Saya jadi agak confused membaca kisahnya. Sebetulnya yang egois itu mBakyu 
Asmarandhani atau suaminya.
Kalau membaca datanya, yang berkecenderungan berkelainan itu adalah mBakyu 
Asmarandhani.
Satu hal yang tidak dipunyai oeh mBakyu Asmarandhani adalah : Jiwa Besar.
Dan hal yang paling dominan pada mBakyu Asmarandhani adalah : Kekeraskepalaan.
Kalau mBakyu Asmarandhani itu tidak mau berubah, sebaiknya dipersilahkan saja  
beliau melanjutkan terus kondisi yang sudah ditekuninya itu, dan yang sudah 
mulai dapat beliau nikmati.

leonardo rimba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Dear 
Mas Leo,
   
 Jujur kadang saya merasa sepi karena saya wanita
 normal, tapi ketika bayangan masa lalu muncul, dendam
 itu kembali muncul. Saya sudah berusaha lebih
 mendekatkan diri kepada Yang Maha Tunggal, tapi bukan
 ketenangan yang saya dapatkan, melainkan justru sesak
 dan perasaan makin bersalah akan masa depan putri
 tunggal saya.
  
 Desember 2004, dua bulan setelah perceraian saya, dia
 menghubungi saya, topiknya sih hanya ingin mengetahui
 putri kami, mungkin dia merasa bersalah karena pas
 saya melahirkan pun dia tidak ada di samping saya, dia
 baru tahu setelah tiga minggu kelahirannya. Bukan
 tidak ada usaha dari saya memberitahukan kehadiran
 putrinya yang prematur tapi saya benar-benar tidak
 tahu dimana dia berada, tugas ke daerah yang terpencil
 adalah alasan saya ketika keluarga dan semuanya
 menanyakan dimana dan kenapa dia tidak mendampingi
 kelahiran putrinya.
 
 Saya hanya berusaha menjadi yang terbaik buat putri
 saya, bahkan ketika dia menyatakan kerinduannya, saya
 ijinkan dia datang kerumah untuk melihat dan bahkan
 saya ijinkan pula tiap sabtu sore sampai minggu dia
 bawa kerumahnya. Perlu Mas Leo ketahui bahwa saya
 tidak tinggal satu kota dengan mereka, saya tinggal
 jauh, sendiri dengan semua ambisi yang saya raih, saya
 tinggalkan putri saya sejak umur dua tahun hanya
 karena sakit, kecewa, marah, ambisi, dan tanggung
 jawab keluarga; dan sudah 2 tahun saya tidak pernah
 bertemu dengannya, karena jarak kami memang amat
 sangat jauh.
 Satu hal lagi yang perlu Mas Leo tahu bahwa sampai
 saat ini pun tidak ada yang tahu alasan utama
 perceraian saya. Mereka hanya bisa menyalahkan,
 mencaci dan mengucilkan keluarga saya, karena janda di
 tempat saya adalah aib, sampah dan rendah.
    
 Mas Leo, sampai saat ini saya masih terus
 berkomunikasi dengannya hanya dengan satu tujuan untuk
 berikan kasih sayang seorang ayah buat putri saya.
 Berulang kali dia minta maaf, dan ingin rujuk, kecewa
 dan sakit membuat saya menolaknya, biarlah kita
 seperti ini toh diantara kita ada si kecil yang tidak
 berdosa. Bukan hanya sekali saja dia berusaha
 menghancurkan karier saya, karena penolakan saya. Saya
 sudah berusaha untuk bersikap lunak dan tetap pada
 pendirian saya kalau semuanya telah berakhir. Satu hal
 yang tidak pernah saya mengerti kenapa dia masih saja
 merecoki hidup saya, tidakkah dia puas sudah membuat
 saya seperti ini, jauh dari keluarga, putri tercinta,
 dan yang lebih parah lagi saya bahkan sudah tidak tahu
 siapa saya. Bahkan sampai sekarang pun dia selalu
 membebani saya dengan persyaratan yang harus saya
 setujui.
  
 Mas Leo, mungkin anda akan menilai kalau saya bodoh,
 karena sampai saat ini pun saya masih menuruti
 permintaan pertamanya. Saya sudah menerima syarat yang
 dia ajukan: rujuk atau dia akan merampas putri kami
 jika saya berani menjalin hubungan atau bahkan
 menikah; dan saya memilih single forever asal jangan
 rampas putri saya.
 
 Konyol ...!!! mungkin itulah yang Mas Leo nilai akan
 saya; pertama saya juga tidak percaya dia serius
 dengan ancaman itu, toh bagaimanapun juga saya adalah
 mama dari putrinya. 
 
 Saya tidak tahu dari mana dia selalu mendapatkan
 informasi tentang saya, pernah tanpa sepengetahuan
 saya ayah menjodohkan saya dengan kerabat jauh. Dengan
 segala macam alasan saya tolak perjodohan itu, tapi
 ayah bersikeras untuk melanjutkan perjodohan itu. Saya
 tidak kuasa menolak melihat kondisi ayah yang sepuh,
 cacat karena kecelakaan dan labil karena terkucilkan
 dari keluarga yang semuanya itu dikarenakan saya
 dengan status janda, sampah, dan aib. Tetapi, belum
 lagi saya selesai menangis, saya terima berita kalau
 dia benar-benar mengambil putri saya dari sekolahnya.
 Mama jadi jatuh sakit karena cucunya entah berada
 dimana, dan ayah jadi lumpuh total karena hampir dua
 minggu tidak ada kabar kemana cucunya  pergi. Saya
 panik Mas, saya tidak dapat berbuat apa-apa karena
 jarak yang tidak memungkinkan saya berada di samping
 beliau.
 
 Sampai akhirnya dia menghubungi saya, dan mengakui
 kalau dia yang ambil putri kami. Dia sudah tidak
 peduli dengan status PNS-nya, dia hanya mengingatkan
 saya untuk selalu tepati janji dan menolak perjodohan
 itu.
  
 Mas Leo, saya benar-benar bingung, saya masih butuh
 ayah dan mama, tapi saya tidak mau kehilangan putri
 saya. Sekali lagi saya kalah, kalah atas kelemahan
 saya, dia kembalikan cucu mama dan ayah, tapi saya
 harus durhaka dengan menentang keinginan ayah menolak
 perjodohan itu. Ayah marah besar, sumpah serapah saya
 terima, bahkan ayah telah menganggap bahwa kelahiran
 saya adalah dosa dan kesalahan. Saya hanya diam karena
 saya tahu kondisi ayah, tanpa jenuh saya selalu
 meminta maaf untuk ampuni saya tapi beliau benar-benar
 sudah lupa kalau saya adalah putrinya.
  
 Mas Leo yang baik, apa arti semua posisi puncak yang
 saya raih tanpa restu ayah, ingin rasanya saya
 menceritakan semua tapi saya tidak ingin beliau lebih
 jatuh karena saya tidak ingin sesuatu yang fatal
 terjadi. Saya tidak mau kehilangan beliau, saya masih
 ingin bisa merasakan mencium tangan beliau seperti
 ketika saya masih sekolah dulu, dan berharap bisa
 membuat beliau mau menerima saya kembali.
  
 Mas Leo, sering saya berpikir kalau mati adalah yang
 terbaik, tapi bagaimana dengan putri saya ??? Dia
 tidak berdosa, saya benar-benar tidak bisa keluar dari
 masalah ini. Saya berhasil meraih ambisi saya, posisi
 pucak, gelar dan semuanya, tapi di sisi lain saya
 bukan siapa-siapa, saya bukan mama yang baik dan saya
 adalah anak yang durhaka. Kadang saya merasa
 ketakutan, besok, lusa atau minggu depan entah apalagi
 yang harus saya hadapi, menangis... sudah terlalu
 sering, sabar, nrimo... sampai kapan??? Saya sudah
 capek dengan semua ini. Di setiap doa saya, saya hanya
 mohon untuk kembalikan kehidupan saya yang dulu,
 biarlah saya kembali ke semula tapi saya masih bisa
 tersenyum.
 
 Sekali lagi terima kasih Mas, bantuan Mas Leo
 benar-benar saya harapkan
  
 Best Regards,
 Asmaradhani
  
 ---------------
 Catatan dari saya: 
 
 Mbak Asmaradhani menerima segala saran dari
 rekan-rekan lainnya untuk menemukan solusi bagi
 masalah yang dihadapinya. Saran yang diberikan bisa
 diposting di milis atau di-japri-kan ke saya. Terima
 kasih sebelumnya. (Leo)
 
 Tentang Leo:
 ---------------
 Leonardo Rimba adalah alumnus Universitas Indonesia
 dan the Pennsylvania State University, seorang
 professional tarot reader dan bidang lainnya dalam
 ranah Psikologi Transpersonal. Media massa yang pernah
 meliputnya antara lain: Koran Tempo, RCTI, AnTV, dan
 TransTV. Leo sering muncul dalam acara bakti sosial,
 baik bagi kalangan lokal maupun ekspatriat di Jakarta,
 dan bisa dihubungi di HP: 0818-183-615. Email:
 leonardo_rimba@ yahoo.com. Di internet, Leo dikenal
 sebagai seorang pengamat fenomenon indigo, dan sering
 diasosiasikan dengan Vincent Liong, the foremost
 indigo kid in Indonesia... Bersama Audifax, Leo
 menulis buku "Psikologi Tarot" yang akan diterbitkan
 oleh penerbit Jalasutra, Bandung. Wait for it!
 
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
 
     
                       

       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

Kirim email ke