Sejak era Soeharto dikotomi ini dikipas oleh yang radikal yang berkolaborasi
dengan rezim ketika itu untuk memojokan nasionalis yang ditindas. PKS yang
internasional apa punya konsep untuk bangsa Indonesia agar dapat memajukan diri
sebagai nasion yang bermartabat dan dapat hidup cukup sejahtera? Atau asal ikut
berkuasa sambil berenang minum air untuk menjalankan agendanya yang khusus?
Dikotomi terkait memang harus ditolak secara substansial.
AAsaad
Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
REFLEKSI: Tidak apa-apa kalau dikikis, karena pokoknya "semua"
bisa ke taman firdaus dunia seberang dan oleh karena itu para petinggi negara
dan intelejennya menciptakan kaum radikal agamais:-))
KOMPAS
Kamis, 24 Mei 2007
reformasi
Dikotomi Nasionalis Agamis Kikis Kebangsaan Jakarta, Kompas - Dikotomi
nasionalis-agamis dalam agenda dan semangat reformasi berpotensi mengikis
semangat kebangsaan nasional. Bahkan, memecah belah persatuan. Kebangkitan
Nasional hendaknya dipahami sebagai momentum untuk merekat dan mengakumulasi
kembali semangat kebersamaan itu. Demikian disampaikan Ketua Majelis
Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid saat menyampaikan ceramahnya dalam
Seminar 99 Tahun Kebangkitan Nasional, Rabu (23/5) di Gedung Media Center.
Hadir dalam seminar yang diselenggarakan Pusat Kajian Kepemimpinan Kepemudaan
Indonesia (PK3I) ini, antara lain Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora)
Adhyaksa Dault. Hidayat mengimbau para tokoh organisasi masyarakat,
keagamaan, maupun pemuda untuk tidak saling menonjolkan diri, apalagi merasa
paling berperan dalam penuntasan agenda reformasi. Khususnya, dalam peristiwa
reformasi dan tumbangnya rezim Orde Baru tahun 1998. "Kalau kita lihat di
televisi, peristiwa reformasi ini kan seolah-oleh menjadi rentetan peran
mahasiswa atau organisasi massa yang kiri. Sementara organisasi berbasis
keagamaan seolah-olah hanya menjadi penumpang gelap reformasi. Padahal, ini
tidaklah benar. Baik nasionalis maupun agamis terlibat dan sepakat dengan
reformasi," ujarnya menegaskan. Penyakit transisi Menpora Adhyaksa Dault
berpendapat, bangsa ini kini tengah menghadapi "penyakit transisi demokrasi".
Hal ini ditandai dengan bermunculannya gerakan-gerakan spontan ormas dan
golongan yang antikebersamaan. Padahal, ungkap Menpora, kebangkitan bangsa ini
mau tidak mau harus diwujudkan dengan cara menghilangkan chauvinisme. (JON)
---------------------------------
Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Tryit now.