www.blogberita.com
   

Manusia Binatang Berhati Iblis Pemuja Agama

SEBUAH VIRUS PIKIRAN
[jarar siahaan; bataknews; bacalah dengan imajinasi]


 Bagi beberapa orang tulisan ini mungkin terbaca bagai suara setan. Maka fans 
fanatik agama sebaiknya tidak melanjutkan membacanya, dan tutuplah blog ini 
dari browsermu sekarang juga. Tapi bila engkau berani mengambil risiko 
“kesetanan” sepertiku, teruslah membaca.


 Virus pikiran dimulai ….
 Hari Kamis kemarin aku bertemu setan di DetikNews dan sebelumnya setan itu 
dipamerkan di tivi sejagat, CNN. Setan itu banyak, dan mereka bersaudara. 
Mereka bukan setan-tanggung seperti aku, juga bukan setan yang baru belajar 
ayat-ayat setan seperti orang lain. Mereka profesional. Mereka memang 
betul-betul setan; keponakan dan saudara sendiri pun dibunuh.


 Kawanku penasaran dan mengundang setan itu ke rumahnya. Ternyata betul, setan 
itu memang betul-betul setan. Kawanku semakin yakin. “Mari kucatat perihmu,” 
kata kawanku pada keponakan setan yang tewas dibunuh — Duaa Khalil Aswad, gadis 
17 tahun di Irak, penganut sekte Yazidi, yang diseret ke jalan dan dilempari  
batu oleh keluarganya sendiri hanya karena ia pacaran dengan pria muslim Sunni.


 Hari Rabu sebelumnya aku pun bertemu manusia-manusia iblis bertopengkan agama 
di internet. Mereka memaki-maki TUHAN umat beragama lain. Yang satu menyebut 
TUHAN kurang gaul karena cuma tahu berbicara dalam bahasa Arab; yang lainnya 
bilang TUHAN tak punya nyali karena cuma berani memimpin umat di Israel; yang 
lain menertawakan TUHAN karena tak bisa bergerak dan cuma duduk bersila sambil 
bengong seperti pertapa yang kelaparan.


 Hari Selasa sebelumnya aku melihat binatang berkaki dua berbaju jas yang 
melintasi rumah kecilku dengan sedan berplat merah yang dipinjamkan rakyat 
padanya. Mulutnya sangat rajin mengumbar janji-janji palsu untuk berbakti bagi 
nusa dan bangsa. Bau napasnya masih belum usang dari inderaku ketika 
gigi-giginya yang bagai taring buaya itu tampak ketika dia mengucapkan, “Kita 
sebagai aparat pemerintah daerah harus rajin beribadah dan mendekatkan diri 
pada TUHAN. Sebab itulah saya membuat program ibadah tambahan di kantor kita 
ini. Karena menurut saya, apabila kita sudah takut akan TUHAN, maka kita juga 
akan bekerja dengan jujur dan takut untuk berbuat korupsi.” Puih, dasar 
binatang berdasi. Kausebut-sebut nama TUHAN sebagai topeng menyamarkan 
korupsimu.


 Hari Senin sebelumnya aku dikhotbahi lewat imel oleh seorang yang sangat fasih 
melafalkan “Alloh” dengan vokal “a” diganti menjadi “o”. Ia menyebutku telah 
tersesat karena menulis nama TUHAN dengan beragam versi dan memajang 
gambar-gambar nabi dan dewa agama lain di blogku. Ia berteriak jihad. Bela 
agama. Bela TUHAN. Mari berjihad. Mereka pun menghancurkan diskotik dan hotel 
yang menurut mereka adalah sarang pelacuran dan mabuk-mabukan. Sesudah puas 
memukuli orang-orang yang dianggap kafir dan tersesat sembari menyebut-nyebut 
TUHAN MAHA BESAR, mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Lalu mereka 
melepaskan penat dengan diam-diam membuka majalah Playboy dan tabloid Lipstik … 
sambil onani; dan kali ini mulut mereka tak lagi mengucapkan TUHAN MAHA BESAR, 
tapi hanya desah dan dengus kenikmatan “surgawi” yang tak terbendung lagi.


 Hari Minggu sebelumnya aku mendengar kabar bahwa ada aparat keparat di siaran 
tivi yang memenjarakan seorang waria karena mencuri, tanpa mempertimbangkan 
tragedi hidup si waria yang harus menghidupi lima anaknya. Gerombolan keparat 
ini pun suka memamerkan semboyan untuk mengabdi pada hukum, tapi faktanya 
mereka sering melanggar hukum — membeking judi, ikut mencuri kayu hutan, dan 
memeras orang-orang yang berperkara. Mereka seia-sekata dengan pejabat berjubah 
toga yang mengetukkan palu untuk memenjarakan orang-orang baik dan membebaskan 
orang bersalah; padahal mereka ini sering disebut sebagai wakil TUHAN di bumi. 
Mereka sudah hafal dan tak perlu lagi membuka kitab suci dan kitab hukum untuk 
mengucapkan sumpah dan pasal-pasal hukum. Sudah sering mereka disumpah sebelum 
bertugas, tapi lebih sering lagi mereka mengibuli TUHAN dengan sumpahnya.


 Hari Sabtu sebelumnya aku mendengar kekecewaan ibu-ibu mengetahui rohaniawan 
favoritnya ternyata punya dua istri. Mereka telah terjerat khotbah yang 
dibumbui dengan senandung “Jagalah hati, jangan kaukotori ….” Mereka juga 
kecewa pada rohaniawan lain yang diberi gelar mirip Nokia “ponsel sejuta umat” 
5110 setelah muncul di tivi kepergok berduaan di kamar hotel dengan artis 
perempuan yang bukan istrinya. Aku pun pernah mendengar pengakuan seorang 
bandar togel yang didatangi seorang pemimpin agama untuk meminta bantuan dana 
bagi perayaan hari besar.


 Hari Jumat sebelumnya aku tak acuh pada perintah TUHAN untuk menyembahnya 
secara bersama-sama dengan orang lain dalam sebuah rumah ibadah. Hari itu aku 
menjadi manusia-iblis dan asyik menonton film porno dari CD lama yang kutemukan 
di kardus. Sesudahnya aku sok alim menerima telepon dengan berucap, 
“Assalamualaikum.” Tak lama kemudian aku kembali menjadi setan dan berkata 
kepada seorang kawan, “Untuk apa ke gereja atau ke masjid.” Lalu ketika malam 
tiba, aku mengajari anakku salat magrib, dan kami saling mencium pipi dan 
punggung tangan.


 Di hari lain aku sudah kembali lagi menjadi pengikut setan dan meminta berkat 
dari dukun agar jabatanku langgeng; dan karena tak berhasil, aku bersemedi di 
atas kuburan dan di bawah pohon keramat. Padahal dalam kitab agamaku ada 
tersurat “tiada TUHAN selain ALLAH”.


 Di hari lainnya aku berpura-pura bersedekah di panti asuhan padahal tujuanku 
hanya karena ingin ditulis dan difoto wartawan ke dalam suratkabar. Selama 
bulan suci aku berpuasa menahan lapar, haus, dan seks, tapi dengan tidak 
malunya aku meminta kawan sekantor yang bukan muslim agar tidak merokok dan 
makan di hadapanku.


 Di kampungku ada binatang kaya-raya yang sudah bertitel “H” tapi masih tak 
mampu menahan nafsu hingga harus meniduri pembantunya sendiri. Di kampung 
kawanku ada gerombolan manusia-setengah-iblis yang tiba-tiba akan rajin membaca 
kitab suci dan berdoa bila mendengar ada mukjizat seperti penampakan sosok 
mirip nabi, tulisan gaib pada helai daun, atau bocah lima tahun yang dengan 
lancar mampu mendiktekan seluruh isi kitab suci.


 Setiap hari aku bertemu setan, iblis, dan binatang. Entah kapan aku bertemu 
manusia.


 Virus pikiran berlanjut ….
 Dan karena sudah terlalu banyak manusia-setan di bumi, maka kawanku menulis 
kepada TUHAN agar surga dan neraka ditiadakan saja. Suratnya itu pun kudukung 
dengan suratku: “SANG PEMILIK SEGALA YANG BERNAPAS, surat yang baru saja ENGKAU 
terima adalah dari kawanku. Ia sama seperti diriku; kami adalah orang-orang 
yang lebih percaya pada setan ketimbang pada rohaniawan-rohaniawan itu. Tolong 
bantu kami agar tidak masuk neraka, juga tak perlu dipromosikan masuk surga. 
Kami hanya meminta agar ENGKAU lenyapkan saja semua perbedaan agama-agama. 
Bersiullah sekali saja agar hanya ada satu agama, satu nabi, satu kitab suci, 
satu tempat ibadah, dan juga satu setan. Dengan begitu kami bisa hidup tenteram 
di bumi dan tidak lagi saling bunuh atas nama agama.”


 Virus pikiran berhenti sejenak ….
 Tulisan di atas tidak seluruhnya fakta, juga tidak seluruhnya opini; sebagian 
malah cuma rekaan imajinasi.


 Hal yang akan kutulis tanpa imajinasi kebinatanganku adalah ini: bahwa aku 
merasa sedih dan berulang-ulang mengucap masyaALLAH, ya Tuhan, boasa gabe 
songon on Oppung Mulajadi Nabolon, oh my God, kenapa ENGKAU biarkan setan-setan 
itu membunuh umatmu, Dhuaa Khalil Aswad — gadis 17 tahun yang dihakimi para 
manusia  binatang berhati iblis pemuja agama hanya karena dia jatuh cinta pada 
pria yang tidak seagama dengannya.


 Virus pikiran dilanjutkan lagi ….
 Ucapan berduka-cita yang mendalam karena agama “telah mati”. Agama memang 
sudah mati, sudah lama mati; yang ada cuma simbol-simbolnya, ritual-ritualnya 
yang dijalankan oleh setan bertubuh manusia. Satu-satunya yang tinggal sebagai 
penghibur bagi keputus-asaanku adalah TUHAN — bukan agama.


 Selamat tinggal agama. Selamat datang [kembali] TUHAN. [www.blogberita.com]



 Adapun maksudku menulis artikel tersebut adalah:
 1. Mari — itu pun kalau engkau mau; aku tidak ngotot — sebarluaskan berita 
pembunuhan Duaa Khalil Aswad sesuai kapasitas dan kemampuan kita masing-masing; 
bercerita kepada pacar atau tetangga, mengulasnya di koran, atau cukup dengan 
bergumam sendiri sambil mengutuk pembunuhnya.

 2. Mari jadikan kasus Duaa sebagai cermin bahwa sikap “fanatik” pada agama 
bisa membuat manusia salah menafsirkan TUHAN, dan akhirnya bisa menyakiti 
sesama manusia dengan dalih membela agama.

 3. Mari mengutamakan perbuatan nyata saling mencintai manusia daripada cuma 
sekadar basa-basi di mulut, apalagi kalau hanya tahu berkata, “I love you, 
honey.”

 4. Mari “memamerkan” seberapa tinggi ilmu agama kita dengan BERBUAT; bukan 
dengan menghafalkan seluruh isi kitab suci di luar kepala.

 5. Bila engkau mengiyakan ajakanku, syukurlah, dan lakukanlah. Kalau pun tidak 
suka, tak usah sibuk berpolemik. Diam sajalah, lalu matikan komputermu.


 Artikel ini kutulis saat sanubariku tengah bermuram-durja membaca berita Duaa. 
Terima kasih kawan, engkau telah berbaik hati membaca omong-kosongku ini sejak 
alinea pertama.


 Begitulah akhir dari tulisan ini. Memang ia bukan tulisan yang bagus, 
melainkan hanya sebuah virus … virus pikiran. Semoga engkau tertular. 
[www.blogberita.com]


Kirim email ke