Ya ampun Mas Denny, Ini pelajaran yang bagus banget. Mencerahkan.Dari sini saya belajar sesuatu yang penting. Anda memang cerdas memberikan pembelajaran tanpa membuat orang merasa digurui.
tahu nggak, saya ketawa ...terpingkal-pingkal di ruangan saya sendirian, gara-gara baca tulisan ini. Mudah-mudahan kawan-kawan saya nggak nganggap saya gila. salam dks ----- Original Message ----- From: Denny To: [email protected] Sent: Wednesday, June 06, 2007 9:59 AM Subject: [mediacare] Syalalala.. Mana Kiblatmu.. Syalalala.. Ini Kiblatku Pernah pusing gara-gara mau shalat nggak tahu arah kiblat? Sama... Ini hal yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tapi biasanya nggak terlalu mengganggu pikiran orang islam awami. Kenapa? Karena solusinya sangat gampang. Gimana? Ya nanya dong! Kan ada peribahasanya... Malu bertanya sesat di kiblat. * * * Memang kalau cuma bingung nentuin arah shalat, nggak akan jadi masalah yang terlalu bikin puyeng. Jarang banget ada orang trauma berkepanjangan cuma gara-gara soal sepele ini. Kalau ada pun paling-paling memang orang yang yakin dirinya semacem kompas atau patung asbak yang posenya lagi ngacungin telunjuk ke arah ka'bah. Tapi saya pernah juga nemuin masalah yang agak rame gara-gara soal nentuin kiblat ini. Ceritanya, waktu jaman kuliyah dulu. Setelah berbulan-bulan menyembah-sujud Rektor & Pihak Yayasan untuk menyediakan fasilitas tempat shalat yang baik di gedung kampus yang baru ditempati (di gedung kampus lama malah ada masjid di tengah kampus), akhirnya sesembahan itu dipenuhi juga. Kami diberikan satu ruangan yang seukuran 4 x 4 meter di bagian belakang kampus (di bawah gedung olahraga). Masalah muncul ketika seorang teman memberikan data pengukuran yang menentukan arah derajat kiblat dalam ruangan mushala itu. Berdasar pengukuran itu, saf untuk shalat jadi agak mengsong sekitar 30 derajat dari bentuk ruangan. Saat itu dengan ketegasan yang prima, saya menolak menggunakan data pengukuran tersebut, dan memilih agar digampangin aja sehingga saf bisa sesuai dengan bentuk ruangan. Jadi nggak pake acara mengsong kiri, mengsong kanan. Tentunya pertimbangan saya bukan lantaran ketakutan jamaah shalat akan lebih sibuk nyanyi potong bebek angsa ketimbang ngaji bareng. Pertimbangan saya jauh lebih sederhana ketimbang alasan itu. Saya pikir dengan saf yang diatur mengsong bukan hanya mengganggu sirkulasi (karena bentuk ruangan dan posisi pintu), tapi juga -- alasan ini yang saya anggap paling penting-- dengan saf semacam itu akhirnya malah mengurangi jumlah jama'ah yang bisa ditampung. Gampangnya, kalau saf yang disesuaikan dengan bentuk ruangan bisa muat 8 orang per safnya, dengan saf yang mengsong akhirnya jadi cuma 5-6 orang. Karena di ujung saf jadi ada lahan yang nggak mungkin kepake, kecuali ada yang rela shalat sambil njeduk-njedukin kepalanya ke dinding. Tapi apa daya, pertimbangan saya ditolak oleh mayoritas anggota dalam DPM (dewan pengurus mushala). Bahkan ada seorang teman yang menyanggah dengan melontarkan argumen : "Kalau lu mentingin jumlah jama'ah, gimana kalo kita shalatnya sambil baris bediri aja. Sajadahnya nggak usah digelar tapi digantung di depan idung tiap orang kayak jemuran. Shalat nggak pake sujud & duduk, cukup njentul-njentulin idung aja ke sajadah yang melambai-lambai. Ruangan segini bisa masuk 50 orang." Saking briliannya itu usulan saya jadi nggak sanggup marah. Cuma masalahnya DPM nggak punya alokasi dana buat ngobatin varises, sehingga usulan itu rasanya agak-agak bahaya kalau direalisasikan. Jadi akhirnya pertentangan selesai dengan saya yang merasa waras memilih mengalah saja, dan mengikuti suara terbanyak. *** Tapi bertahun-tahun kemudian, pikiran soal nentuin kiblat ini masih sering juga iseng sliweran di kepala saya. Terutama kalau saya masuk & shalat di mushala-mushala kecil seperti di mall atau di perkantoran, dan menemukan pengaturan saf dan kiblat yang sejenis (mengsong gak ngikut bentuk ruangan) dengan yang terjadi di mushala kampus dulu. Pertanyaan yang muncul di benak saya selalu diawali dengan pertanyaan macem bocah : Sebenernya apa sih nilai kepentingan yang dikejar dalam nentuin kiblat ke suatu arah? Di sini, Islam awami saya lebih memilih nilai kepentingan yang logis dan sederhana. Saya duga, nentuin kiblat dalam satu ruangan (mushala/masjid) tujuannya tidak terlepas dari konteks keberjamaahan dalam shalat. Dalam bahasa yang gampang, dengan satu kiblat maka kita bisa njengking secara kompak. Nggak ada acara tungging-menungging, atau jeduk-jedukan kepala. Ribet banget kalau di satu gelaran shalat bareng, ada yang ke utara, selatan, barat, timur, timur laut, barat laut, tenggara, barat daya dan seterusnya. *ini mau shalat apa mau berlayar sih?* Kebersamaan ini yang sampai saat menulis ini tetap saya duga jadi esensi yang kudu diutamakan. Dan konsekuensi logisnya, kalau bisa bareng-bareng 20 orang akan jauh lebih baik daripada hanya dua belas setengah orang. *lho, yang setengah itu orang apa ... ...* *** Di sisi lain, saya juga punya pikiran iseng, bahwa sebenernya kalau kiblat itu mengarahkan diri ke arah ka'bah berada, maka di dunia yang bulat ini kita sejatinya akan selalu punya dua arah yang sama-sama mengarah ke kiblat. Misal dengan posisi kita di Indonesia, arah kiblat kita kurang lebih ke arah barat karena itu arah menuju ke mekkah/ka'bah. Tapi dengan kondisi bumi yang membulat, kalau kemudian kita balik badan 180 derajat, (berarti kurang lebih menghadap ke timur) dan berjalan kaki luruuuus terus... nantinya pasti nyampe juga ke ka'bah. *dengan catatan kudu sakti mandraguna bisa jalan di atas air, nembus gunung, nembus beton, dan... nggak apes dima'em ikan hiu*. Hanya saja jarak tempuh ke timur memang akan lebih jauh ketimbang ke barat. Awami saya nggak terlalu ngerti, tapi menduga pertimbangan jarak tempuh terdekat ini juga jadi parameter dalam menentukan ke mana arah kiblat. Tapi, andaikata pun dugaan itu benar. Untuk suatu tempat di muka bumi yang posisinya tegak lurus 180 derajat dengan ka'bah, nentuin kiblatnya bisa jadi sangat ribet. Kebayang nggak? Susah mbayangin? Gini... Gampangnya bayangin aja bola bumi yang bulat ini. Kemudian bayangin satu titik dipermukaannya dan sebut titik itu ka'bah. Lalu ambil sebatang paku yang lumayan panjangnya, dan tusukkan tegak lurus pada titik posisi ka'bah itu, sampai menembus ke permukaan bola bumi di seberangnya. Tempat yang menjadi titik tembus itu, kalau diukur secara matematis akan punya 360 kemungkinan arah (sesuai dengan 360 derajat dalam lingkaran), yang mana ke 360 nya akan punya jarak tempuh yang sama untuk mencapai ka'bah. Nah kalau ada 360 muslim lagi jongkok bareng-bareng di tempat itu, lalu tiba-tiba secara serempak dapet ilham pengen shalat, mereka bisa berantem sampe kiamat --cuma gara-gara ke 360 muslim tadi pegang derajat yang berbeda untuk nentuin arah kiblat--. See? Kasus luar binasa semacam diatas, buat saya jadi satu argumen penting, bahwa kalaulah ada urgensi yang sifatnya di luar urusan praktis semacam "kebersamaan dan keberjama'ahan" dalam hal menentukan arah kiblat, rasanya Tuhan dan Nabi punya persoalan penting yang kudu diselesaikan sama 360 orang tersebut. *** Terus terang soalan gini memang soalan yang sederhana. Yang mikirin juga cuma benak-benak iseng model saya. *am i alone? i don't think so*. Tapi saya juga bukan sekadar main lohis-lohissan, apalagi lohan- lohanan. Sayup - sayup ingatan saya melambai-lambai dan akhirnya sampai pada satu cerita yang pernah saya dengar. Alkisah ada seseorang yang hidup di jaman dulu. Entah sahabat, teman, kerabat, atau sodara, rekan sejawat, satu profesi, atau sekedar satu hobby, saya nggak ingat jelas. Yang saya ingat, ceritanya orang ini shalat di suatu tempat yang gelap gulita. Mungkin dia sebenernya bawa senter tapi rupanya lupa ngisi batere. Mungkin bawa korek, tapi lantaran takut ketahuan bininya kalau dia masih doyan ngerokok, akhirnya dia takut-takut juga untuk nyalain. Mungkin pula dia saat itu udah bawa HP yang udah dilengkapi GPS tapi malang nian baterenya juga ternyata soak. Sampe akhirnya dia nggak bisa melihat arah mana kiblat untuk shalat, dan nggak bisa bertanya sama siapa-siapa. Lalu nekatlah beliau ini, untuk shalat ke arah yang dia pikir itu arah kiblat. Habis shalat lalu gentor alias molor, dan baru terbangun saat matahari sudah menyinari wajahnya. Maka kagetlah kawan kita satu ini, gara-gara dia sadar arah shalatnya semalam itu ternyata ngaco berat. Maka seketemunya sama *yang tak perlu disebut namanya* -- *karena kalau cerita ini bukan hadist sahih gw jadi dosa *, dia pun bertanya, kurang lebihnya : sah nggak ya shalatnya? Hatinya semriwing menunggu jawaban yang keluar, tapi akhirnya sumringah gara-gara jawabannya ternyata santai aja : "sah aja kok...pan ente nggak nyaho.." *ini jawaban versi terjemahan bebas dan gaul, mohon maklum* Tapi kalimat berikutnya yang saya rasa perlu untuk diselidiki kesahihan dan (kalau sahih) perlu diyakini kebenarannya : "Kemana kau menghadapkan wajahmu, di sanalah wajah Allah" Sentaby, DBaonk ® 2007 Catatan : tulisan ini bisa dibaca online di http://dbaonk.multiply.com/journal/item/57 & rate tulisan ini di http://www.apakabar.ws/ index.php?option=com_content&task=view&id=1024&Itemid=88888889 __________ NOD32 2311 (20070606) Information __________ This message was checked by NOD32 antivirus system. http://www.eset.com
