Masalah itu bernama KBRI dan Imigrasi.
Yang KBRI sepertinya mau menutup pintu gerbang halaman sedangkan Imigrasi memeras mereka yang sudah telanjur masuk halaman namun baru di depan pintu.

HB
On Jun 4, 2007, at 4:03 PM, Sunny wrote:


http://www.indomedia.com/bpost/062007/4/opini/opini4.htm


Indonesia Makin Dijauhi


NASIB Indonesia memang tidak mujur. Australia memperlakukan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang sedang menjadi tamu resmi, sangat tidak sopan bahkan melecehkan. Tanpa pemberitahuan lebih dahulu, Sutiyono didatangi polisi yang langsung masuk ke kamarnya dengan kunci khusus dan memintanya datang ke pengadilan guna dimintai keterangan terkait kasus kematian lima wartawan Australia di Timor Timur pada 1975 lalu. Sebelum itu, kita juga ribut akibat keputusan pemerintah yang memberi kesempatan kepada negara kecil Singapura untuk menggunakan wilayah teritorial RI sebagai ajang latihan militer dengan peluru kendali. Kita juga sering mendengar berbagai komentar negara lain yang tidak menguntungkan Indonesia.

Kabar menyedihkan terbaru yang kita terima, Indonesia tidak lagi menjadi pilihan tujuan wisata di Asia. Bahkan masuk 10 besar pun tidak. Kalah dari Thailand, Hongkong, Malaysia atau negara lain yang tidak terkenal. Bahkan dengan Singapura yang negaranya tidak lebih luas dari Kota Jakarta pun, yang tidak punya objek wisata, kita kalah. Negara yang disurvai adalah Kanada, China, Jerman, Swedia, Inggris, Amerika dan Australia. Dari semua itu kita lantas menyimpulkan, Indonesia makin dijauhi.

Survai yang dilakukan Visa Internasional bekerjasama dengan Pasific Asia Travel Association (PATA) menunjukkan, 56 persen responden beralasan tidak mau datang ke Indonesia karena banyak faktor. Mulai terorisme, ketegangan politik, kriminal sampai biaya hidup yang tinggi dan penyakit seperti flu burung, masih menakutkan wisatawan. Faktor lainnya yang membuat Indonesia tidak menarik adalah tsunami, kendala bahasa, jarak objek wisata cukup jauh satu dan lainnya sampai susahnya mencari tempat penukaran uang. Menurut catatan Biro Pusat Statistik sebagaimana dikutip The Jakarta Post, kunjungan wisatawan ke Indonesia memang menurun. Pada 2004 sebanyak 5,3 juta orang, 2005 menjadi lima juta dan 2006 turun lagi 2,5 persen.

Pariwisata dengan Pulau Bali dan Borobudur, semula memang mengangkat Indonesia di dunia internasional. Lewat pariwisata pula Indonesia memiliki tidak saja pamor tetapi juga devisa yang tidak kecil. Tetapi andalan itu kini semakin surut, bukan karena daya tariknya menurun tetapi lebih karena situasi yang tidak mendukung. Terlalu banyak tragedi di Indonesia ini. Teror sampai bencana alam, ketegangan politik sampai tuntutan buruh yang menakutkan penanam modal dari luar negeri, semuanya menjadi penyebab turunnya simpati asing kepada kita. Perilaku aparat yang sering kelewatan, keberanian rakyat terhadap penegakan hukum yang berlebihan, juga membuat situasi yang tidak menarik bagi orang asing.

Kekerasan lebih banyak mewarnai kehidupan kita. Apa yang tidak diwarnai dengan kekerasan, pemilihan kepala daerah berakhir dengan perusakan. Dengan dalih kemiskinan rakyat memaksakan kehendak, menolak eksekusi pengadilan kalau perlu dengan membawa parang, celurit dan benda tajam lainnya, dan menantang aparat. Demo juga tak henti-hentinya mewarnai setiap tuntutan masyarakat. Tokoh politik pun tak mau ketinggalan dengan pernyataan yang menimbulkan situasi tidak tenang dan memancing kekerasan pendukungnya. Betapa sedih melihat situasi seperti sekarang ini.

Menurut hemat kita pemerintah tidak boleh lemah, tudingan pelanggaran Hak Azazi Manusia jangan lagi menjadi kendala untuk bertindak tegas. Tetapi pemerintah juga harus adil terhadap rakyat, khususnya rakyat miskin. Misalnya, tanah yang begitu luas di Nusantara ini harus digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan hanya pengusaha kaya yang berhak menikmati.

Di Kalimantan Selatan misalnya, hutan sudah habis dibabat. Tanahnya kini digali untuk diambil batu baranya, sementara rakyat tidak kebagian apa-apa. Hidup mati bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang masih agraris ini adalah tanah. Karena itu, pemerintah harus bisa menyelesaikan masalah pertanahan bagi rakyat khususnya rakyat miskin.

Ini hanya salah satu contoh. Kalau masalah dalam negeri bisa diatasi, niscaya kepercayaan luar negeri akan pulih dan harga diri kita terangkat kembali.




Hardi Baktiantoro
[EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke