Press Release
Greenpeace: pertemuan industri batubara di Bali perparah perubahan iklim
Jakarta, 31 Mei 2007 Greenpeace hari ini mengecam pertemuan akbar
para produsen dan konsumen batubara se-Asia, CoalTrans, yang sedianya
dimulai hari Minggu ini di Bali, karena telah terus mempropagandakan
mitos `batubara bersih' dan secara agresif menyodorkan solusi-solusi
pengendalian limbah akhir walau hal itu sebenarnya tidak dapat berbuat
banyak dalam mencegah bencana dampak perubahan iklim.
Emisi Karbon dioksida (CO2) hasil pembakaran pembangkit-pembangkit
batubara merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim yang
diakibatkan oleh manusia. Organisasi kampanye lingkungan hidup
internasional tersebut menyerukan para pemerintahaan dunia untuk
mendukung revolusi energi dengan beralih kepada energi terbaharukan
dan efisiensi energi untuk memastikan kemapanan energi dan sekaligus
menghindari dampak-dampak buruk perubahan iklim.
"Batubara bersih dan murahnya batubara merupakan kebohongan-kebohongan
industri. Komoditas ini membawa imbas biaya-biaya lebih besar yang
diakibatkan oleh parahnya polusi, perubahan iklim dan tergusurnya
komunitas-komunitas lokal. Batubara hanya terkesan ekonomis di
permukaan karena sebagian besar biaya-biaya tersebut ditanggung oleh
masyarakat pembayar pajak (1)," kata Red Constantino dari Greenpeace
International pada kesempatan media briefing di Jakarta. "Hal ini
tidak seharusnya terjadi. Alternatif-alternatif energi yang bersih dan
berkelanjutan sudah luas tersedia dan dunia ini tidak mungkin dapat
mencapai target-target pembangunan yang berkelanjutan bila terus
bergantung pada batubara."
Komunitas peneliti-peneliti global yang dipimpin oleh Panel Perubahan
Iklim Antar-Pemerintah (IPCC) telah merilis kajian ke-empatnya tahun
ini, di mana wadah tersebut memperingatkan konsekuensi berlipat
gandanya bencana bila pemanasan global mencapai 2°C. Dengan naiknya
suhu sebesar itu atau lebih, IPCC meramalkan jutaan manusia akan lebih
sering terancam bencana banjir, puluhan juta terancam kelaparan,
ratusan juta terancam malaria, dan milyaran manusia lainnya terancam
kurangnya air bersih. Naiknya suhu lebih dari 2°C, ekosistem-ekositem
di Asia terancam punah secara keseluruhan bersamaan dengan naiknya
permukaan air laut yang diakibatkan oleh cepat mencairnya lapisan es
bumi yang dapat membanjiri daerah-daerah permukaan rendah seperti di
Indonesia, Thailand dan Filipina.
Pembakaran batubara menghasilkan sekitar 9 milyar ton CO2 per
tahunnya, 70 persen diantaranya berasal dari pembangkit-pembangkit
energi. Emisi karbon untuk seluruh Asia sekarang telah mencapai
seperempat dari total emisi gas rumah kaca dunia, dibanding dengan
hanya sepersepuluhnya dulu. Hal ini disebabkan oleh tajamnya
pertumbuhan konsumsi energi di wilayah tersebut hingga 230 persen
dalam periode 1973 hingga 2003, dibandingkan rata-rata pertumbuhan
dunia yang hanya 75 persen dalam periode yang sama (2). Batubara
menghasilkan 41.93 persen dari
total emisi CO2 di wilayah Asia.
"Pemerintah Indonesia telah mengumumkan batubara sebagai pengganti
minyak bumi dalam sepuluh tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan
energi domestiknya. Industri batubara sendiri juga sangat antusias
terhadap potensi ekspor yang ada, walau sebenarnya saat ini sudah
tidak ada lagi pilihan untuk dunia selain menolak pembunuh iklim
tersebut," kata Nur Hidayati, Juru Kampanye Iklim dan Energi
Greenpeace untuk Asia Tenggara.
"Melihat dampak-dampak luas batubara terhadap iklim gobal, pertemuan
para pendukung batubara di Bali hanya bisa digambarkan sebagai
pertemuan kriminal-kriminal iklim. Setiap dolar yang dikeluarkan untuk
batubara merupakan satu dolar juga yang dibuang sia-sia bukan untuk
solusi-solusi energi lain yang lebih nyata efisiensi energi dan
energi terbaharukan. Dengan investasi hanya sebesar US$60 milyar,
energi terbaharukan saja dapat memenuhi 58 persen kebutuhan listrik
se-Asia sebelum tahun 2050. Indonesia sebenarnya dapat memimpin
wilayah Asia Tenggara menuju pertumbuhan yang berkelanjutan hanya jika
negara ini mau segera menanggalkan pemakaian batubara," tambah Hidayati.
Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang menggunakan
konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah
lingkungan hidup dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan
yang hijau dan damai.
Catatan untuk editor:
(1) Sebuah kajian baru-baru ini tentang pembangkit batubara BLCP
(pembangkit batubara yang didanai oleh Asian Development Bank di
Thailand) menunjukkan betapa besarnya biaya-biaya tersebut. Pembangkit
BLCP, yang mulai beroperasi tahun ini, akan mengeluarkan hampir 12
juta metrik ton Karbon dioksida per tahunnya dalam 25 tahun mendatang,
mengakibatkan emisi karbon Thailand naik hingga sebesar 6 persen tian
tahunnya. Menurut ExternE, sebuah kajian Komisi Uni Eropa, biaya-biaya
eksternal yang diakibatkan pembangkit batubara BLCP mencapai US$1.6
milyar per tahunnya dan biaya tersebut tidak ditanggung perusahaan
batubara terkait, namun ditanggung masyarakat pembayar pajak Thailand.
(2) Makalah `Climate Hypocrisy' yang dikeluarkan Greenpeace di Kyoto,
Mei 2007.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Red Constantino, Greenpeace International, +63 917 524 1123,
[EMAIL PROTECTED]
Nur Hidayati, Climate and Energy Campaigner, +62 812 997 2642,
[EMAIL PROTECTED]
Patrisia Prakarsa, Media Campaigner, +62 815 1195 4771,
[EMAIL PROTECTED]