RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
Komentar:
========
Tampaknya para Marinir itu dengan sangat sigap menggunakan
"taktik pantang mundur" berhadapan dengan musuh . . .

Ya ampun, tapi mosok rakyat sendiri dianggap musuh, sehingga "terpaksa"
pada ditembaki ???

Dan apakah itu sudah menjadi tanda-tanda bahwa Era Reformasi akan
tiba-tiba nanti berubah menjadi Era DEFORMASI lagi ???

"Sungguh jauh perjalanan Negeri Kita menyongsong  fajar.
"Semoga Tuhan melindungi Rakyat Indonesia
"yang seperti dipaksa tawakkal sepanjang jaman . . ."

RedTOLERANSI*RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

  <http://www.pontianakpost.com/berita/kirim.asp?Berita=Utama&id=137994>
 *Kamis, 31 Mei 2007*
*Dar Der Dor di Pasuruan, 4 Tewas
* *Bentrok Berdarah Warga v Marinir *

[image: KORBAN : Mistin terbaring setelah kena tembak peluru nyasar. Dia
adalah ibu Khoiril Agung dan Istri Sutam yang sama sama tewas. Saat
kejadian, Mistin tengah memasak di dapur dan menggendong Khoirul Agung. Foto
Zainal Arifin/Radar Bromo]

*Pasuruan ,-*  Insiden berdarah kemarin terjadi di Pasuruan, Jawa Timur.
Empat orang tewas serta lima lainnya luka-luka akibat diterjang peluru
ketika aparat TNI-AL terlibat bentrok dengan warga. Peristiwa itu terjadi di
Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, sekitar pukul 10.00.

Berdasar informasi yang dihimpun Radar Bromo (Grup Jawa Pos), peristiwa
tersebut dipicu protes warga terhadap aktivitas para pekerja TNI-AL yang
menggarap lahan Prokimal (Proyek Permukiman Angkatan Laut) di desa tersebut.


Kabar yang beredar di warga, di atas lahan Prokimal itu, akan ditanami
tanaman produktif, seperti tebu dan mangga. Pengerjaan dilakukan mulai
Selasa lalu (29/5) dengan menggunakan peralatan berat seperti bego.

Rupanya, aktivitas itulah yang menyulut protes warga. Sebab, di lahan yang
digarap dengan peralatan berat tersebut, masih ada tanaman singkong milik
warga. Mereka minta agar penggarapan itu dilakukan setelah masa panen.
"Jangan dulu, tunggu panen," kata salah seorang warga yang enggan disebut
namanya, menceritakan kronologi peristiwa itu kemarin.

Tapi, protes warga tersebut tak ditanggapi para penggarap yang bekerja untuk
TNI-AL itu. Perang mulut pun terjadi. Beberapa saat kemudian, datang
sejumlah personel Marinir TNI-AL bersenjata lengkap. ''Jumlahnya sekitar
11-15 orang," kata Misnatun, warga Alastlogo yang menjadi saksi mata
peristiwa itu, kemarin. Saat itu terjadilah bentrok antara aparat TNI- AL
dan warga.

Tak lama kemudian, terdengar suara dar der dor di lokasi kejadian.
"Peristiwanya terjadi begitu cepat," kata Misnatun, yang dalam insiden itu
kehilangan istrinya, Khotijah. Khotijah yang sedang hamil empat bulan itu
ditemukan tewas terkena tembakan.

Kesaksian serupa juga diungkapkan Sh, warga Desa Sumberanyar, Nguling, tak
seberapa jauh dari TKP (tempat kejadian perkara). Diceritakan, saat itu dia
sedang mencari rumput tak jauh dari TKP. Namun, baru beberapa saat, dia
mendengar suara letusan. ''Awalnya cuma sekali. Terus terdengar lagi
berulang kali," katanya.

Menurut Sh, beberapa saat kemudian, terdengar suara jerit tangis dari warga.
Khawatir terjadi sesuatu, pria yang sehari-hari mencari rumput itu pun
bergegas meninggalkan lokasi kejadian.

Sedangkan warga Alastlogo langsung semburat begitu mendengar suara letusan
senjata dari aparat TNI-AL. Mereka panik. Suasana pun mencekam. Warga yang
berada di luar rumah pun langsung berusaha menyelamatkan diri dengan masuk
rumah.

Saat itu, diduga, para oknum Marinir melepaskan tembakan secara membabi
buta. Itu bisa dilihat dari bekas tembakan di beberapa tempat. Di antaranya
di musala, batang pohon, dan rumah-rumah warga. "Kami tidak tahu mengapa
mereka begitu tega melakukan ini," tutur Misnatun.

Memang, bekas aksi penembakan itu masih terlihat di sejumlah sudut. Termasuk
di rumah Misnatun. Bahkan, di pintu belakang rumah yang kemarin dipasang
police line itu masih terlihat bercak isi kepala Khotijah yang menempel di
daun pintu. ''Ini isi kepala istri saya belum dibersihkan," kata Misnatun
dengan kedua mata berkaca-kaca.

Menurut penuturan saksi mata lainnya, sesaat sebelum kejadian, Khotijah
sedang memarut kelapa di musala yang berada di depan sudut rumahnya.
Mendengar suara tembakan, perempuan 30 tahun itu langsung berusaha
menyelamatkan diri. Bahkan, perlengkapan untuk memarut kelapa pun tak sempat
dia bawa.

Tapi, nahas. Khotijah yang waktu itu berusaha melewati pintu belakang
langsung ambruk. Ini setelah salah satu peluru tepat mengenai kepalanya
hingga tembus ke belakang. Bahkan, sebagian isi kepalanya terlihat
berserakan di daun pintu.

Kondisi mengenaskan juga dialami Sutam, 40. Pria yang pada saat kejadian
sedang asyik melinting rokok itu pun tak lepas dari sasaran tembak. Seketika
itu dia tewas setelah terkena tembakan yang menembus tengkuk belakang
kepalanya.

Bahkan, menurut keterangan warga, aksi penembakan juga dilakukan terhadap
warga yang berada di dapur. Ini dialami Mistin.

Saat itu, dia tengah memasak di dapur. Dia juga tengah menggendong anaknya
yang berusia tiga tahun, Khoirul Agung. Tiba-tiba saja, dia jatuh
tersungkur. Ternyata dia terkena peluru yang menembus dadanya. Yang
memilukan, peluru itu juga menembus ke punggung Mistin, terus tembus ke dada
Khoirul Agung.

Kontan, jerit tangis mewarnai tertembaknya Mistin. Beberapa warga langsung
berusaha memberikan pertolongan. Tapi nahas, Mistin langsung tewas seketika
di depan rumahnya.

Suasana di kawasan itu pun makin panik dan tegang. Warga berlarian. Para
wanita menjerit-jerit histeris melihat beberapa tetangganya roboh tertembak.
Mereka yang cepat menyadari situasi segera bergegas memberikan pertolongan.
Korban tewas seperti Mistin, Sutam, dan Rohman langsung diangkut ke rumah
sakit dengan menggunakan pikap. Sedangkan Khoirul Agung, anak Mistin, yang
baru berumur 3 tahun itu, sempat dibawa dengan sepeda motor dengan dada
terkoyak peluru.

Sekitar pukul 11.30, para korban baik yang tewas, terluka parah, maupun yang
mengalami luka tembak di tangan dan kaki tiba di RSUD dr Soedarsono, Kota
Pasuruan.

Para petugas RSUD bertindak cepat menangani mereka. Namun karena
keterbatasan peralatan, para korban akhirnya dirujuk ke RS Syaiful Anwar
(RSSA) Malang.

Diketahui, korban meninggal akhirnya berjumlah empat orang. Mereka adalah
Mistin, Sutam, Rohman, dan Khotijah. Sampai tadi malam, beberapa korban yang
menderita luka parah masih dirawat di RSSA Malang. Hanya tiga orang luka
ringan yang masih dirawat di RSUD dr Soedarsono.

Minta KSAL Dicopot

Anggota Komisi I DPR RI Djoko Susilo protes keras penembakan brutal marinir
di Alastlogo. Anggota DPR dari unsur PAN ini langsung minta agar Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan pengusutan insiden yang
menewaskan empat orang itu. "Semua yang terlibat harus dihukum,'' kata Djoko
Susilo kepada Radar Bromo (Jawa Pos Group) sore kemarin.

Tak hanya itu. Djoko juga minta agar KSAL dicopot dari jabatannya. "Senjata
untuk marinir yang notebene dibeli dari uang rakyat ternyata disalahgunakan
untuk menembak rakyat. Kalau pun warga salah, misalnya, tidak sewajarnya
mereka itu ditembak. Ini yang harus diusut sampai tuntas,'' ungkap Djoko.

Dia juga mengingatkan, aksi penembakan itu nyata-nyata menunjukkan kalau
aksi kekerasan masih mudah terjadi dan sangat mudah dilakukan. ''Kasus ini
harus jadi pelajaran bagi kita semua di masa mendatang. Betapa mudahnya
terjadi aksi kekerasan. Padahal, semua itu bisa diselesaikan dengan kepala
dingin,'' jelasnya.

Djoko Susilo memang sudah mafhum dengan kasus sengketa kepemilikan tanah
Prokimal (Proyek Pemukiman Angkatan Laut) ini. Sejak 2003 lalu dia telah
mengikuti kasus tersebut. Beberapa kali dia mengunjungi lokasi Prokimal dan
bertemu dengan perwakilan warga. Ia juga membawa kasus tersebut ke
sidang-sidang komisi DPR RI dan ditindaklanjuti dengan memanggil beberapa
pihak terkait kasus tanah itu. ''Saya setuju relokasi. Yang saya tidak
setuju ya aksi kekerasannya. Apalagi sampai akhirnya menelan korban tewas
dan luka-luka. Tapi warga sendiri juga harus sadar, bahwa TNI AL memang
membeli tanah di Grati,'' ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW PPP Jatim Farid Al Fauzi mendesak pemerintah agar
membentuk tim independen guna mengusut kasus ini. Menurutnya, TNI-AL maupun
pemerintah tidak cukup hanya dengan minta maaf atas kejadian di Lekok.
"Harus ada sanksi bagi pelaku dan pihak yang bertanggung jawab," katanya.
(aad)




--
****************************************************
"Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan
Manusia;
namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert
Einstein)
****************************************************

Kirim email ke