Selesai sudah kerja besar American Idol (AI) season 6 tadi malam dengan terpilihnya Jordin Sparks sebagai idola Amerika di bidang tarik suara dengan menyisihkan saingan terdekatnya Blake Lewis.
Seperti dibilang host Ryan Seacrest, ada 74 juta lebih orang di Amerika yang ikut berpartisipasi memilih, baik melalui sms maupun internet, dan ini adalah jumlah yang terbesar sepanjang sejarah AI. Ada yang bilang jumlah voters ini bahkan lebih banyak dibanding jumlah pemilih yang ikut Pemilu di Amrik. Memang secara kualitas suara Jordin yang baru berusia 17 tahun itu belum apa-apa dibanding kemampuan vokal Melinda Doolittle (tereliminasi di 3 besar), dan juri Simon Cowell sendiri menyatakan di Good Morning America tadi pagi bahwa ia sebenarnya ingin melihat Melinda yang menang. Tapi apa daya, (rakyat) Amerika-lah yang melakukan vote dan menentukan siapa penyanyi yang paling mereka sukai. Ada satu catatan kecil yang saya lihat mengenai hubungan antara AI dan berita televisi di Amrik sini. Dengan penonton antara 35 juta hingga 42 juta setiap penayangannya, tak pelak AI menjadi program televisi tertinggi ratingnya di Amrik selama 5 bulan terakhir ini. Belum lagi dengan keunikan peserta seperti Sanjaya Malikar yang dianggap sebagai kontestan yang paling sering dibicarakan orang. Ini semua membuat AI menjadi fenomena tersendiri yang rupanya layak berita. Di Amrik, program berita televisi baik di ABC, CBS, NBC dan tentu saja FOX (karena jaringan ini yang menyiarkan AI) selalu mengulas mengenai performa para kontestan dari minggu ke minggu. Selama proses eliminasi semua program berita pasti memuatnya. Misalnya, karena tayangan show AI di sini berlangsung pada Selasa malam, maka semua berita pada Rabu pagi akan mengulasnya. Saya pantau berita pagi Good Morning America di ABC, NBC Today, dan the Early Show di CBS, juga FOX, semua memuatnya dan masing2 memiliki analis-nya sendiri untuk memprediksi siapa yang akan tereliminasi pada Rabu malamnya. Yang tentu tidak ketinggalan adalah program-program entertainment newsmagazine seperti Entertainment Tonight (CBS) dan Access Hollywood (NBC) juga ikut menghebohkannya. Uniknya, bila mereka mengundang Randy Jackson atau Simon Cowell sebagai narasumber, maka para host acara tersebut bisa dengan bebas menyatakan seperti '...ya kita tunggu saja AI di Fox Rabu malam nanti.' Bayangkan, mempromokan sebuah acara di televisi lain! Ini hal yang tidak pernah terbayangkan bisa terjadi di Indonesia. Pertanyaannya adalah mengapa televisi lain mau ikut memberitakan 'kesuksesan' yang diraih sebuah stasiun televisi (FOX)? Jawabannya tentu karena rekor AI ditonton oleh pemirsa terbanyak di Amrik (ada 'impact') dan juga adanya kekhasan dari para peserta seperti Sanjaya (ada 'uniqueness') dan tentu saja kekinian atau aktualitasnya. Memang fenomena AI memenuhi unsur-unsur untuk layak berita sehingga tidak heran diberitakan oleh semua jaringan televisi Amrik. Ketika sesuatu hal menjadi pembicaraan begitu banyak orang (lebih 35 juta orang yang menyaksikan pasti membicarakannya di kantor dan tempat2 lain) maka hal itu pasti layak diberitakan. Hal lain yang saya lihat adalah, dengan ikut memberitakan, sebenarnya stasiun2 tersebut sedang mengambil kesempatan untuk 'mencuri' pemirsa FOX. Pasalnya, para pemirsa AI pasti juga ingin mengetahui bagaimana show tersebut diberitakan dan dianalisis oleh para pengamat, siapa saja yang diprediksi akan tereliminasi, dan apakah prediksi itu benar atau sama dengan yang diramalkan pemirsa. Jadi secara tidak langsung, TV yang memberitakan AI juga ikut terdongkrak ratingnya. Saya belum bisa membayangkan apakah hal seperti ini (suatu hari nanti) bisa terjadi di Indonesia. Misalnya, ketika Indonesian Idol (RCTI), atau KDI (TPI), atau Tukul dengan Empat Matanya (Trans-7), menjadi program dengan rating tertinggi dan dibicarakan banyak orang, apakah ada televisi lain yang mau ikut memberitakannya? Salam, Helmi Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
