Terima kasih Bung Bonar sedikit peduli terhadap kami. 
  Memang yang Bung katakan tidak salah. Kondisi majalah FORUM saat ini sangat 
sekarat. Baik dari sisi nilai jurnalismenya maupun manajemennya. Semuanya itu 
tak lain karena ulah Priyono Bandot Sumbogo itu. Dia inilah yang kini, 
mengklaim, sebagai penanggungjawab redaksi. 
   
  Si Priyono ini dalam kesehariannya selalu mengaku-ngaku sebagai alumnus 
TEMPO. Dan dia merasa sudah sangat top sebagai wartawan. Tapi, bila melihat 
hasil karyanya, tak begitu istimewa. Kepada seluruh awak redaksi FORUM, tak 
pernah sekalipun dia memerintahkan untuk melakukan peliputan berita reporting 
investigatif. Komentarnya, "ambil aja berita-berita dari koran-koran, 
kompailing ajalah." Itulah selalu instruksi dia kepada anak buahnya di FORUM. 
Bayangkan, seorang pemimpin di redaksi, memerintahkan menulis berita dengan 
mengutip2 dari koran saja. Tidak mementingkan eksklusifitas dan keorisinilian 
berita. Padahal dia mengelola majalah berita mingguan. 
   
  Tak heran, berita-berita di FORUM tidak ada lagi yang eksklusif. Tak pernah 
wawancara nara sumber yang bermutu. Cuma saduran dan berbagai berita di portal 
dan koran-koran. 
   
  Sialnya lagi, misinya selalu ingin mendapatkan uang gede. Kisah berita 
MAKINDO dan Sukanto Tanoto bisa dijadikan bukti. Sampai kini, setiap edisi, 
Priyono selalu menampilkan iklan belakang majalah FORUM dengan gambar Gunawan 
Jusuf, bos Makindo dan Hotman Paris Hutapea (sebagai pengacara hitam). 
   
  Gambar itu bukan tanpa sengaja dipasang. Yang pasti itu karena frustasinya 
akibat gagal dapat uang gede dari MAKINDO. Jadi dia cuma bisa mempampang edisi 
FORUM yang membuat cover Gunawan Jusuf. 
   
  Alhasil, laporan dan pengaduan terhadap berita FORUM banyak yang melayang ke 
DEWAN PERS. Salah satunya dari PT Raja Garuda Mas yang dikomandani Sukanto 
Tanoto itu. Setelah dinilai DEWAN PERS, FORUM wajib meminta maaf karena 
pemuatan berita yang, menurut DEWAN PERS, tidak sesuai dengan kode etik 
jurnalistik itu. 
   
  Sialnya lagi, ternyata Priyono mengeluarkan kebijakan tidak memuat 
rekomendasi DEWAN PERS itu. Bayangkan, institusi se-mulia DEWAN PERS pun tidak 
diindahkan olehnya. Priyono malah sok menyebut DEWAN PERS sebagai centeng 
pengusaha. Entah apa dasarnya. 
   
  Kini, untuk keduakalinya, Priyono tidak mematuhi rekomendasi DEWAN PERS yang 
mengharuskan dirinya meminta maaf kepada sejumlah awak FORUM yang sempat 
ditulisnya illegal. Tapi rekomendasi itu, lagi-lagi, tidak diindahkannya. 
   
  Padahal kalau mau membandingkan, bukan FORUM saja yang pernah kena damprat 
rekomendasi DEWAN PERS. TEMPO, GATRA dan sejumlah media juga mengalaminya. 
Tapi, enaknya media-media itu mengikutinya. Tak ada yang sok mengangkangi hanya 
karena ingin mendapatkan uang gede karena berita yang ditulis. 
   
  Kondisi ini tentu merupakan preseden buruk bagi dunia pers kita. Bila terus 
dibiarkan, maka wibawa DEWAN PERS bisa hancur hanya karena Priyono, wartawan 
yang tidak taat aturan dan tidak ngerti hidup di jaman beradab, yang penuh tata 
cara dan peraturan. 

bonar napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                    30 Mei 2007 13:51:06
Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi Dewan Pers No: 02/PPR-DP/V/2007 tentang 
Pengaduan Irawan Santoso dkk terhadap Majalah FORUM Keadilan 
  Dewan Pers menerima pengaduan Irawan Santoso dan kawan-kawan (6 orang) pada 7 
Februari 2007, mengadukan Priyono B Sumbogo, pemimpin redaksi/penanggung jawab 
majalah dwi-mingguan Forum Keadilan (selanjutnya disebut Forum), yang secara 
sepihak memecat mereka sebagai wartawan Forum. 
  
  Pihak pengadu mempersoalkan proses pemecatan yang sewenang-wenang, hanya 
melalui surat pesan singkat (SMS) serta publikasi tulisan dalam rubrik Forum 
Redaksi, berjudul “Wartawan Ilegal Forum Keadilan” (Forum edisi 34, 25-31 
Desember 2006 halaman 3). Pihak pengadu merasa dilecehkan dengan penerbitan 
tulisan tersebut, khususnya tuduhan bahwa mereka membawa barang-barang 
inventaris perusahaan. Pengadu telah mengirimkan Hak Jawab untuk meluruskan 
tuduhan tersebut, namun Forum tidak melayani. 
   
  Dewan Pers telah mengundang Priyono B Sumbogo, sebanyak dua kali, untuk 
mengklarifikasi pengaduan dimaksud, namun yang bersangkutan menolak hadir dan 
menyatakan tidak bersedia berdialog dan berkompromi. Setelah mempelajari secara 
mendalam Dewan Pers sampai pada pokok-pokok penilaian dan rekomendasi sebagai 
berikut:
   
  Penilaian:
  1.       Pengaduan Irawan Santoso dkk. menyangkut pemecatan melalui SMS 
merupakan masalah sengketa ketenagakerjaan dan persoalan internal perusahaan. 
Begitu pula dengan soal pelecehan menyangkut tuduhan “membawa barang-barang 
inventaris perusahaan” bukan wilayah yang ditangani Dewan Pers.    
  2.       Menyangkut tulisan “Wartawan Ilegal Forum Keadilan”, Dewan Pers 
menilai Forum telah mempublikasikan tulisan yang bernada menghakimi. Sudah 
sepantasnya Forum melayani Hak Jawab pihak pengadu, dengan memuat di penerbitan 
Forum. Dengan menolak memuat hak jawab Forum telah melanggar Pasal 5 ayat 2 UU 
No.40/1999 tentang Pers dan Pasal 11 Kode Etik Jurnalistik yang berbunyi: 
“Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional”.
  3.       Dewan Pers menilai sikap Priyono B. Sumbogo menolak hadir untuk 
mengklarifikasi pengaduan sebagai tindakan yang tidak menghargai ketentuan UU 
No.40/1999 tentang Pers, tidak etis, serta tidak menunjukkan itikad baik untuk 
menyelesaikan masalah yang diadukan.
   
  Rekomendasi
  1.       Forum wajib memuat hak jawab Irawan Santoso dkk sesuai Pasal 5 ayat 
(2) UU No.40/1999 tentang Pers dan Pasal 11 Kode Etik Jurnalistik guna 
meluruskan tulisan pada rubrik Forum Redaksi berjudul: “Wartawan Ilegal Forum 
Keadilan”, segera pada penerbitan pertama setelah Pernyataan Pernilaian dan 
Rekomendasi ini diterima disertai permohonan maaf. 
  2.       Forum juga memuat Pernyataan Pernilaian dan Rekomendasi Dewan Pers 
ini sebagai bentuk kepatuhan dan penghargaan terhadap mekanisme penyelesaian 
melalui swa-regulasi di Dewan Pers.  
   
  Sesuai Pasal 5 ayat (2) jo Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang No 40/1999 tentang 
Pers ketidakpatuhan melayani Hak Jawab dapat berakibat dipidana denda paling 
banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah). 
   
  Demikian Pernyataan Pernilaian dan Rekomendasi Dewan Pers ini dibuat untuk 
dilaksanakan sebagaimana mestinya. 
  Jakarta, 25 Mei 2007

  Dewan Pers,
  ttd
  Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA
Ketua
  
  Nb. Putusan ini bisa dilihat via website resmi dewan pers di www.dewanpers.org
   
  Sebelumnya, Dewan pers juga pernah memvonis majalah FORUM bersalah ketika ada 
laporan dari PT Raja Garuda Mas. FORUM diputuskan untuk meminta maaf. Tapi 
majalah ini membandel. Bahkan Penanggungjawab redaksi FORUM, Priyono B Sumbogo 
malah menyebutkan, entah atas dasar apa, Dewan pers sebagai kacung pengusaha. 
Padahal, tulisan dan berita di FORUM jelas-jelas salah. Menghakimi tanpa dasar 
dan bukti yang valid. 
   
  Jadi, hati-hati bila anda membaca ataupun menjadi nara sumber majalah FORUM. 
Beritanya tidak akurat dan bertujuan memeras saja. 
   
  Keterangan ini siap dipertanggungjawabkan!!!
    
---------------------------------
  Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!   

         



       
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 

Kirim email ke