Kita telah dibodohin mentah-mentah di siang bolong. Opini-opini yang dibangun
oleh media seolah membenarkan pak AR atas perbuatan haramnya. Lah wong Pak AR
ngaku setelah ketahuan kok kita seneng. Inikan kita sama halnya muka kita
dikentuti, kemudian yang kentut ngaku, setelah ketahuan baunya oleh kita.
Pembodohan yang telek dan jelek. Apa dengan cara pak AR ngaku tersebut kita
lantas memaafkan begitu saja???. Kalau kondisinya begitu, berarti bangsa kita
adalah bangsa pemaaf yang konyol. Negara yang paling enak bagi para koruptor,
walaupun koruptonya goblok.
Sederhana aja, korupsi aja dulu nanti kalau ketahuan ngaku didepan media dan
berencana untuk ngembaliin kemudian sambil berharap dapat keringan hukuman atau
kebebasan. Suatu kekeliruan yang besar dan salah kaprah serta tidak
proporsional melihat dengan mata tertutup fenomena pak AR.
Himbauan
Media sebagai ujung tombak perubahan, pencerah rakyat, pemandu demokrasi,
pendidik rakyat dan seterusnya. Segeralah langkah tegap maju jalan meluruskan
masalah kebodohan pemutaran opini yang telah berhasil dibangun oleh pak AR.
Bukankah, menyampaikan berita yang jelas antara " hitam dan putih" merupakan
tugas mulia bagi para pelaku media.
Saya berharap kasus DKP ini merupakan titik awal pembelajaran bagi seluruh
elemen bangsa. Bahwa kita masih merasa betapa jauhnya prilaku adil dalam
jiwa-jiwa bapak bangsa serta betapa masih jauhnya rasa keadilan didepan hukum .
Bagaimana.
Melakukan monitor atau mengawal secara terus menerus proses sandiwara
pengadilan DKP. Paparkan realita dan sampaikan kebenaran. Sehingga rakyat dapat
mengetahui sesuatu yang benar dan yang salah.
Kusnadi
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.