BERITA PERS
Lomba Macapat Tingkat Nasional
Peringatan 250th Hadeging Puro Mankunegaran
Kiranya, urusan macapat telah betul-betul membuat Djuritno Yudohadinagoro
ekstra sibuk. Kesibukan yang tak seperti biasanya: menjadi Ketua Panitia Lomba
Macapat Tingkat Nasional. Walhasil, mulai dari persiapan pendaftaran,
menyiapkan materi lomba, hingga mengurus teknis akhir perlombaan di lakoni
serius.
Djuritno, --begitu dia disapa, memang telah bersikeras. Dalam rangka
memeringati 250th Hadeging Puro Mangkunegaran, Solo, dia ingin sekali lomba
macapat ini berjalan lancar dan maksimal. Alhasil, dia berusaha pandai-pandai
mengasah kreatifitas, supaya acara ini tidak sama dengan daerah lainnya yang
pernah berbuat serupa. Dan sebaik mungkin, Djuritno memodifikasi gelaran ini,
agar tidak terkesan membosankan penontonnya.
Aku ingin lomba ini juga menjadi sara penghibur masyarakat, harus meramunya
menjadi pertunjukan yang mampu memberikan muatan nasihat disela guyonan dan
goro-goro khas macapatan, kata Djuritno.
Namun ternyata, Djuritno tidak sibuk sendirian. Di sampingnya, ada Agus
Haryo, Ketua Panitia Peringatan 250th Puro Mangkunegaran dan beberapa rekan
lain dari Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran, serta kerabat dan keluarga
besar Puro Mangkunegaran. Lomba ini membuat mereka sibuk menyiapkan diri.
Tak mudah, memang. Baik bersikerasnya Djuritno atau Agus Haryo dan lain-lain
dengan adanya lomba ini, tentu digaungi lebih dulu oleh sebuah alasan. Mungkin,
lebih tepat menyebutnya dengan misi. Yakni, bagaimana lomba macapat kali ini
tidak saja disenangi para orang tua, melainkan juga oleh kaum muda.
Karena generasi muda yang akan meneruskan kesenian semacam ini, sementara
kita tahu kondisi anak muda sekarang semakin jauh dan bahkan banyak yang sudah
kurang tertarik pada kesenian adhi luhung seperti macapat ini, kata Agus
Haryo. Haryo mengatakan, peringatan 250th usia Puro Mangkunegaran adalah saat
tepat dijadikan momentum berbenah diri bagi pelestarian seni macapat,
khususnya di lingkungan Mangkunegaran sendiri dan umumnya di tengah-tengah
masyarakat Solo.
Peringatan 250th Puro Mangkunegaran
Momentum Tepat Lestarikan Tradisi Macapat
Macapat adalah seni baca atau waosan kitab-kitab lama Jawa yang memiliki
kaidah-kaidah tertentu. Beberapa pendapat tentang macapat di antaranya adalah
uraian dari R. Ng. Rangga Warsita dalam serat Mardawa Lagu. Berdasarkan sumber
lain yang paling tua, tradisi macapat diperkirakan telah ada sejak zaman
Majapahit bersamaan dengan tradisi membaca Kakawin Sekar Ajeng maupun Sekar
Tengahan.
Lebih lanjut dalam perkembangannya, macapat semakin digemari oleh segala
kalangan etnis Jawa. Selain sebagaii waosan buku, macapat juga seringkali
digunakan untuk gerongan dan bahkan lagu-lagu campur sari yang kian hari kian
populer di tanah Jawa.
Namun miris, kepopuleran campur sari danbudaya pop lainnya perlahan justeru
kian menggerus keberadaan macapat. Macapat sepertinya semakin kalah atau
malah tidak populer, dan seakan-akan ditinggalkan. Hanya orang-orang tua zaman
dulu, dan mungkin seniman-seniman di sanggar-sanggar seni saja yang masih
sering melakukan tradisi ini, baik untuk upacara-upacara pernikahan atau
acara-acara seni budaya.
Menukil pendahuluan bukunya yang berjudul Etika Jawa (1984), Franz Magnis
Suseno telah menengarai terpisahnya masyarakat Jawa dengan budaya Jawanya
sendiri. Sungguhpun, mereka adalah para pelaku budaya Jawa yang masih
menunjukkan kejawaannya yang kental. Bahwa, keterpisahan pelaku budaya dengan
budayanya sendiri lebih berkenaan pada urusan akademis.
Namun tentu, bukan berarti mereka tidak melakukan. Sebab, justru merekalah
wujud utuh budaya itu sendiri. Jadi, tidak mengherankan jika masyarakat lokal
Jawa seringkali menjadi ajang penelitian kebudayaan dari para ahli. Dan tidak
heran pula, jika banyak literatur ilmiah tentang berbagai budaya daerah di
Indonesia justru datangnya bukan dari para ahli bangsa Indonesia sendiri.
Ya, banyak literatur kebudayaan ditulis dan dipublikasikan oleh para ahli
asing. Walhasil, tidak mengejutkan jika akhirnya muncul pemeo, Jika ingin
belajar bahasa dan budaya Jawa, maka pergilah Belanda dan belajarlah kamu di
Universitas Leiden.
Sejatinya, berangkat dari kondisi seperti inilah Panitia Peringatan 250th
Puro Mangkunegaran menggelar Lomba Mocopat Tingkat Nasional. Digelar sejak
pukul tujuh pagi di Pendapa Ageng Mangkunegaran, lomba ini akan memperebutkan
Piala Tropi dari KGPAA Mangkunagoro IX.
Sampai saat ini, peserta yang sudah melakukan registrasi ulang mencapai
jumlah 40 orang dan masih akan terus bertambah lagi. Menurut Djuritno, materi
macapat yang akan dilombakan antara lain Waosan Serat Wedhatama dan Pupuh
Pangkur untuk bacaan wajib, serta Gambuh dan Pucung sebagai bacaan pilihan.
Waosan Pupuh Pangkur akan menggunakan Laras Pelog Nem dengan Cengkok
Suryadarsanan gubahan Mas Demang Edy Sulistiono, terang Djuritno. Tak lain,
Edy Sulistiono adalah seorang Dwija di Pasinaon Dalang Mangkunagaran. Dia juga
seorang dosen di Akademi Seni Mangkunegaran, Bidang Pedalangan dan Karawitan.
Sementara itu, kata Djuritno, Pupuh Gambuh yang memakai Laras Slendro Manyura
juga akan dimainkan dengan Cengkok Suryadarsanan. Sedangkan untuk Pucung,
Djuritno akan menggunakan Cengkok Pucung Sumirat yang bersumber dari buku
macapat tulisan atau karangan almarhum Gunawan Sri Hascarya.
Terkait hal tersebut, Haryo ikut menimpali keterangan yang diberikan oleh
Djuritno. Kata Haryo, memang, dalam campur sari banyak diperdengarkan lagi
tembang-tembang macapat. Namun, tembang-tembang yang diperdengarkan lagi dan
mendapat darah dan greget baru tersebut kebanyakan tembang-tembang yang sangat
umum dan cenderung poluler.
Tembang-tembang klasik sekelas Wirangrong dan Girisa umpamanya, itu sudah
sangat jarang yang mengetahui. Begitupun dengan jenis tembang mocopat lain yang
cenderung serius seperti Asmaradana, Dhandhanggula, Kinanthi dan Megatruh
jarang pula yang tahu, kata Haryo. Haryo menurutkan, kemungkinan besar hal itu
terjadi lantaran pembawaan tembang-tembang tersebut itu yang kurang ngepop.
Alhasi, dunia pop adalah salah satu sebab mundurnya budaya lokal Jawa, salah
satunya adalah macapat.
Kalau generasi muda tidak digerakkan untuk menyenanginya atau paling kita
mengenalkannya, kesenian ini akan punah, kata Haryo. Selain itu, dengan
mempelajari seni budaya ini mereka akan tumbuh jiwa patriotisme karena di dalam
mocopat terkandung banyak ajaran moral, kata Agus Haryo, Ketua Panitia
Peringatan 250th Puro Mangkunegaran.
Lomba Mocopat Tingkat Nasional yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan
250 tahun Puro Mangkunegaran ini, turut didukung oleh PT HM Sampoerna Tbk.
melalui payung program Sampoerna Untuk Indonesia yang memiliki visi sama dalam
meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan nasional,
diantaranya seni musik tradisional Jawa.
Peringatan 250 Tahun Puro Mangkunegaran didukung oleh :
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.