Rekan-Rekan yang Berbahagia: Berikut adalah cuplikan
tanya-jawab antara saya dengan seorang klien yang,
kita sebut saja, bernama Vergie. Usia sekitar 28
tahun, janda dengan dua anak, wanita karier jenjang
menengah.
Masa lalunya termasuk kelam: bercerai dari suami, dan
sekarang dia harus bekerja di lain kota untuk
membiayai diri sendiri dan kedua anaknya. Baru-baru
ini Mbak Vergie bertanya kepada saya melalui e-mail
yang saya jawab apa adanya. Ada nuansa-nuansa
konseling penyembuhan yang bisa terlihat di
korespondensi itu yang, semoga saja, bisa juga
membantu rekan-rekan lain yang menghadapi kasus
serupa. Untuk kliennya atau, bahkan, untuk diri
sendiri.


E-mail 1:
------------

Hallo Mas Leo, apa kabar? Masih ingat saya kan? Vergie
yang dulu ketemu Mas Leo. Bisa baca saya tentang apa
saja dari jauh nggak?

Best Regards,
Vergie


E-mail 2:
------------

Dear Mbak Vergie,

Kabarku baik-baik saja. Saya melihat bahwa Mbak Vergie
sedang menghadapi sesuatu yang bergerak dengan cepat.
Apakah seorang pria? Kelihatannya seperti itu, seorang
pria yang mapan yang bisa masuk dalam kehidupan Mbak
Vergie dalam waktu dekat ini. Cuma pria ini berbeda
dengan apa yang Mbak Vergie biasa hadapi di masa lalu.
Berbeda latar-belakangnya dengan Mbak Vergie. Bahkan
cara-cara menghadapi dunia dan orang-orang lain itu
juga berbeda.

Kelihatannya Mbak Vergie belum mengambil keputusan.
Atau karena pergerakannya terlalu cepat? Yang terlihat
terasa adalah bahwa Mbak Vergie tidak terombang-ambing
lagi dengan emosi-emosi masa lalu itu. Memang masih
teringat, tetapi tidak lagi terobsessi. Tidak lagi
menguasai. Tidak lagi terbawa-bawa untuk teringat oleh
pengalaman-pengalam an masa lalu itu.

Bila benar seperti itu, advis saya adalah agar Mbak
Vergie terus saja menjalani apa yang telah terlihat
itu. Apabila benar itu seorang pria yang mapan,
ambillah keputusan untuk menerimanya. You have the
experience.

Tidak perlu takut lagi. Yang terburuk sudah pernah
terjadi kan? And you are still alive. Go on! Apa lagi
yang ditakuti?

All the Best,
Leo


E-mail 3:
------------

Dear Mas Leo,

Laki-laki mapan? Yang mana ya.. Memang saya baru saja
punya pengalaman dengan laki-laki mapan, yang rasanya
sudah klik dengan saya. But he is complicated too.
Waktu itu dia seperti sudah tidak punya harapan dengan
istrinya. Tadinya saya nasihati untuk memperbaiki
hubungan dengan istrinya. Padahal tanpa disadari kita
berdua sudah makin cocok & saling membutuhkan dari
hari ke hari. Dan saya kembali terhempas setelah 2
bulan yang lalu dia bilang kalau istrinya hamil lagi.

Walau begitu kita tetap berhubungan baik. Tapi
bagaimana mungkin saya bisa terima dia? Saya pun nggak
ngerti jalan pikiran dia. Atau ini salah satu
kepahitan yang Mas Leo baca waktu bertemu saya? Jadi
siapa dong laki-laki mapan yang Mas Leo maksud? Adakah
lagi nantinya?

Best Regards,
Vergie


E-mail 4:
------------

Dear Mbak Vergie,

Kalau aku lihat, pria itu memang ada hubungannya
dengan kegiatan-kegiatan yang telah Mbak Vergie
lakukan akhir-akhir ini. Pokoknya berhubungan. Tetapi,
ketegasan dia sebagai seorang pria baru akan muncul
beberapa saat lagi. Bisa saja hari ini.

Teruskan saja, Mbak. Kita manusia tidak boleh
possessive kan? Tidak ada seorangpun yang terikat
selama-lamanya dengan orang lain yang manapun.
Ikatan-ikatan itu cuma formalitas belaka. Yang penting
adalah kasih. Cinta kasih is love.

All the Best,
Leo


E-mail 5:
------------

Mas Leo,

Does he love me too? Sepertinya dia tidak peduli lagi
seperti dulu. Dia akan ingat kepada saya bila menemui
kesulitan. Dia type orang yang tidak mudah
mengungkapkan perasaannya. Mungkin karena statusnya
yang masih terikat. Saya mengerti, dia tidak mungkin
meninggalkan pasangannya dalam keadaan seperti itu.
Seandainya saja dia tahu bahwa saya sanggup juga
mengasihi anak-anaknya (yang amat dia cintai, dan dia
sanggup melakukan apa saja demi anak-anaknya) .
Walaupun secara fisik saya belum pernah bertemu dengan
anak-anaknya. Apakah saya terobsesi?

Kasih sejati memang tidak ada pamrih apapun. Saya
sudah banyak memberi kasih itu kepada dia. Tetapi
seandainya saya teruskan hubungan ini tanpa ada ujung,
apakah tidak akan menyakiti diri saya sendiri?

Best Regards,
Vergie


E-mail 6:
------------

Dear Mbak Vergie,

True love does _not_ discriminate whether the person
loved has already married or not. Kalau benar itu
cinta kasih, pasti tidak membedakan apakah orang yang
dicintai itu sudah menikah atau belum. Kalau Anda bisa
bilang bahwa Anda dan dia saling mencintai, tentu tak
akan menjadi masalah apabila ternyata dia masih
terikat dalam suatu lembaga perkawinan dengan wanita
lain... Lembaga perkawinan hanyalah suatu formalitas
belaka. Sesuatu yang di-institusionalisa sikan saja.
Sesuatu yang diberi sanksi supaya mereka yang
mengikatkan diri di dalamnya tidak bilang "yes" saat
ini, bilang "no" besok, dan bilang "maybe" kalau lagi
uring-uringan. Yes is yes, and no is no, begitu kata
lembaga hukum yang mensahkan pernikahan, dan begitu
pula kata para pemuka agama yang meng-agamakan
pernikahan. Tapi, apakah seperti itu kenyataannya?

Lembaga perkawinan sebagai suatu continuous bargaining
antara seorang pria dan wanita yang mengikatkan diri
di dalamnya tidaklah seperti yang digembar-gemborkan
selama ini. Itu sudah tidak realistis lagi. Memang ada
fenomenon "falling in love". Tetapi, apakah falling in
love itu bisa bertahan selama-lamanya? Most possibly
tidak mungkin... Living happyly ever after juga cuma
ditemui dalam kisah Cinderella dan Sleeping Beauty.

You are beautiful, but you are _not_ Sleeping Beauty.
Zadi, gak perlu ada pangeran guanteng banget itu yang
membangunkan sampeyan dari tidur soentoek karena gak
ada pria yang bersedia mengorbankan dirinya, etc, en
so on, en so forth.

Gak ada itu yang namanya romantis-romantisan sampe
kakek ninen. Kalaupun ada, itu adalah romantis picisan
yang dipaksakan. Pada nyatanya sudah gak cocok, sudah
gak serasi... walaupun, pada saat hormon seks masih
hot-hotnya,. .. pernah serasi. Waktu hormon menurun,
keduanya, baik pria maupun wanita itu yang sudah
melewati berbagai upacara adat, hukum, sosial, dsb...
yang notebene merupakan social pressure doang, yang
gunanya untuk menekan kedua mempelai agar bertahan
sampai mati, walau apapun gonjang ganjing perkawinan
mereka. Ini social pressure, dan banyak dari anggota
masyarakat kita yang mashochistis mengikuti social
pressure. Akibatnya jadi stress. Stress berat harus
hidup bersama istri atau suami yang ternyata sudah
tidak dicintainya lagi (baca: dicintai dalam hal
gairah seks atau gairah persahabatan) .

My Dear Mbak Vergie, kalau Anda menginginkan pria itu
untuk menjadi sahabat Anda (outside or inside
bedroom), go on. I have to tell you as honestly and as
directly as possible that I believe it is ok for
people who love each other to engage in romantic
relationships, outside or inside marriage.

Lalu, bagaimana bargainingnya? Bargaining atau
tawar-menawar adalah prerogatif Anda sebagai pihak
yang menginginkan relationship itu, sekaligus sebagai
pihak yang diinginkan. Anda tidak bersuami, dan
bargaining partner Anda ternyata beristri. Nah,
bagaimana caranya agar mencapai solution yang
memuaskan semua pihak tentu saja tergantung dari Anda
berdua.

Saya cuma bisa bilang bahwa kalau Anda mencintai
seorang pria, tidak akan menjadi masalah bagi Anda
apabila pria itu ternyata beristri (dan mungkin akan
tetap beristri). You love because you love.

Anda memiliki penghasilan sendiri. Dan saya yakin Anda
bukanlah wanita model masa lalu yang harus
menggantungkan harapan dan penghasilan dari seorang
laki-laki saja. Such kind of thinking is definitely
outdated. Sudah gak seperti itu, Mbak. Realitas sudah
berubah. Jaman sekarang orang mencintai karena
mencintai. Dan orang mencintai bukan karena duit yang
bisa dibawa oleh pihak laki-laki or pihak wanita.

On the other hand, kalau Anda merasa bahwa itu terlalu
ribet untuk engage dalam suatu relationship dengan
seorang pria menikah, then it's fine. It's definitely
fine karena saya melihat bahwa Anda akan bertemu
dengan pria lain lagi. Yang sama ok-nya, atau bahkan
lebih ok.

Sedikit lebih muda dari Anda gak apa-apa kan?

You are sexually enticing for men. You are
sympathetic. You are smart. You are still young. Yes,
you'll have a satisfying relationship with a mature
man, provided you stop putting syarat-syarat.

Syarat is negotiable. You are the person who
negotiate.

All the Best,
Leo


E-mail 7:
------------

Ok deh Mas Leo, thanks untuk advisnya. Saya tunggu
perkembangan selanjutnya saja, soalnya dia sudah nggak
jelas maunya apa. Kadang-kadang capek jadi pihak yang
harus ngerti terus. Terus kalau soal kerjaan or karir
gimana ya? Waktu dan tenaga saya habis untuk bantuin
Mbak Cindy. Kadang-kadang bosan juga dan pengen
sesuatu yang lain.

Tapi kalau pun ada peluang, sering nggak tega juga mau
ninggalin Mbak Cindy. Soalnya semua keperluan dia
sudah biasa yang ngurusin saya. Jadi pengennya tetap
di kantor ini tapi punya bisnis sendiri juga.

Yaach..orang memang banyak maunya ya?

Best Regards,
Vergie


E-mail 8:
-------------

Dear Mbak Vergie,

OOhhh... how I was glad to receive your last letter. I
could perceive that you have grasped. Grassss..ppped,,
what it meant to BEEE a WOOMAN. To be a woman is a
process. Nggak sekali jadi. Buanyak process harus
dilalui. Jatuh bangun. Kezedat zedut. Sakeet sekalih.

No problem, kata psikolog. No problem, kata Mas Leo.
No problem, kata Mas Ben... So what gitu loh?

Life is a process. We started life like a new page,
yang baru dibeli di TB Gramedia: starched white, putih
bersih tanpa noda. Ciee.. ileh (kata orang Jakarta).

Ya memang, begizulah keadaannya, says Mas Leo, tukang
ramal tarot yang sok tewu inih. Mau bilang apa lagih,
iya kan? Kita semua belajar. Mencintai seseorang zuga
belajar. Mencintai nih ye?

Ehem... Pokoke more or less like that lah!

You know how to make it lah!

All the Best,
Leo


Tentang Leo:
____________
Leonardo Rimba, adalah alumnus Universitas Indonesia
dan the Pennsylvania State University, seorang
professional tarot reader dan bidang lainnya dalam
ranah Psikologi Transpersonal. Media massa yang pernah
meliputnya antara lain: Koran Tempo, RCTI, AnTV, dan
TransTV. Leo sering muncul dalam acara bakti sosial,
baik bagi kalangan lokal maupun ekspatriat di Jakarta,
dan bisa dihubungi di HP: 0818-183-615. Email:
leonardo_rimba@ yahoo.com. Di internet, Leo dikenal
sebagai seorang pengamat fenomenon indigo, dan sering
diasosiasikan dengan Vincent Liong, the foremost
indigo kid in Indonesia... Bersama Audifax, Leo
menulis buku "Psikologi Tarot" yang akan diterbitkan
oleh penerbit Jalasutra, Bandung. Wait for it!

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke