Hehehe.

Saya juga ada pengalaman naik pesawat dengan orang-orang norak seperti itu.
Dan ironisnya mereka ada anggota-anggota DPRD. Dengan petantang petenteng
naik pesawat dengan baju safari dan pin kebangaan mereka di dada. Ngobrol
keras-keras supaya satu pesawat tahu kalau mereka anggota DPRD, dan saat
pesawat bersiap mau landing, sudah mulai membuka nokia communicator mereka
dengan gagahnya. Pramugari yang mencoba meminta mereka untuk mematikan
handphone malah disambut dengan senyum melecehkan, seakan mereka lebih
pintar.

Membaca kasus Garuda di bawah, imaginasi nakal saya membayangkan, di
dalamnya kan lagi ada banyak pejabat tuh, dan semuanya membuka dan
menyalakan handphone saat landasan sudah terlihat. Lalu pramugari sibuk
menghampiri satu persatu untuk meminta mereka mematikan handphone (maklum
pejabat, kalau ditegur dari pengeras suara, bisa bisa hari itu juga jadi
pengangguran kan ). eh sebelum sempat semua mematikan handphone, mesin
turbin keburu terganggu, kan seperti yang kita tahu, saat baru menyalakan
handphone, maka handphone akan sangat aktif scanning gelombang (test aja
nyalakan handphone di samping tv atau radio yang sedang nyala). Dan
kecepatan pesawat tiba-tiba tidak terkontrol mungkin karena mati, atau lain
hal. Dan terjadilah kecelakaan itu.
Yah itu cuma hayalan saya saja. Saya kan bukan detektif. :D :))


Regards,
Paulus T.



On 5/25/07, Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Bilang aja, kalau mau pake bergaya dengan HP-nya  mendingan naik onta sama
si Indonebia. Gak perlu membahayakan ratusan orang lainnya. Hua hahaha

HB


On May 25, 2007, at 8:55 PM, Yumelda Chaniago wrote:

Kalo kita ketemu sama org norak yg lebih galak dari kita gimana?

Soalnya pernah tuh aku negur seorang perempuan yg lagi telp ngabarin kalo
bentar lagi pswt mo mendarat padahal kita masih ribuan kaki di udara. Eh
yang ada aku dipelototin sama suaminya yang badannya gede dan bertampang
garang.



Kirim email ke