita, notwithstanding his or her sex, memiliki energi afektif yang dominan maskulin. Sebagian memiliki yang dominan feminin... Sebagian besar orang berada di tengah-tengah. Energi afektifnya adalah campuran maskulin dan feminin. Apakah maskulin lebih bagus? Atau, apakah feminin lebih bagus? Jawab saya: tentu saja tidak. Tiap jenis energi afektif memiliki spesialisasinya sendiri. Energi maskulin lebih untuk penyembuhan fisik. Energi feminin lebih untuk penyembuhan emosional. Stimulus yang bersifat maskulin lebih bersifat direct, to the point. Kasar. Vulgar. Stimulus yang bersifat feminin lebih bersifat indirect, coy, hideous. Soft. Semilir. Possibly at this time you could grasp what I mean by masculinity and femininity. And this continuum of masculinity vs femininity is not related at all with sexual orientation. Orientasi seksual adalah hal yang lain lagi. Anda bisa saja memiliki energi afektif dominan feminin, dan secara seksual memiliki orientasi utama hetero. Kok bisa? Ya bisa saja. Namanya juga manusia hidup. Dan manusia hidup itu memiliki variasi yang tak terhingga. Don't believe all those BS preached by religious leaders or ignorant psychologists. Dikatakan: Kalo cowok pasti hetero, kalo gak hetero pasti homo. Gak begitu kok! Hetero or Homo is orientasi seksual. Sedangkan orientasi energi afektif bisa feminin, maskulin, atau campuran keduanya... Jadi, bisa saja ada cowok yang maskulin banget penampilannya tapi orientasi seksualnya homo. Lalu, bisa juga ada cowok yang feminin banget penampilannya, tapi orientasi seksualnya hetero. Apakah ada yang menyimpang? Of course not. Apanya yang menyimpang? Segala pelabelan simpang menyimpang dalam bidang kejiwaan itu kan cuma buatan para psikolog yang kurang kerjaan itu. Segalanya dianggap menyimpang, except themselves?? ? Jadi, please be comforted in the understanding that it is ok to be feminine. Yes, you are a male, and it is 100% ok for you to be feminine. It means you have an inborn empathetic understanding toward others who suffer. That you could accept other people as they really are. That you are _not_ afraid to admit that sometimes you are afraid. That you need other people to warm you, to soothe you... Those are real feminine qualities that we men have to learn. Or, to be more accurate, to rediscover in ourselves. Banyak nilai-nilai feminin yang kita sebagai pria miliki telah kita buang waktu kita menanjak dewasa karena masyarakat kita bilang bahwa sifat-sifat itu "banci". Siapa yang "banci"??? Kalau saya bilang, yang "banci" itu adalah para pria yang tidak mau mengakui kefemininan dirinya sendiri. Tidak mau mengakui perasaan-perasaan halus yang dimiliki oleh dirinya. Mereka pikir bahwa menjadi pria harus menjadi seperti Rahwana, seperti Warok, seperti the Devil.... seperti Dedemit. Whatever. Mereka salah besar. We are the true men. We accept our femininity as part of ourselves. I love you, Rex. All the Best, Leo HP: 0818-183-615 Tentang Leo: ____________ Leonardo Rimba, adalah alumnus Universitas Indonesia dan the Pennsylvania State University, seorang professional tarot reader. Media massa yang pernah meliputnya antara lain: Koran Tempo, RCTI, AnTV, dan TransTV. Leo sering muncul dalam acara bakti sosial, baik bagi kalangan lokal maupun ekspatriat di Jakarta, dan bisa dihubungi di HP: 0818-183-615. Email: leonardo_rimba@ yahoo.com. Di internet, Leo dikenal sebagai seorang pengamat fenomenon indigo, dan sering diasosiasikan dengan Vincent Liong, the foremost indigo kid in Indonesia... Bersama Audifax, Leo menulis buku "Psikologi Tarot" yang akan diterbitkan oleh penerbit Jalasutra, Bandung. Wait for it! Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
