29/05/2007 17:57 WIB
Pengakuan Gay, Mau Menolong Malah Dituduh Memerkosa Rafiqa Qurrata A - detikcom Jakarta - Sungguh pedih diskriminasi yang dialami kaum homoseksual. Mamoto Gultom, misalnya. Meski dia seorang dokter yang notabene bertugas menolong orang sakit, kredibilitasnya malah diragukan. Dia pernah dituding memerkosa pasien prianya dan diperas polisi karena kasus tersebut. "Ketika itu tahun 1995, saya masih jadi dokter praktik di Jayapura. Ada pasien yang datang. Begitu masuk ruangan, dia berteriak tolong-tolong saya diperkosa," ungkap Mamoto dalam diskusi publik memperingati Hari Internasional Melawan Homophobia di Wahid Institute, Matraman, Jakarta, Selasa (29/5/2007). Setelah pasiennya teriak-teriak, imbuh Mamoto, serombongan orang masuk menggerebeknya. Namun saat dia mengadu ke polisi, bukannya ditolong, dia malah diperas untuk membayar sejumlah uang. "Kalau tidak mau kasih duit, kami akan umumkan ke media massa bahwa kamu homoseks, begitu kata polisinya," tutur Mamoto. Mamoto kemudian mengakhiri profesinya pada tahun 1997 karena tidak tahan dengan perlakuan yang diterimanya. "Pangkat saya juga tidak bisa naik karena saya tidak menikah dengan perempuan," kata Mamoto yang kini menjadi konsultan di UN Aids. Peristiwa menyedihkan kembagi dialaminya saat mendaftar sebagai dosen sebuah universitas. "Saya dianggap kapabel untuk mengajar, tapi saya tidak bisa diterima karena saya homoseks," cetus pria yang mengenakan kemeja bermotif kembang-kembang ini. Untunglah masa-masa itu sudah berlalu, Mamoto saat ini telah bertemu dengan cinta sejatinya. Desember 2002, Mamoto bersanding dengan pria pujaan hatinya, Hendy Sahertian, dan resmi menikah di Belanda. "Akibat pengalaman pribadi yang pahit, kami berdua berikrar untuk membuat lembaga Pelangi Kasih Nusantara untuk melawan segala tindak diskriminatif yang pernah kami alami," ujarnya. (umi/sss) Source : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/29/tim e/175740/idnews/786762/idkanal/10
