Lagi-lagi persoalan tanah kembali menuai korban, lebih dari 3orang
warga pasuruan tewas tertembus timah panas anggota TNI-AL ( marinir ).
Padahal baru saja kita disajikan dagelan yang diperagakan oleh para
pejabat negeri ini, jakarta khususnya. 

Adegan seru yang memperlihatkan adu kuat antara eksekutif dan
yudikatif mengenai sengketa tanah di Meruya-Jakarta Barat, yang satu
mencoba menancapkan taringnya dan satunya mencoba memperlihatkan
"ketulusannya". 

Nah, kasus yang terakhir inilah yang "mempesonakan" kita, disaat law
Enforcer kita (polisi) sedang berbenah untuk kembali menseleksi
mengenai  kepatutan kepemilikan senjata bagi anggotanya. Akantetapi
disaat yang hampir bersamaan law enforcer kita yang lain ( mar ) malah
mengikuti "jejak langkah sang adik" yang disorot karena ketidak
bertanggungjawab dalam menggunaan senpi.

jika saja kita cermati dan pahami dngan akal sehat, selama saya
menonton tayangan Discovery Channell "saya tidak pernah menemui
tayangan dimana segerombolan rusa yang bertanduk berani melawan dua
sampai lima ekor singa"

disini saya menganalogikannya seperti ini, jika saja memang pada saat
takeover tanah di pasuruan itu ada gerombolan warga dengan senjata
tajam terhunus yang siap untuk menyerang Marinir. Apakah mungkin,
mereka para warga yang membawa senjata tajam ini tidak memiliki
"kegentaran sedikit pun terhadap tentara yang sudah dilengkapi dengan
senjata apai??"

memang jika berbicara emosi, mungkin saja jika warga tetap berusaha
menyerang marinir. Tapi kok saya ragu?? apa mungkin, sejarah "bambu
runcing VS Mortir" terulang??

---IISIP---  

Kirim email ke