Prinsip:
   
  Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan
  siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum
  Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya,
  ada yang menghemat secara luarbiasa, namun selalu berkekurangan
  Orang yang baik hati akan diberkati,
  karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.
   
   
   
  Saya pernah punya beberapa pikiran liar dimasa lalu. 
  Saya pernah bertanya-tanya dalam hati kenapa Tuhan membiarkan orang kaya 
menjadi makin kaya dan ada orang miskin yang menjadi makin miskin, juga ada 
pemikiran “ajaib” lain yang timbul yaitu, kenapa ada orang taat beragama tetapi 
tidak kaya tetapi ada orang yang tidak percaya agama dan Tuhan (yang kita 
percaya sebagai pemberi berkat), malahan kaya raya.
   
  Bertahun tahun saya mempertanyakan hal ini sampai suatu saat ada satu kotbah 
di gereja yang menjelaskan fenomena ini. Kurang lebih bunyinya sebagai berikut;
   
  Tuhan menciptakan alam semesta ini berikut hukum-hukumnya. 
  Hukum hukum alam semesta ini berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali, 
termasuk mereka yang beragama atau tidak, miskin atau kaya, tua atau muda dan 
laki laki atau perempuan.
   
  Manusia yang tidak beragama tetapi bila mereka mengerti dan konsisten 
menjalankan hukum hukum alam semesta maka mereka akan tetap bisa menerima 
segala efek positif dari tindakannya.
   
  Sementara mereka yang mengaku beragama bahkan sampai pada tataaran religius 
sekalipun, bila mereka mengerti tapi tidak melaksanakan hukum hukum alam 
semesta dengan benar, ya jangan harap menerima akibat baik dari tindakan yang 
tidak dilakukannya.
   
  Karena pada dasarnya Tuhan mengasihi semua manusia dan tentu saja adil dalam 
perbuatannya.
   
  Beberapa contoh kecil hukum alam secara umum yang berbicara dalam kaitannya 
dengan kemakmuran dan keuangan misalnya; siapa yang rajin akan menikmati 
hasilnya yang baik, mereka yang bekerja keras akan makin beruntung hidupnya 
serta salah satu hukum alam yang terpenting adalah mereka yang sering menabur 
akan juga sering menuai, bahkan hasilnya bisa berlipat ganda. 
   
  Menabur disini bukan hanya berarti sekedar aktivitas seperti yang dilakukan 
oleh para petani yang menaburkan benihnya diladang, tetapi mempunyai arti yang 
lebih luas lagi. 
   
  Menabur disini berarti membagikan berkat yang sudah kita terima kepada mereka 
yang membutuhkan pertolongan disekeliling kita dan tidak hanya menyimpannya 
untuk kita atau keluarga atau kelompok kita sendiri.
   
  Mungkin saat ini kita ber-argue kalau posisi keuangan kita tidak cukup bagus, 
bahkan pendapatan yang kita hasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan 
keluarga, hanya saja itu tetap bukan alasan untuk kita tidak menolong orang 
susah, orang orang menderita dan orang orang miskin diluar sana, karena 
tindakan menabur bukanlah suatu tindakan pemborosan yang sia-sia melainkan 
bersifat investasi.
   
  Mari saya kasih contoh kenapa ada orang orang yang miskin menjadi makin 
miskin sementara yang kaya menjadi makin kaya dalam kaitannya dengan 
berinvestasi terhadap orang orang lemah dan menderita kekurangan.
   
  Menolong orang lain seringkali bukan ditentukan oleh berapa banyak keuangan 
kita, tetapi seberapa besar mental memberi dalam diri kita. 
  Mental memberi menggambarkan hati yang kaya.
   
  Kenapa banyak orang orang kaya kuat dalam memberi, itu semata mata bukan 
hanya karena mereka berkelebihan, itu karena mereka mengerti dengan baik 
bagaimana pertolongan yang mereka tabur akan dapat dinikmati kembali oleh 
mereka atau keturunannya yang berikutnya, baik dalam bentuk pertolongan pada 
saat mereka atau keturunannya sedang dalam kesulitan ataupun mereka atau 
keturunannya menjadi makin beruntung dalam semua yang mereka lakukan.
   
  Secara sederhana, mereka menabur karena mereka mengerti dengan baik bagaimana 
prinsip uang dan berkat bekerja dan semua kebenaran hukum tabur tuai. 
   
  Sementara ada orang orang yang karena kesulitan keuangan berpendapat bahwa 
mereka akan menolong bila keuangan mereka sudah longgar.
  Pemikiran ini bisa menjadi seperti lingkaran setan dalam siklus kehidupan.
  Pemikiran berbahaya ini bisa malah membuat kita makin terperosok ke dalam 
kesulitan yang lebih kompleks. 
   
  Persamaan analogi; 
  ada seorang yang dalam posisi kesulitan keuangan yang berpendapat pendidikan 
itu mahal. Mungkin ia benar.
  Hanya saja bila karena kesulitan keuangannya  dia memutuskan untuk tidak 
berinvestasi dalam pendidikan dia sendiri maupun anak anaknya dan berpikir, 
kalau nanti saya banyak uang baru saya akan meng up-grade skill saya atau 
sekolahkan anak anak saya, maka tidak heran kalau dia dan generasi generasi 
dibawahnya malah makin terperosok didalam kesulitan hidup karena makin lemahnya 
daya saing dia maupun anak anaknya di area pendidikan dan keahlian di tengah 
persaingan dunia yang begitu keras dan berkembang demikian pesat.
   
  Sama persis dengan menabur, makin kita kurangi (apapun alasannya), malah 
membuat kita makin sulit untuk keluar dari lingkaran kesulitan keuangan.
   
  Jadi menabur bukanlah satu pilihan, itu adalah satu keharusan, apapun kondisi 
kita dan pada saat kita makin sulit, seharusnya kita menabur makin banyak.
   
  Menabur / berinvestasi adalah pola pikir, tindakan dan kebiasaan yang 
dilakukan oleh orang orang kaya, makanya mereka yang ingin kaya, harus berpikir 
dan bertindak serta mempunyai kebiasaan sebagai layaknya orang kaya terlebih 
dahulu.
  Dan saya percaya ini sama seperti SUKSES, mereka yang mau sukses harus 
terlebih dahulu berpikir, bertindak dan memiliki kebiasaan seperti layaknya 
orang sukses. 
   
  Tapi ada satu hal yang harus diketahui baik-baik pada saat kita menabur, 
karena bila motif kita salah yaitu karena ingin dipuji manusia lain, maka 
sebetulnya kita sudah menuai dini dari apa yang baru saja kita tabur.
   
  Sebagai penutup marilah kita merenungkan pola & kebiasaan orang kaya didunia, 
seperti contoh kecil yang kita sudah sama sama tahu yaitu pemilik Microsoft dan 
dinasti Rockefeller, dimana mereka telah dan masih terus menabur dalam jumlah 
luarbiasa besar terhadap anak-anak di negara negara dunia ketiga, research 
research centre yang bertugas menemukan obat-obat untuk mengurangi angka 
kematian, kaum tunawisma, pendidikan bagi mereka yang miskin, makanan bagi 
mereka yang lapar dll. 
   
  Tidakkah kita bertanya tanya dalam hati kenapa sampai pada hari ini mereka 
terus makin kaya dari hari kehari dan makin beruntung dalam setiap usaha yang 
mereka kerjakan dari waktu ke waktu?
   
  Tuhan memberkati setiap pejuang yang bertekun dalam panggilannya.
   
   
  Wishnu iriyanto
   
  Managing Director of
   
  FUTURE education (agent sekolah ke luar negeri)
  &
  FUTURE English (Satu-satunya kursus bahasa inggris bergaransi IELTS 6.5 / 
TOEFL 580 dengan angka keberhasilan 100%)
   
http://wishnuiriyanto.blogspot.com      

       

Kirim email ke