YTH.Bpk, Ibu, Sdr 
   
  Perjalanan ke Acara pembukaan Kampung Adat Sindangbarang pada tanggal 26 Mei 
2007 merupakan rangkaian perjalanan tim arkeologi dari FIB UI, yang dikomandani 
oleh Bpk Agus Aris Munandar. Beliau sejak 2006 menelusuri jejak aktivitas 
keagamaan di Sindangbarang yang diduga ada pada abad 13-15 M dari temuan berupa 
punden berundak, batu beryantra, batu bertapakkaki (manusia), dan menhir. Tim 
ini pun berkembang dengan ikut sertanya beberapa mahasiswa dan pengajar yang 
berminat pada kajian budaya plus jalan-jalan. Aktivitas di Sindangbarang 
menjadi kajian yang menarik secara interdisiplin. 
   
  Tulisan di bawah ini merupakan kisah pendek seorang Pantuner yang manggung 
pada acara pembukaan Kampung Adat Sindangbarang, Pasir Eurih Bogor.
  penulisan laporan perjalan tanggal 26 Mei 2007 ini dibuat berbentuk feature. 
   
   
   
  Balada Seorang Pantuners sejati
   
   
  Hahha....saya kasi judul Balada Patuners sejati tu karena saya takjub sama 
seorang kakek tua yang tetap eksis membawakan pantun Siliwangi dalam keadaan 
buta, Luar Biasaaa!
   
  Abah Ucup panggilannya, tinggal di suatu titik di daerah pinggiran kabupaten 
Bogor. Seorang diri, tiada beranak, tiada sanak saudara. Konon...sekarang malah 
tinggal nebeng di rumah tetangga. Sayang sekali....
  Abah Ucup disinyalir sebagai pembaca pantun Sunda tertua di kota Bogor dan 
apabila beliau wafat maka tradisi membaca pantun tradisional akan punah. Bahkan 
diduga apabila si Abah Ucup wafat maka tiada lagi pembaca pantun ini. Pantuners 
sejati ini tidak mewariskan ilmunya pada generasi muda. Entah alasan apa yang 
ada dalam benak Abah Ucup sampai beliau berkeras tidak menurunkan ilmunya. 
Dengar punya dengar siy...ada beberapa dugaan berkenaan dengan pewarisan pantun 
kepada seseorang. Konon, pantun diwariskan kepada anak si pantuners. Pertalian 
darah yang kuat diduga menjadi faktor utama menurunkan ilmu. Namun apabila si 
anak ini dianggap tidak layak mendapat ilmu pantun, maka si ayah tidak akan 
mewariskan pada anaknya. Beberapa pendapat menyatakan bahwa pantun dapat 
diwariskan dari seorang pantuners kepada orang lain yang sama sekali tidak ada 
hubungan darah dengannya. Mungkin ada pelbagai pertimbangan yang bisa 
menjadikan seseorang dianggap bisa diisi ilmu pantuners. Luar
 Biasa....sebuah proses yang rumit.
   
  Saya datang ke Sindang Barang pada tanggal 26 Mei 2007 dengan membawa pesanan 
Kang Mumu untuk merekam pembacaan pantun Sunda yang diduga nyaris punah ini. 
Tak sangka tak dinyana, di kampung adat Sindang Barang yang baru akan 
diresmikan bulan Juni 2007 tersebut saya bertemu dengan beberapa orang baru 
yang belakangan saya menganggapnya sebagai mutiara-mutiara yang bersinar di 
tanah Sunda. Tapi siapa mutiara-mutiara itu akan saya ceritakan nanti setelah 
saya tulis tentang Abah Ucup si Pantuners yang selalu tabah sampai akhir ini.
   
  Abah Ucup sudah sangat tua. Tiada lagi bergigi lengkap dan utuh. Namun masih 
bersemangat menggulung rokok racikannya sebelum jemarinya menyentuh kecapi 
indung. Kerutan-kerutan di wajahnya menandakan dia yang sudah tak lagi 
tergolong  tua, tapi sangat tua, kempot berkerut bibirnya. Ia memakai kacamata 
hitam ala rayban yang membuatnya tampak trendy dalam setelah baju tradisional 
yang ia kenakan. Sayang penampilannya ini hanya disaksikan beberapa orang dalam 
hitungan 20 jari tangan dan kaki. Ia ditinggalkan oleh puluhan penonton yang 
semula berkerumun di sekitar panggung untuk menyaksikan aksi tari-tarian dan 
ngagondang. Dari hitungan 20 orangan ini pun mungkin hanya hitungan 10 jari 
yang bertahan nangkring dalam radius 2 meter dari abah Ucup. Itu pun mungkin 
hanya 4 orang yang benar-benar mendampingi abah ucup dengan serius yaitu pemain 
gendang, pemain gong, dan seorang juru pantun dari gunung kumbang. Jujur, saya 
mampu bertahan di tepi panggung sampai akhir pembacaan
 pantun dengan perjuangan luar biasa untuk menahan kantuk. Plus ada kelompok 
kecil yang membicarakan tentang banalitas sehari-hari....ngalor ngidul 
membicarakan eksistesialisme, komunisme, ateis, kesadaran diri, sonoritas, 
musik kontemporer sampai tafsir mimpi...dan itu semua dilakukan selama abah 
Ucup nembang. Namun sesekali kami melihat abah nembang sambil terkagum-kagum 
dengan kecanggihan petikan kecapinya. Luar Biasaaaa! 
   
  12.30 lewat tengah malam, saya meninggalkan kelompok kecil yang sedang 
seru-serunya membicarakan keseimbangan notasi musik dengan alam di sekitarnya. 
Sambil sibuk mengganyi kaset mini dv saya selalu berpikir, siapa siy abah Ucup 
itu? Bagaimana perkembangan karirnya sebagai seorang Pantuners? Bagaimana orang 
lain mengapresiasi pantun yang ia bawakan? Bagaimana kehidupan sehari-harinya 
sampai ia tua kini? Apa rencananya untuk pantun di masa yang akan datang? Apa 
angan-angannya yang belum tercapai? Apa harapannya atas pantun Sunda? Apa masih 
ada yang ia ingin lakukan atau ia dapatkan? Entahlah...itu hanya 
pertanyaan-pertanyaan yang sempat terlintas dalam benak saya tanpa sempat 
terkatakan. Mungkin suatu hari ada yang bisa menjawabnya...mungkin....
   
   
  salam, 
  agni
  amalagina.multiply.com


<embed src="http://images.multiply.com/multiply/horizontal-headshot-badge.swf"; 
type="application/x-
 
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.

Kirim email ke