Ikut nimbrung boleh kan? 1. TNI/polri maupun semua bagian pemerintah telah dari dulu blm bisa menghilangkan sikap arogan, serta sadar bahwa mrk adalah pelayan masyarakat.
amartien; Betul sekali. Bukan hanya TNI, tetapi pemerintah Indonesia pun begitu, mereka tidak mau tahu bahwa tugas mereka adalah melayani rakyat, dan bukan sebaliknya. 2. Byk dr rakyat kita yg meninggali tanah org yg tidak dipakai, lalu lama kelamaan merasa itu adalah milik mereka. amartien: Ini adalah isu undang2. Pemikiran dibalik undang2 adalah bahwa jika seseorang memiliki begitu banyak tanah sehingga tidak bisa mengurusnya, maka biarlah seseorang yang sudah ber-tahun2 tinggal di tanah tsb. menjadi pemiliknya. Sepintas lalu kelihatannya baik, yaitu memberi kesempatan kepada seseorang yang membutuhkannya. Sama dengan apa yang membuat orang2 tertarik ke komunisme, dimana penduduk dijanjikan bahwa semua dimiliki bersama. Tetapi kita lihat sendiri betapa pemikiran seperti ini tidak akan berhasil, bahkan menimbulkan banyak sekali kesulitan2, pertikaian2, dll. Undang2 yang membolehkan seseorang mendapatkan tanah seperti ini adalah sama dengan meresmikan pencurian. 3. Byk dari rakyat kita yg memang sering memanfaatkan keadaan dgn memperkeruh keadaan sehingga menekan pihak2 terkait. Mungkin ini dikarenakan kelamaan nganggur. amartien: Merubah suatu masyarakat menjadi civil society akan makan waktu yang lama. Sebab ini adalah tergantung dari kebiasaan, kebudayaan, dan juga seperti yang anda bilang, keadaan ekonomi. Pemerintah bisa mulai tentu saja dengan memperbaiki keadaan ekonomi, menghukum orang2 yang melanggar peraturan2 tanpa pandang bulu, apakah yang melanggar adalah rakyat biasa, ataupun dedengkot di pemerintahan, semua harus dituntut jika membuat pelanggaran. Jika ada pihak yang menekan, maka yang ditekan itu harus dilindungi oleh pemerintah. Ini kita tidak lihat di Indonesia. 4. Kadang rakyat sendiri melakukan kebrutalan tapi kalo sudah ditindak keras petugas malah merengek rengek dgn alasan dianiaya, pelanggaran HAM dll. amartien: Seorang petugas boleh saja menindak, asalkan itu didalam hukum. Rakyat mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat anti pemerintah, atau anti apapun juga, asalkan pada waktu mengeluarkan pendapat tidak melakukan pelanggaran, seperti misalnya bakar membakar, dll. Atau bertindak dengan brutal. Jika melakukan hal itu, maka tentu yang berwajib seharusnya menangkap yang membakar dll. tsb. Tetapi seperti yang kita lihat rakyat yang melanggar tsb. tidak ada yang ditangkap, jadi yah ....... dikemudian hari akan saja ada lagi rakyat yang unjuk suara sambil melakukan kejahatan. Yang berdemo harus tahu bahwa berdemo itu adalah hak mereka, yaitu hak mengemukakan pendapat, tetapi janganlah melakukan pelanggaran2 pada waktu mereka menggunakan hak bersuara tsb. Dipihak yang berwajib, karena mereka adalah dari suatu institusi, maka mereka diberikan hak dan peralatan oleh undang2 untuk menjaga supaya tidak adanya pelanggaran. Dan mereka pun harus melakukan tugasnya dalam kerangka undang2, yaitu tidak boleh memukul, umpamanya. Jika ada rakyat yang memukul petugas umpamanya, yah kan banyak peralatan yang dipunyai instansi pemerintah tsb., seperti umpamanya tear gas, di guyur dengan air, dll. dll. Membunuh itu adalah jelas2 pelanggaran yang besar dari pihak instansi pemerintah yang tugasnya adalah membela dan melindungi SEMUA rakyat, tetapi sebaliknya mereka menjadi pembunuh, dan bukannya pembela. 5. Pihak mahasiswa kita bukan membereskan hal ini, malah makin bikin ruyam dgn bikin demo dll. Apa sih gunanya demo ini? Apa gunanya usaha mengusir wapres yg berkunjung? Bukan malah hal itu menunjukkan masyarakat kita itu tdk bs menghormati pemerintah yg mrk pilih? Bukankah lebih baik mereka mengusahakan bantuan kesehatan ataupun perdamaian diantara kedua belah pihak? Hal ini lebih berguna bukan!?! amartien: Bagaimanapun seseorang itu berbeda pendapat dengan anda, biarkanlah mereka itu berdemo. Itu namanya freedom of speech. Tetapi sekali lagi, berdemo boleh, tetapi pada waktu berdemo janganlah melanggar peraturan/undang2. 6. Pihak DPR yg malah memanfaatkan kejadian utk mendapat simpati palsu. Kalo ini terjadi terus, dimana semua pihak tdk ada yg mau merendahkan hati, maka tidak tertutup kemungkinan terjadinya kerusuhan massal yg lebih parah dr thn 1998 yg bisa jadi akan menjadikan Indonesia sebagai Timur Tengah kedua. Dimana peperangan tanpa henti. Apakah kita memang menginginkan hal ini terjadi?? amartien: kerusuhan masal 1998 adalah suatu contoh dimana pemerintah tidak melakukan tugasnya, yaitu melindungi rakyatnya. Tidak ada tindakan2 untuk menghukum oknum2 dibelakang kerusuhan tsb. Sebaliknya, oknum2 di pemerintahan dengan melalui berapa orang dari 'rakyat' menggunakan rakyat untuk menimbulkan huru hara. Laporan komnas ham mengenai 1998 rupanya hanya itu saja, laporan, tidak ada tindak lanjutnya. Demonstrasi 'mahasiswa' yang membantu jatuhnya Sukarno, tidak lain didorong oleh oknum2 di abri juga. Apodeti di Timor Timur yang pro Indonesia, ternyata adalah buatan/didukung Indonesia juga. Begitu banyak sudah huru hara yang terjadi sesudah Indonesia merdeka. Dimanakah pemerintah dalam melindungi pendduk yang menjadi korban huru hara sesama rakyat Indonesia juga? Tidak ada, bungkam seribu bahasa. Diam. Selama pemerintah Indonesia hanya bertindak untuk kepentingan masing2 oknum di pemerintahan, maka tidak akan ada Indonesia yang aman, maju, makmur dan sentosa. Untuk mengganti budaya suatu institusi, dalam hal ini, institusi paling besar dan paling penting untuk rakyat dan negara Indonesia, yaitu pemerintah, maka harus ada bukan saja seseorang yang benar2 bisa memimpin, tetapi juga seseorang yang tahu betul mengenai tugas pemerintah, bebas korupsi dan orang tsb. harus dikelilingi orang2 yang sama. Dan yang paling penting, didalam melaksanakan tugas, mereka harus menghargai hak2 semua orang, seluruh rakyat Indonesia. Ini kita tidak lihat di Indonesia sekarang ini. Contoh: terlalu banyak sudah orang2 dan pemerintah yang menginingkan syariah Islam, dimana SI itu jelas2 adalah undang2 pemaksaan, dan bukannya undang2 yang menghormati hak2 azasi manusia. Terlalu banyak sudah pelanggaran2 yangn tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah. Tetapi mereka bisa mulai dengan menyelidiki dan kemudian menuntut pemubunuh2 rakyat tsb. Atasan dari oknum2 yang membunuh tsb. juga harus ikut mempertanggung jawabkan perbuatan anak buahnya. Ini hanyalah suatu langkah yang amat sangat kecil menuju menegakkan keadilan di NKRI. salam, amartien edogawa2000 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sebenarnya kalo ditanya sapa yg salah? Sapa yg benar? Jawaban jujur adalah semua pihak salah! Kalo kita mau jujur dan melihat permasalahan ini dari segala sudut, maka kita akan menemukan fakta: 1. TNI/polri maupun semua bagian pemerintah telah dari dulu blm bisa menghilangkan sikap arogan, serta sadar bahwa mrk adalah pelayan masyarakat. 2. Byk dr rakyat kita yg meninggali tanah org yg tidak dipakai, lalu lama kelamaan merasa itu adalah milik mereka. 3. Byk dari rakyat kita yg memang sering memanfaatkan keadaan dgn memperkeruh keadaan sehingga menekan pihak2 terkait. Mungkin ini dikarenakan kelamaan nganggur. 4. Kadang rakyat sendiri melakukan kebrutalan tapi kalo sudah ditindak keras petugas malah merengek rengek dgn alasan dianiaya, pelanggaran HAM dll. 5. Pihak mahasiswa kita bukan membereskan hal ini, malah makin bikin ruyam dgn bikin demo dll. Apa sih gunanya demo ini? Apa gunanya usaha mengusir wapres yg berkunjung? Bukan malah hal itu menunjukkan masyarakat kita itu tdk bs menghormati pemerintah yg mrk pilih? Bukankah lebih baik mereka mengusahakan bantuan kesehatan ataupun perdamaian diantara kedua belah pihak? Hal ini lebih berguna bukan!?! 6. Pihak DPR yg malah memanfaatkan kejadian utk mendapat simpati palsu. Kalo ini terjadi terus, dimana semua pihak tdk ada yg mau merendahkan hati, maka tidak tertutup kemungkinan terjadinya kerusuhan massal yg lebih parah dr thn 1998 yg bisa jadi akan menjadikan Indonesia sebagai Timur Tengah kedua. Dimana peperangan tanpa henti. Apakah kita memang menginginkan hal ini terjadi?? Salam On 6/1/07, malamkomunitas <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > selain 2 orang ibu tersebut yang sedang memasak, > seorang korban yang luka parah adalah bocah berusia 4 tahun (mungkin > seumuran dengan anak bung Yoga?) dengan luka tembak di dada.. > > dikutip dari kompas: > "Kemudian para oknum tentara itu gelap mata. Mereka menembaki rumah > warga. Beberapa ibu-ibu yang sedang memasak dan memotong ketela > pohon di luar rumah ikut ditembaki. Seorang ibu bernama Mistin (25) > yang sedang menggendong anaknya Khoirul (4) ikut tertembak dan > langsung meninggal, sedangkan anaknya yang juga terkena tembakan di > dada kanan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Sjaiful Anwar di > Malang." > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/31/utama/3568947.htm > > bung yoga, mending cari tau, baca berita, cari informasi dulu deh > daripada bikin pembenaran yg katanya logis, tetapi malah jadi > terlihat seberapa kadar ke-logis-an anda.. > mungkin untuk membantu berpikir lebih logis, coba bung yoga > bayangkan ketika istri anda lagi masak sambil menggendong balita > anak anda, tau2 meninggal ditembak tentara! apakah anda masih > akan "membela" tentara yg kemudian beralasan membela diri? > > --- In [email protected], "Dian Kartika Sari" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > o alah....panjang amat rasionalisasinya. > > Dari jumlah korban meninggal, dua diantaranya perempuan. > > Satu diantara dua perempuan itu hamil 4 bulan. > > Satu lagi perempuan yang sedang menggendong balita usia 3 tahun. > > > > seberapa sih kekuatannya perempuan yang hamil 4 bulan atau bayi > yang umurnya baru 3 tahun. > > > > Kenapa dia yang ditembak ???? > > > > salam > > dian > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: Yoga > > To: [email protected] > > Sent: Thursday, May 31, 2007 8:43 PM > > Subject: Re: [mediacare] marinir tewaskan empat rakyat jelata > > > > > > > > Bukannya membela TNI atau apalah... cuma mo memandang pada pola > pikir saja...... Saya berpikir logis saja sih.... terlepas dari > persoalan dibelakang ini semua... > > --- CUT ! dasar antek aparat keparat militer bangsat tni anjing tai > kucing --- > >
