Ingin berbagi pengalaman satu kali terbang naik AirAsia dari KL ke Surabaya.
Mulai dari check-in counter di Kuala Lumpur hingga landing di Surabaya, para 
TKI yang mengisi hampir 90% pesawat Boeing 747 itu mengalami 'pelecehan' 
non-fisik.

1. Di check-in counter: bayangkan tiket pesawat (one trip) jika dikurs hanya 
600 ribu rupiah, tapi kelebihan bagasi (setelah 20kg pertama) dari beberapa 
orang TKI itu bisa mencapai Rp 1 juta! Karena hampir setiap TKI itu pulang 
kampung, tentu ia membawa barang 'gak penting' untuk oleh-oleh (ada helm, juga 
tikar plastik warna-warni!). Kenapa tidak dikirim via pos terlebih dulu sih, 
paling hanya menghabiskan Rp 200 ribu untuk barang sebesar itu? Yang pasti, 
sepanjang counter, ada saja TKI kita diomelin petugas. Ya ampun, TKI kita juga 
nakalan sih, sudah tahu overweight, masih saja belanja mainan mobil besuaaar di 
boarding room! 

2. Di dalam pesawat: landing dan take-off adalah dua hal krusial saat berada di 
dalam pesawat. Bayangkan, saat take-off, lihat di lorong hampir semua seat belt 
belum terpasang. Selama perjalanan 2 jam, masih saja mereka belanja 'gak 
penting' seperti topi, kaos AirAsia! Saat landing, pesawat sudah keluar roda, 
ada satu TKI berdiri dan lari ke toilet! Orang Indonesia tetap lari dan 
planga-plongo, walau pramugari teriak 'Duduk, Sit DOWN!' sampai berulang kali. 
Sang pramugari juga berulang kali teriak 'Matikan telepon, switch off your 
mobile phone'. 

Saya bisa merasakan beda perlakuan pramugari ini dengan pramugari AirAsia rute 
Penang-KL, di mana semua orang di dalam pesawat tak mendengar pengumuman 
'switch off your phone' sama sekali, dari naik hingga turun pesawat! 
Keramahannya jelas jauuuuuuuuuuhhh dengan pramugari KL-Surabaya.

Perjalanan yang mengesankan. 

Saya tak tahu apakah harus bangga terhadap 'pahlawan devisa' kita atau malu 
karena mereka bekerja sebagai 'stupid slave' yang akhirnya istilah Indon di 
sana dianggap peyoratif oleh sang menteri. 

Lebih dari satu juta TKI di Malaysia (legal dan ilegal), posisi Duta Besar 
masih kosong, dan komplikasi masalah lainnya membuat pusing negara tetangga. 
Saya tak melihat komplikasi ini di Hongkong atau Taiwan (necis abissss TKI kita 
di sana). Tapi ngurus TKI Malaysia seperti angon kucing ya?

Indra

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                     
Baru  saya tahu bahwa ucapan  atau pengunaan kata "Indon" mempunyai  arti buruk 
di Malaysia. 
  
 Saya  pernah dibilang oleh seorang teman dari Thailand [Patani] bahwa di Arab 
Saudia  ada juga ucapan buruk terhadap pekerja-pekerja Indonesia disana. 
Insyalloh  Malaysia menjadi contoh buat Arab Sadia, dan juga terutama kepada  
petinggi partai politik dan pemerintah Indonesia agar menghormati rakyat sesuai 
 Hak-Hak Azasi Manusia.
  





 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke