Dalam sekali makna pesan: "Do some research before blaming others ..."
Setuju, mari kita berpikir secara jernih, tetapi tanggalkan jubah prasangka. Yang disebut research itu bukan cuma dari sumber media saja, yang sering kali menggiring pemberitaan menjadi "trial by the press". Pelajari riwayat (sengketa) lahan tersebut, sejarah kekerasan dan tindakan anarkhi warga sebelumnya. Apakah pernah dipertanyakan hal-hal sbb: 1. Bagaimana ceritanya, media atau pihak mana pun yang mengambil rekaman gambar, bisa berada dilokasi pada saat kejadian; yang lokasinya 4 jam perjalanan dari Surabaya, masih masuk lagi beberapa kilo ke Grati Alastlogo. 2. Mengapa hanya gambar-gambar korban saja yang ditunjukan, ketimbang ; tayangkan penembakan "sadis" Marinir, yang jauh lebih hot? 3. Mungkinkah ada pihak-pihak yang memang sudah berencana menyelenggarakan acara insiden bentrokan berdarah ini? Selanjutnya, tanggapan saya dibawah. Sociopathos Limited (SL) wrote: Bung, yang namanya clurit versus bedil itu dalam kasus ini adalah kasat mata. YHG: Mata katarak 'kali ye ..... koq analoginya simplistik begitu? Tanya ... tanya ... berapa ratus warga yang mengepung Marinir, berapa banyak pacul, clurit, dan batu yang dihadapkan 11 pucuk SS-1 Dari hasil temuan ada 35 selosong peluru yang berarti rata-rata hanya, Polisi Militer AL (POMAL) Surabaya telah menyita 13 senjata; 11 senjata serbu SS1 dan 2 pistol. Kalau 11 anggota menembakan senjata otomatis SS1-nya, maka seorang telah menembakan 3 peluru. Kalau 7 anggota menembak, maka seorang telah menembakan 5 peluru. (senjata SS-1 dilengkapi tombol pengatur tembakan; single shot, 3 peluru sekali tarik dan tarikan otomatis.) Asumsi kesimpulan: Rasio jumlah selongsong berbanding dengan jumlah senjata SS1, maka peluru yang ditembakan adalah minim. Juga, "katanya-katanya", bahwa para anggota Marinir telah menembak kearah kerumunan massa. Kalau berita ini benar; maka 35 peluru ditembakan dari jarak (relatif) dekat kearah kerumunan massa, seharusnya memakan korban tembak yang jauh lebih besar; puluhan, mengingat satu peluru bisa menembus orang dibelakang atau disebelahnya. Jangan lupa bahwa tembakan dengan assault rifle, kearah kaki saja membuat tulang patah dan kalau kearah depan badan, dia akan jebol dibelakang dan nembus kesasaran dibelakang. Bagaimana kondisi luka-luka warga, mari kita tunggu hasil pemeriksaan otopsi dan visumnya. ------------------------ SL: 1. Kalau bukan daerah operasi militer, tak boleh tentara sembarang ledakkan bedilnya. Etika menembak tentara tidak sama dengan polisi, Bung. YHG: Itu teori dalam kondisi ketika sedang ngopi-ngopi di Coffee Bean Plaza Senayan. Sudah lupa ya kejadian di Papua, ketika Polisi dilempari batu sampai mati, asli yang namanya "stoned to death"! Marinir menghadapi ancaman nyawa koq bicara etika sih??? ----------------------- SL: 2. Clurit dibawa (katanya) saat penduduk yang sedang bekerja babat rumput untuk makanan sapi itu lewat, yang membantu sesama penduduk versus tentara yang punya bedil. Mau kepepet atau tidak, yang mati itu ada ibu hamil dan anak balita loh, bukan yang bawa clurit! YHG: Katanya ........ katanya ......... Disinilah pesan Anda kembali menjadi relevan; "Do some research before blaming others !" Tewasnya Ibu hamil dan tertembaknya anak tersebut adalah suatu petaka yang amat tragis. Saat tertembak si Ibu berada dibalik pintu. Jangankan anggota Marinir biasa, seorang sniper ulung pun tidak akan mampu menembak sasaran dibalik sekat, apalagi tepat dikepala. Statement "Mau kepepet atau tidak, yang mati itu ada ibu hamil dan anak balita loh, bukan yang bawa clurit!" Jangan masalah hukum pidana dipolitisir dong! ------------------------ SL: Mau rasis atau tidak, Bung Paulus, jangan lupakan bahwa tanah sengketa itu sedang disewakan oleh Marinir ke pihak swasta (mungkin dari Jakarta atau Surabaya) untuk hal lain. Padahal rakyat sudah garap tanah itu puluhan tahun sebelum perusahaan swasta itu masuk. YHG: Mau disewakan atau diapakan tanah sah milik TNI-AL, bukan alasan pembenaran bahwa rakyat boleh menjarah. 1. Yang membuat kerjasama dengan pihak swasta adalah TNI-AL, melalui Induk Koperasi Angkatan Laut (Inkopal), jadi bukan Marinir, tolong dikoreksi ! 2. Apakah penyewaan lahan kepada swasta itu menyalahi atau tidak, itu adalah kewenangan pemerintah atau peradilan yang memutuskan. 3. Rakyat sudah menggarap puluhan tahun darimanan? Tolong tunjukan bahan pendukungnya. Awalnya cuma 240 KK penduduk disana, setelah konflik etnis di Kalbar, pengungsi Madura datang menetap disana, yang sekarang berkembang menjadi 5,000 KK. Ini bukan masalah rasis, tetapi sengketa tanah dengan warga pendatang, yang dikompori untuk menguasai lahan, oleh calo dan spekulan tanah. ------------------------ SL: Dengan kata lain, oknum Marinir yang nembak itu BUKAN atas perintah komandan yang punya etika dan filosofi seorang tentara: MENJAGA DAN MELINDUNGI BANGSA DAN NEGARA DARI ANCAMAN BANGSA LAIN. Halah, ini kok malah nembakin bangsa sendiri? YHG: Wong proses pemeriksaan masih berlangsung, koq sudah disimpulkan "Dengan kata lain"? Pelanggaran azas Praduga Tak bersalah terjadi, ketika mendahului hasil pemeriksaan, khususnya membuat kesimpulan yang sifatnya menvonis? Adalah kewenangan Pengadilan yang memutuskan apakah insiden penembakan itu jatuh pada: Pasal 48 KUHP tentang Daya Paksa (overmacht) Pasal 49 KUHP tentang Pembelaan Terpaksa (noodweerexcess) Pasal 351 KUHP ayat 3 tentang Penganiayaan Berat Menyebabkan Kematian Pasal 359 KUHP tentang Tindakan Lalai Yang Menyebabkan Hilangnya Nyawa Seseorang. Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan (Biasa). Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana Lagi pula kalau Marinir benar berniat untuk membunuh warga, mereka akan menyusup dimalam hari, sarungan, bersenjatakan sangkur, golok dan clurit. --------------------------- SL: Mari Bung kita berpikir jernih dalam keadaan ini. 1. Do some research before blaming others, nonton dialog di Metro TV juga riset kok (first-second-third person source bisa dipilih) 2. Strategi standar: alihkan fokus orang dari masalah sesungguhnya dengan memperkeruh suasana, lalu orang bingung atau lupa mau hujat siapa... Ruhut paling jago soal adu domba macam beginian, makanya dia lempar ke etnis itu. YHG: Rupanya Anda kurang nyaman, ketika mulai terungkap fakta-fakta baru versus arus berita sebelumnya hanya dikuasai oleh pihak tertentu, yang punya kepentingan atas sengkata lahan tersebut. Intinya disini bukanlah persoalan etnis tetapi adalah program "Landreform" yang mengedepankan rakyat sebagi tumbal, jangan dijadikan SARA Sengketa tanah dan bentrokan penduduk bukan di Grati Alastlogo - Pasuruan saja, tetapi penguasaan dan penjarahan lahan sudah terjadi diberbagai daerah, yang melibatkan etnis/penduduk setempat, tapi semua polanya mirip terprogram semua. ------------------------- 3. Bottom line, selalu rakyat yang lemah yang harus dilindungi. Ini adalah esensi sebuah kebijakan publik (yang mungkin tak pernah diajarkan oleh Marinir untuk kadetnya, yang semuanya pada makan tidur pakai uang rakyat APBN bo'). Peace! Indra YHG: Astaga masih saja jualan nama rakyat, akhirnya bukan rakyat juga yang menikmati lahan tersebut. Kalau anggota Marinir terbukti bersalah, mereka harus dihukum setimpal sesuai hukum yang berlaku. Tapi jangan dipolitisir, jangan digeser menjadi urusan SARA, atau dibarter dengan "landreform" mengatas namakan rakyat. Wassalam, yhg. ----------------
