Hebat 'visi' (penglihatan) jarak jauh para pengusul interpelasi: Muhtar Ngabalin cs. Sebab utk mereka berlaku pepatah kuno: kutu di seberang lautan terlihat jelas dan BESAR, gajah di pelupuk mata tak kelihatan, padahal gajahnya juga banyak punya kutu, he, he, he.
Seandainya hak interpelasi di'exercise'-kan karena pemerintah tak mampu menangani berbagai masalah ekonomi, pendidikan, dsb, di tanah sendiri, pada khususnya gagal menangani masalah segede gajah, mis. masalah lumpur LAPINDO, masalah layanan KA yang bolak-balik anjlok relnya, masalah kronis di sektor pertanahan yg berbuntut kasus Meruya, kasus penembakan rakyat di Pasuruan, dsb, saya akan mendukung DPR menggunakan hak interpelasi ini. Usulan interpelasi masalah2 gede di tanah air, dengan dukungan langsung dari rakyat yang langsung terlibat bahkan sudah harus hidup susah karenanya, pasti akan lebih berhasil menekan pemerintah untuk berusaha lebih keras memperbaiki kinerja dan pelayanannya kepada rakyat banyak. Tetapi mendukung interpelasi untuk masalah di seberang lautan sono? Tadi malam si Ngabalin yang nyebelin ini cuap2 di wawancara SCTV (tayangan Ngabalin terakhir yang saya lihat dan ingat di TV adalah ketika beliau sedang gebrak2 meja). Menurut beliau, pokoke presiden SBY harus datang di sidang interpelasi. Kalau SBY tidak datang dan hanya diwakili 3 orang menterinya, artinya secara institusi (menurut interpretasi Ngabalin tentunya), presiden menghina institusi DPR dan si Ngabalin akan 'walkout' dari sidang interpelasi. Emangnya lembaga/institusi kepresidenan itu hanya SBY doang anggotanya sehingga tak bisa diwakilkan? Kan yang ikut voting di PBB mewakili pemerintah Indonesia (bukan cuma mewakili satu lembaga: kepresidenan)? Jadi wajar siapa pun wakil pemerintah bisa mewakili menjawab hak interpelasi tersebut di DPR. Lagi pula, penilaian Ngabalin cuma berdasarkan PRASANGKA (yg bisa benar dan bisa juga salah) bahwa "... pemerintah Indonesia di PBB sudah jadi kaki tangan Amerika. Alasannya, sebelum voting SBY sempat ketemu empat-mata selama 45 menit dg Bush dan udah pasti Bush bisik2 sesuatu ke SBY dalam masalah Iran ini. Jadi (menurut Ngabalin) mana tahu ketiga menteri yg akan diutus di atas isi bisik2 SBY dan Bush (agar voting mendukung?)?" kurang lebih demikian kata2 si Ngabalin. Prasangka Ngabalin yg lain (atas dasar fakta yang salah) bahwa sudah jelas tujuan Amerika dg resolusi tsb adalah Amerika mencari mandat PBB untuk invansi ke Iran seperti kejadian yang lalu di Irak (menurut Ngabalin: invasi ke Amerika ke Irak dg mandat PBB (Eeh, salah bung Ngabalin, Amerika tak mendapat mendapat PBB ketika invasi ke Irak). Emangnya pemerintah (dan) partai Republik di AS nggak kapok dikritik oleh rakyat sendiri, termasuk oleh calon2 presiden terpopuler dari partai Demokrat: Obama dan Hillary? Juga reseh banget ini orang, secara mental maksa2 cari tahu isi pembicaraan dua orang presiden. Prasangka sih prasangka, tetapi memaksakan prasangka milik sendiri selalu benar, saya kira ybs sudah perlu ... . Salam
